Laman

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Lailatul Qadar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lailatul Qadar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2022

10 Amalan Sunnah dalam Berpuasa

 

Walau tak sampai merusak keabsahan ibadah bila dilewatkan, amalan-amalan sunnah dalam ibadah apa pun tidak boleh diabaikan, demi keutamaan dan kesempurnaan ibadah tersebut. Demikian halnya dengan amalan-amalan sunnah dalam ibadah puasa.

Kaitan dengan ini, Syekh Muhammad ibn ‘Umar Nawawi al-Bantani (w. 1316) telah merincinya kepada kita semua.  Dalam kitab Nihâyah al-Zain fî Irsyâd al-Mubtadi’in (Darul Fikr, Beirut, Cetakan I, h. 194), ia menulis ada 10 amalan sunnah yang harus kita pelihara saat berpuasa.

Pertama, makan sahur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bersantap sahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada keberkahan,” (HR al-Bukhari).  Aktivitas sahur sendiri tercapai dengan menyantap sesuatu walaupun hanya sedikit atau hanya seteguk air.

Waktunya adalah selepas tengah malam. Utamanya, ia diakhirkan selama tidak sampai masuk waktu yang diragukan: apakah masih malam atau sudah terbit fajar. Dalam hadis lain, Rasulullah menandaskan, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka,” (HR Ahmad). 

Kedua, menyegerakan berbuka sebelum shalat maghrib. Namun, itu tentu dilakukan setelah yakin masuk waktu maghrib, berdasarkan hadis di atas. Saat pertama berbuka, sunnahnya dilakukan dengan kurma. Jika tidak ada, hendaknya dengan air, berdasarkan sabda Rasulullah, “Jika salah seorang berpuasa, hendaknya ia berbuka dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka dengan air. Sebab, air itu menyucikan,” (HR Abu Dawud).  

Urutan sebaiknya, pertama dengan kurma basah (ruthab) jika ada. Jika tidak, maka dengan kurma kering (tamar). Jika tidak, maka dengan air. Sebab, sebuah riwayat menyebutkan, sebelum shalat maghrib, Rasulullah saw. selalu berbuka dengan kurma basah. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan air putih. Bagaimana seandainya tidak ada kurma dan air, yang ada misalnya madu dan susu, maka dahulukanlah madu walaupun sama-sama manis. 

Ketiga, membaca doa yang ma‘tsur sebelum, “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, hanya kepada-Mu aku bertawakal. Sungguh, rasa haus sudah sirna, urat-urat sudah basah, dan balasan sudah tetap, insya Allah. Wahai Dzat yang maha luas karunia-Nya, ampunilah aku. Segala puji hanya milik Allah Dzat yang telah memberiku petunjuk, hingga aku kuat berpuasa. Lalu Dia memberiku rezeki, hingga aku bisa berbuka.”  

Atau dengan doa yang lebih pendek dan masyhur, “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, berkat rahmat-Mu, wahai Dzat yang maha penyayang di antara para penyayang.”

Keempat, mandi besar dari junub, haid, atau nifas sebelum terbit fajar agar bisa menuanikan ibadah dalam keadaan suci, di samping khawatir masuk air ke mulut, telinga, anus, dan sebagainya jika mandi setelah fajar. Kendati tidak bersedia mandi seluruh tubuh sebelum fajar, hendaknya mencuci bagian-bagian tersebut (yang sekiranya rawan masuk air) disertai dengan niat mandi besar.  

Kelima, menahan lisan dari perkara-perkara yang tak berguna, apalagi perkara haram, seperti berbohong dan mengumpat. Sebab, semuanya akan menggugurkan pahala puasa. 

Keenam, menahan diri dari segala hal yang tak sejalan dengan hikmah puasa, meskipun itu tidak sampai membatalkan, seperti berlebihan dalam mengadakan makanan atau minuman, bersenang-senang dengan perkara-perkara yang sejalan dengan keinginan dan kepuasan nafsu, baik yang didengar (seperti musik), ditonton, disentuh, diraba, dicium, dan sebagainya. Sebab semua itu tak seiring dengan hikmah dari ibadah puasa.  

Ketujuh, memperbanyak sedekah, baik kepada keluarga, kaum kerabat, maupun tetangga. Berilah mereka makanan secukupnya. Kendati tidak ada, jangan sampai luput walau hanya seteguk air atau sebiji kurma, berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang memberi makanan berbuka kepada seorang yang berpuasa, maka dicatat baginya pahala seperti orang puasa itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa tersebut,” (HR Ahmad).  

Selain itu, juga sebaiknya memperbanyak baca Al-Quran, belajar Al-Quran, menuntut ilmu, berdzikir, berbuat baik di mana pun, walaupun saat berada di jalan. Dasarnya adalah Rasulullah saw. selalu memeriksa hapalan Al-Quran-nya kepada malaikat Jibril setiap malam di bulan Ramadhan.

Kedelapan, memperbanyak i'tikaf di masjid. Sebaiknya dilakukan sebulan penuh. Jika tidak, sepuluh malam terakhir diutamakan. Sebab, jika memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah saw. selalu menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggang sebagai bentuk kesiapan menjalankan ibadah. 

