Rutinitas Mbah Marto setiap
hari mengambil rosok dengan sepeda yang sudah reot, sepeda tua, sering rusak
dan penuh tambal di sisi-sisi bannya. Dan dalam satu keluarga hanya ada satu
sepeda. Mengayuh sepeda dari pagi sampai dengan sore mencari barang-barang
bekas di perumahan-perumahan, sedikit demi sedikit barang yang masih laku
dijual dikumpulkan. Memang kalau difikir ulang, dengan kondisi fisik yang sudah
tua dan dengan tenaga yang sudah tidak sekuat masa muda, kemampuan Mbah Marto
untuk mencari nafkah tidaklah seberapa banyak. Selembar dua lembar kardus
ataupun kaleng bekas yang dijual hanya cukup untuk membeli makan tiap hari.
Kemampuan Mbah Marto Wiyono
yang tak pantang menyerah dengan kondisi ekonomi keluarganya, patut kita
jadikan sebagai referensi pengobar semangat usaha. Belum lagi Mbah Marto dan
istri juga merawat seorang cucu yang masih berusia 3,5 tahun. Kebutuhan beliau
semakin banyak tentunya. Susu setiap hari dan kebutuhan hidup yang semakin
banyak justru menambah semangat Mbah Marto untuk mengayuh sepedanya lebih kuat
dan lama lagi. Subhanallah, kita saja yang setiap hari menaiki motor atau mobil
mungkin tidak memiliki semangat usaha yang sedemikian.
Pada kesempatan ini, LMI
Madiun bisa membantu Mbah Marto memiliki sepeda yang lebih layak untuk bekerja
dan melakukan aktifitas lain dengan lebih mudah. Insyaallah akan membawa
manfaat.