Selamat
Siang Donatur Lembaga Manajemen Infaq....
Allah menjadikan kematian dan kehidupan sebagai ujian bagi manusia siapakah yang lebih baik amal perbuatannya. Bagi hamba Allah, hidup adalah ujian, dan matipun ujian. Manusia lebih banyak menganggap kematianlah yang menjadi ujian dan kehidupan sebagai realita yang dijalani dan tidak banyak yang merasakannya sebagai ujian
Allah menjadikan kematian dan kehidupan sebagai ujian bagi manusia siapakah yang lebih baik amal perbuatannya. Bagi hamba Allah, hidup adalah ujian, dan matipun ujian. Manusia lebih banyak menganggap kematianlah yang menjadi ujian dan kehidupan sebagai realita yang dijalani dan tidak banyak yang merasakannya sebagai ujian
Ujian
kematian berlaku bagi mereka yang mati dan mereka yang hidup. Ujian kematian
bagi yang mati adalah bagaimana mereka menghadapi kematian. Sakaratul Maut
adalah sebuah ujian keimanan yang sangat berat, bahkan Rasulullahpun merasakan
beratnya sakaratul Maut
"Tatkala
kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: "Alangkah berat
penderitaanmu ayahku". Beliau menjawab: "Tidak ada penderitaan atas
ayahmu setelah hari ini…[al hadits]
Dan
penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk.
Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: "Setiap jiwa akan merasakan
mati". (Ali 'Imran: 185). Dan sabda Nabi: "Sesungguhnya kematian ada
kepedihannya". Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda. Orang
beriman akan mengalami kematian yang lebih ringan karena keimanannya.
Setiap
orang akan mengalami saat-saat yang berat menjelang kematian dengan penyebab
kematian yang berbeda. Pernahkah Anda merasakan bagaimana Anda tenggelam
terbawa arus deras, tak mampu muncul ke permukaan, setiap tarikan napas hanya
air memenuhi rongga paru-paru, meronta tak melepaskan derita, teriakan tanpa
suara, kepanikan semakin bertambah dan Anda berakhir dengan diam. Adakah kita
mengingat Allah saat kepanikan itu datang bertubi-tubi? Sebab kematian yang
lain masih banyak tak terbilang.
Di
situlah ujian-ujian kematian akan berdatangan dan bermunculan tak kunjung habis
hingga napas terakhir.
Ujian
kematian yang menimpa mereka yang ditinggalkan berbeda lagi, rasa kehilangan,
rasa ditinggalkan, terampas hak-hak keluarga. Tak banyak yang lulus ujian
dengan bersabar pada detik pertama kematian kerabatnya. Tak banyak yang punya
rasa ridha dengan kembalinya orang-orang tercinta. Jika tidak lulus pada detik per
tama kematian, sungguh hanya kerugian yang dialami manusia. Kehilangan orang
tercinta adalah musibah, tidak ridha atas kehilangan itu adalah tambahan musibah.
Bersabar yaitu ikhlas dalam menghadapi musibah dan mampu mengendalikan diri pada pukulan yang pertama, yaitu ketika pertama kali musibah datang. Karena sesungguhnya kesabaran itu pada pukulan yang pertama.
Bersabar yaitu ikhlas dalam menghadapi musibah dan mampu mengendalikan diri pada pukulan yang pertama, yaitu ketika pertama kali musibah datang. Karena sesungguhnya kesabaran itu pada pukulan yang pertama.
Ujian
bagi yang hidup adalah bagaimana menjadikan kehidupannya sebagai ladang
mempersiapkan diri untuk kehidupan akherat. Ujian duniawi berupa harta tahta
dan wanita adalah ujian kehidupan. Poros aktivitas kehidupan di dunia
sebenarnya pada hati yang menyadari bahwa kehidupan dunia adalah ladang untuk
mempersiapkan kehidupan akherat.
Pertanyaannya
sekarang adalah seberapa besar porsi waktu kehidupan kita untuk persiapan hidup
akherat? Sudahkah kehidupan duniawi menjadikan kita lupa persiapan ukhrawi
kita? Sudahkah ruh kehidupan akherat ada dalam setiap aktifitas hidup kita? Apakah
kita merasa sudah siap dengan datangnya kematian hari ini, adakah kita sudah
merasa cukup dengan segala amal kebaikan kita. Sudahkah kemaksiatan yang
merupakan representasi cermin neraka sudah kita hitung?
Sungguh
kehidupan akherat bias kita lihat dari aktifitas kehidupan kita di dunia dengan
berhitung kebaikan dan keburukan yang kita perbuat, dilihat dari keikhlasan
yang kita bangun, kita bias melihat dari berapa banyak dzikir-dzikir yang
menghiasi kehidupan kita sekarang.
Pembaca
budiman, marilah kita bersama-sama menjadikan dunia yang kita jalani ini
sebagai lading akherat, sebagai representasi kehidupan akherat, sebagai cermin
syurga dan neraka tempat mana kita akan kembali.
Kehidupan dunia bisa menjadi cermin kehidupan akherat. Berapa persen hidup di dunia untuk persiapan akherat, sebesar prosentase itulah kemungkinan kita akan masuk syurga....
Kehidupan dunia bisa menjadi cermin kehidupan akherat. Berapa persen hidup di dunia untuk persiapan akherat, sebesar prosentase itulah kemungkinan kita akan masuk syurga....
Catatan
:
Jika
allah menghendaki, orang yang bermaksiat sepanjang hidupnya akan masuk kedalam
syurga, dan sebaliknya.
Dari Abu
Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang
yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya
di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah
menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging
selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu
ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara :
menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi
Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang
melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal
sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan
ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian
ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka
tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan
perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.
Madiun,
15092014
Image : http://cahayawahyu.wordpress.com/2012/07/28/wanita-itu-mudah-masuk-surga-namun-ramai-pula-di-neraka/
Image : http://cahayawahyu.wordpress.com/2012/07/28/wanita-itu-mudah-masuk-surga-namun-ramai-pula-di-neraka/