Sebagai pendatang di daerah Jawa Timur, saya
tidak merasakan sesuatu ketika ada yang mengucapkan kata “dancuk”, “jancuk” dan
semacamnya kecuali dari emosi yang terpancar dari mereka yang sedang
mengucapkan kata itu. Jadi kalau saya mendengar orang mengatakan kata-kata ini, saya tidak merasakan sebagai umpatan
Beberapa hari lalu ada kejadian di kantor
yang saya tidak tahu persis kejadiannya. Kebetulan saya sedang fokus pada monitor
laptop karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kejadian bermula ketika
teman saya mendekati teman yang lain, ngomong sebentar. Tak lama teman yang
satu meninggalkan yang satunya sambil berkata "dancuk", bersamaan dengan itu ibu-ibu komentar, “eeee...
kok ngomong dancuk barang. ora entuk misuh-misuh!”
“mbok karo konco ki orasah misuh-misuh”
“aku kan mung ngomong kata-kata sing ora ono
artine” bela teman yang mengucap tadi.
“ora ono artine piye, iku pisuhan tetep ora entuk”
Mendadak saya jadi penasaran dengan kata “dancuk”
ini. Layar laptop saya segera berpindah ke search engine... dengan keyword “arti
kata dancuk”... saya menemukan banyak link. Berikut 3 link teratas.
********
di link ini tertulis : * Sebelumnya mohon maaf yah… tiada maksud lain
selain hanya ingin menjelaskan dan memberitahukan tentang makna sesungguhnya *
Jancuk..
Ini makian asli khas Suroboyo. Tapi, makian ini
kini sudah merambah ke jurusan Barat dari Jawa Timur. Misalnya, kawasan Barat,
sekitar Madiun, Ponorogo, dan bahkan sudah mulai masuk Solo, Yogya, bahkan
Bandung tempat saya kuliah. Makian ini semakin banyak didengar. Hal ini seiring
dengan makin mobilitasnya komunitas Arek Suroboyo ke seluruh daerah.
Jancuk memang memiliki penggal kata, kalau
tak boleh disebut sebagai suku kata. Awal pembentuk makian ini, yaitu ‘cuk’.
Suku kata ‘cuk’ ini dengan mudah bisa kita cari sumbernya, yaitu kata ‘encuk’,
yang artinya *maaf* persetubuhan, seperti ‘fuck’. Kata ‘encuk’ jelas masih
dianggap porno kalau diungkapkan di kelompok orang yang masih rada risih.
Akibatnya, mereka yang suka memaki ‘jancuk’ dikategorikan sebagai orang-orang
kelas bawah.
*********
Di link ini Anda bisa membaca kutipan berikut : jancuk,diancuk,jancok adalah sebuah kata khas
surabaya yang telah banyak tersebar luas hingga ke daerah luar kulonan bahkan
luar kota dan pulau. warga jawa timur seperti malang dan lainnya turut andil
dalam penyebaran kata ini. jancuk berasal dari kata "encuk" yang
artinya ngencuk atau bersetubuh atau fuck dalam bahasa inggris. berasal dari
frase "di-encuk" menjadi diancok, lalu dancok, hingga akhirnya
jancok. ada banyak farian kata jancok, semisal diancok, duancuk, damput, dampot,
mbokne ancok (mother fucker), jangkrek, jambu, jamput dll adalah salah satu kata
yang lebih halus dari pada jancuk.
Makna asli kata tersebut sesuai dari asal katanya, yakni di-encuk, lebih mengarah ke kata kotor bila kita melihatnya secara umum. Normalnya kata tersebut di pa pakai untuk sebuah umpatan di emosi yang meledak, marah atau membenci seseorang.
**********
Di link ini Anda bisa membaca kutipan berikut :Jancok, Dancok, atau disingkat
menjadi Cok (juga ditulis Jancuk atau Cuk, Ancok
atau Ancuk) adalah sebuah kata yang menjadi ciri khas komunitas
masyarakat di Jawa Timur, terutama Malang dan Surabaya.
Meskipun memiliki konotasi buruk, kata jancok menjadi kebanggaan serta
dijadikan simbol identitas bagi komunitas penggunanya, bahkan digunakan sebagai
kata
sapaan untuk memanggil di antara teman. [1]
Istilah ini juga populer digunakan oleh masyarakat Sumpiuh
yang menggunakan dialek Bahasa Jawa Sumpiuh.[butuh rujukan]
Normalnya, kata tersebut digunakan sebagai
umpatan pada saat emosi meledak, marah, atau untuk membenci dan mengumpat
seseorang. Namun, sejalan dengan perkembangan pemakaian kata tersebut, makna
kata jancok meluas hingga menjadi simbol keakraban dan persahabatan khas di
kalangan sebagian arek-arek Suroboyo
**********
Secara umum kata ini memang
digunakan sebagai umpatan, makian dan sumpah serapah di kalangan masyarakat
jawa timuran yang sedang emosi. Meski demikian penggalan “Cok” atau “cuk” di kalangan masyarakat
tertentu mungkin menjadi sapaan akrab yang sifatnya internal sebagaimana
lazimnya kita menggunakan kata “bro”... atau “nda” di daerah solo-jogja dan
sekitarnya. Hanya saja, untuk kalangan masyarakat luas masih terasa risih dengan istilah "cok" atau "cuk" jika digunakan sebagai panggilan akrab.
Dalam Islam, apapun yang terjadi
pada seorang muslim dilarang sampai mengeluarkan kata-kata kotor apalagi sampai
mengumpat orang lain. Dalam Al Quran Jelas
disebutkan, "Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya."
(al-Hujurat: 12). Larangan ini jelas bagi seorang muslim, dimana berdosa dan
dianggap melanggar ketentuan agama jika seorang muslim sampai mengumpat orang
lain.
Dari sisi sosial orang-orang yang
memiliki kebiasaan mengumpat memiliki posisi yang rendah dalam kehidupan
pergaulan sehari-hari, meskipun diterima sebagai anggota masyarakat dan mungkin
memiliki pengaruh kuat, tapi dari hati yang dalam dan tertanam dalam benak yang
lainnya, bahwa orang tersebut memiliki akhlaq yang tidak pantas dan memiliki
kedudukan yang rendah dari sisi moral.
Mari kita jauhkan diri dan keluarga kita dari makian, umpatan dan sumpah serapah. wallahu a'lam bishshawab.
Mari kita jauhkan diri dan keluarga kita dari makian, umpatan dan sumpah serapah. wallahu a'lam bishshawab.
Madiun, 07:30, 05-09-2014