Laman

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2022

10 Amalan Sunnah dalam Berpuasa

 

Walau tak sampai merusak keabsahan ibadah bila dilewatkan, amalan-amalan sunnah dalam ibadah apa pun tidak boleh diabaikan, demi keutamaan dan kesempurnaan ibadah tersebut. Demikian halnya dengan amalan-amalan sunnah dalam ibadah puasa.

Kaitan dengan ini, Syekh Muhammad ibn ‘Umar Nawawi al-Bantani (w. 1316) telah merincinya kepada kita semua.  Dalam kitab Nihâyah al-Zain fî Irsyâd al-Mubtadi’in (Darul Fikr, Beirut, Cetakan I, h. 194), ia menulis ada 10 amalan sunnah yang harus kita pelihara saat berpuasa.

Pertama, makan sahur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bersantap sahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada keberkahan,” (HR al-Bukhari).  Aktivitas sahur sendiri tercapai dengan menyantap sesuatu walaupun hanya sedikit atau hanya seteguk air.

Waktunya adalah selepas tengah malam. Utamanya, ia diakhirkan selama tidak sampai masuk waktu yang diragukan: apakah masih malam atau sudah terbit fajar. Dalam hadis lain, Rasulullah menandaskan, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka,” (HR Ahmad). 

Kedua, menyegerakan berbuka sebelum shalat maghrib. Namun, itu tentu dilakukan setelah yakin masuk waktu maghrib, berdasarkan hadis di atas. Saat pertama berbuka, sunnahnya dilakukan dengan kurma. Jika tidak ada, hendaknya dengan air, berdasarkan sabda Rasulullah, “Jika salah seorang berpuasa, hendaknya ia berbuka dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka dengan air. Sebab, air itu menyucikan,” (HR Abu Dawud).  

Urutan sebaiknya, pertama dengan kurma basah (ruthab) jika ada. Jika tidak, maka dengan kurma kering (tamar). Jika tidak, maka dengan air. Sebab, sebuah riwayat menyebutkan, sebelum shalat maghrib, Rasulullah saw. selalu berbuka dengan kurma basah. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan air putih. Bagaimana seandainya tidak ada kurma dan air, yang ada misalnya madu dan susu, maka dahulukanlah madu walaupun sama-sama manis. 

Ketiga, membaca doa yang ma‘tsur sebelum, “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, hanya kepada-Mu aku bertawakal. Sungguh, rasa haus sudah sirna, urat-urat sudah basah, dan balasan sudah tetap, insya Allah. Wahai Dzat yang maha luas karunia-Nya, ampunilah aku. Segala puji hanya milik Allah Dzat yang telah memberiku petunjuk, hingga aku kuat berpuasa. Lalu Dia memberiku rezeki, hingga aku bisa berbuka.”  

Atau dengan doa yang lebih pendek dan masyhur, “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, berkat rahmat-Mu, wahai Dzat yang maha penyayang di antara para penyayang.”

Keempat, mandi besar dari junub, haid, atau nifas sebelum terbit fajar agar bisa menuanikan ibadah dalam keadaan suci, di samping khawatir masuk air ke mulut, telinga, anus, dan sebagainya jika mandi setelah fajar. Kendati tidak bersedia mandi seluruh tubuh sebelum fajar, hendaknya mencuci bagian-bagian tersebut (yang sekiranya rawan masuk air) disertai dengan niat mandi besar.  

Kelima, menahan lisan dari perkara-perkara yang tak berguna, apalagi perkara haram, seperti berbohong dan mengumpat. Sebab, semuanya akan menggugurkan pahala puasa. 

Keenam, menahan diri dari segala hal yang tak sejalan dengan hikmah puasa, meskipun itu tidak sampai membatalkan, seperti berlebihan dalam mengadakan makanan atau minuman, bersenang-senang dengan perkara-perkara yang sejalan dengan keinginan dan kepuasan nafsu, baik yang didengar (seperti musik), ditonton, disentuh, diraba, dicium, dan sebagainya. Sebab semua itu tak seiring dengan hikmah dari ibadah puasa.  

Ketujuh, memperbanyak sedekah, baik kepada keluarga, kaum kerabat, maupun tetangga. Berilah mereka makanan secukupnya. Kendati tidak ada, jangan sampai luput walau hanya seteguk air atau sebiji kurma, berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang memberi makanan berbuka kepada seorang yang berpuasa, maka dicatat baginya pahala seperti orang puasa itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa tersebut,” (HR Ahmad).  

Selain itu, juga sebaiknya memperbanyak baca Al-Quran, belajar Al-Quran, menuntut ilmu, berdzikir, berbuat baik di mana pun, walaupun saat berada di jalan. Dasarnya adalah Rasulullah saw. selalu memeriksa hapalan Al-Quran-nya kepada malaikat Jibril setiap malam di bulan Ramadhan.

Kedelapan, memperbanyak i'tikaf di masjid. Sebaiknya dilakukan sebulan penuh. Jika tidak, sepuluh malam terakhir diutamakan. Sebab, jika memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah saw. selalu menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggang sebagai bentuk kesiapan menjalankan ibadah. 