Kesembilan, mengkhatamkan Al-Quran setidaknya sekali selama bulan Ramadan. Maksimalnya tentu sebanyak-banyaknya, seperti para ulama terdahulu. Bahkan, setiap bulan Ramadhan, Imam al-Syafi‘i mengkhatamkannya hingga 60 kali. 

Kesepuluh, istiqamah dalam menjalankan amaliah Ramadhan dan melanjutkan amaliah-amaliah tersebut di bulan-bulan berikutnya.



Sumber: 
https://islam.nu.or.id/ramadhan/10-amalan-sunnah-dalam-berpuasa-78EeB


Jumat, 11 Maret 2022

Persiapan Menjemput Lailatul Qadar


 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” (QS. Al-Qadr: 1)

• Allah meletakkan lailatul qadar di bagian akhir ramadhan agar hari-hari sebelumnya menjadi “persiapan” dan “pengkondisian” untuk menjemput kebaikan, rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga besarnya. Semoga ruhiyah kita telah melakukan “mi’raj” (perjalanan spiritual) menuju Allah hingga saat lailatul qadar hadir ruhiyah kita telah berada dalam kondisi dekat dengan Allah lalu mampu mengisi lailatul qadar dengan ibadah-ibadah terbaik dengan ikhlas, penuh semangat dan jernih hati.

• Sedemikian besar rahmat Allah dalam lailatul qadar ini hingga kita layak melakukan persiapan jiwa dan pengkondisian untuk mendapatkannya. Karena kesiapan jiwa akan mengalahkan berbagai hambatan fisik, alasan kesibukan dan kemalasan.

• Kesiapan jiwa bisa dilakukan diantaranya dengan beberapa hal berikut:

• Pertama: Berdoa kepada Allah agar mempertemukan kita dengan lailatul qadar, dengan beberapa doa berikut (sebagai upaya yang bisa dilakukan):

اللهم بلغنا ليلة القدر و اكتبنا ممن شهد ليلة القدر

“Ya Allah sampaikan kami hingga bertemu lailatul qadar dan catatlah kami termasuk orang yang mendapat lailatul qadar”.

• Doa ini untuk mengkondisikan jiwa agar lailatul qadar menjadi moment yang dinantikan dan diharap kedatangannya.

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik”.

• Melaui doa ini kita memohon pertolongan Allah agar bisa mendapatkan lailatul qadar dan mampu mengisinya dengan ibadah yang terbaik. Tanpa pertolongan Allah tidak ada sesuatu pun kebaikan yang bisa kita lakukan.

• Dalam riwayat lain disebutkan bahwa doa ini menunjukkan keseriusan kita dalam berdoa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنْ تَجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ قُولُوا اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Apakah kalian senang untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa, ucapkanlah: “Ya Allah bantulah kami untuk bersyukur kepada-Mu dan berdzikir kepada-Mu serta beribadah yang baik kepada-Mu”. (Musnad Ahmad 7641)

رَّبِّ  اَنْزِلْنِيْ  مُنْزَلًا  مُّبٰـرَكًا  وَّاَنْتَ  خَيْرُ  الْمُنْزِلِيْنَ

“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.” (QS. Al-Mu’minun: 29)

• Melalui doa ini kita berharap Allah menempatkan kita berada di tempat dan waktu yang berkah hingga memungkinkan kita mendapatkan lailatul qadar, khususnya di saat pandemi ini. Sekalipun hanya bisa beri’tikaf di masjid rumah tetapi Allah tetap memberikan pahala ibadah lailatul qadar seutuhnya.

• Kedua: Mengagungkan lailatul qadar di dalam hati. Firman Allah:

ذٰلِكَ  وَمَنْ  يُّعَظِّمْ  شَعَآئِرَ  اللّٰهِ  فَاِ نَّهَا  مِنْ  تَقْوَى  الْقُلُوْبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

• Lailatul qadar tidak sama dengan malam-malam biasa, tetapi malam istimewa yang dipilih Allah menjadi malam terbaik diantara semua malam yang diciptakan Allah sepanjang zaman. Bahkan malam ini dihadiri seluruh malaikat Allah hingga tidak ada tempat kosong di bumi kecuali diisi oleh malaikat-malaikat itu.

• Karena itu, kita harus mengagungkan malam tersebut, karena ia termasuk syi’ar Allah. Sebelum mengagungkannya dengan tilawah al-Quran, taubat, istighfar, dzikir, doa, shalat dan munajat, kita harus mengagungkannya terlebih dahulu di dalam hati dengan mengimani berbagai keutamaannya dan mengharap keberkahan dan kebaikannya. Juga merasa rugi besar jika tidak mendapatkannya.

• Mengagungkannya di dalam hati bisa dilakukan misalnya dengan membaca surat al-Qadar di setiap rakaat shalat wajib atau sunah agar kita hidup bersama makna-makna dan suasana surat tersebut. Dengan cara seperti ini semoga hati kita sangat mengagungkan lailatul qadar dan termotivasi dengan kuat untuk mendapatkannya.

• Semoga dengan upaya dan doa ini Allah berkenan mencatat kita termasuk orang yang mendapat pahala lailatul qadar dan kebaikannya, sekalipun mungkin Allah menakdirkan kematian sebelum lailatul qadar tiba.


Sumber : https://tanyasyariah.com/artikel/persiapan-menjemput-lailatur-qodar/



Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com