Kesembilan, mengkhatamkan Al-Quran setidaknya sekali selama bulan Ramadan. Maksimalnya tentu sebanyak-banyaknya, seperti para ulama terdahulu. Bahkan, setiap bulan Ramadhan, Imam al-Syafi‘i mengkhatamkannya hingga 60 kali. 

Kesepuluh, istiqamah dalam menjalankan amaliah Ramadhan dan melanjutkan amaliah-amaliah tersebut di bulan-bulan berikutnya.



Sumber: 
https://islam.nu.or.id/ramadhan/10-amalan-sunnah-dalam-berpuasa-78EeB


Senin, 21 Maret 2022

Wahai Anakku, Cintailah Al Qur'an

 Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam Islam. Dengan hal tersebut, anak akan senantiasa dalam fitrahnya dan di dalam hatinya bersemayam cahaya-cahaya hikmah sebelum hawa nafsu dan maksiat mengeruhkan hati dan menyesatkannya dari jalan yang benar.


Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.

Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.

Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.

Adapun metode-metode yang bisa digunakan anak mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:

1. Bercerita kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.

Mempersiapkan cerita untuk anak yang bisa menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, akan lebih bagus jika kisah-kisah itu diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.

Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Mari Sayangku, bersama-sama kita dengarkan salah satu kisah Al-Qur’an.”

Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, sehingga ia akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.

2. Sabar dalam menghadapi anak.

Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.

3. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.

Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.

4. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.

Misalnya :
Saya mencintai Al-Qur’an.
Al-Qur’an Kalamullah.
Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an.
Saya suka menghafal Al-Qur’an.
Atau sebelum menyuruh anak memulai menghafal Al-Quran, kita katakan kepada mereka, “Al-Qur’an adalah kitab Allah yang mulia, orang yang mau menjaganya, maka Allah akan menjaga orang itu. Orang yang mau berpegang teguh kepadanya, maka akan mendapat pertolongan dari Allah. Kitab ini akan menjadikan hati seseorang baik dan berperilaku mulia.”

5. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.

Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :

* Bagi anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak bisa mempergunakannya kapan saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah.
* Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya, karena ia ditulis dalam lembaran-lembaran yang indah dan rapi.
* Bagi anak yang dapat dimasuki melalui celah visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layer proyektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.

6. Memilih waktu yang tepat untuk menghafal Al-Qur’an.
Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:
Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
Setelah makan dan kenyang,
Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.

Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai. Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:

* Senantiasa bergantung kepada Allah, selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak-anak. Dengan demikian Allah akan memberikan taufikNya dan akan menyatukan hati kita dan anak-anak.
* Bergaul dengan anak-anak sesuai dengan jenjang umurnya, yaitu sesuai dengan kaedah, “Perlakukan manusia menurut kadar akalnya.” Sehingga kita akan dengan mudah menembus hati anak-anak.
* Dalam memberi pengarahan dan nasehat, hendaknya diterapkan metode beragam supaya anak tidak merasa jemu saat diberi pendidikan dan pengajaran.
* Memberikan sangsi kepada anak dengan cara tidak memberikan bonus atau menundanya sampai waktu yang ditentukan adalah lebih baik daripada memberikan sangsi berupa sesuatu yang merendahkan diri anak. Tujuannya tidak lain supaya anak bisa menghormati dirinya sendiri sehingga dengan mudah ia akan menghormati kita.
* Memahami skill dan hobi yang dimiliki anak-anak, supaya kita dapat memasukkan sesuatu pada anak dengan cara yang tepat.
* Berusaha dengan sepenuh hati untuk bersahabat dengan anak-anak, selanjutnya memperlakukan mereka dengan bertolak pada dasar pendidikan, bukan dengan bertolak pada dasar bahwa kita lebih utama dari anak-anak, mengingat kita sudah memberi makan, minum, dan menyediakan tempat tinggal. Hal ini secara otomatis akan membuat mereka taat tanpa pernah membantah.
* Membereskan hal-hal yang dapat menghalangi kebahagiaan dan ketenangan hubungan kita dengan anak-anak.
* Mengungkapkan rasa cinta kepada anak, baik baik dengan lisan maupun perbuatan.

Itulah beberapa point cara untuk menumbuhkan rasa cinta anak kepada Al-Qur’an. Semoga kegiatan menghafal Al-Qur’an menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak, sehingga kita akan mendapat hasil sesuai yang kita harapkan.

Diringkas dari Agar Anak Mencintai Al-Qur’an, Dr. Sa’ad Riyadh

Sumber : http://www.ikadi.or.id/article/wahai-anakku-cintailah-al-quran-

Persiapan Menuju Ramadhan


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mempersiapkan diri betul menyambut kedatangan setiap bulan Ramadhan. Persiapan Rasulullah saw tersebut bukan hanya bersifat jasmani saja, melainkan juga persiapan ruhani. Mengingat puasa sebagaimana ibadah yang lain adalah paduan ibadah jasmani dan ruhani, di samping ibadah yang paling berat di antara ibadah wajib (fardhu) lainnya.

Oleh sebab itu, puasa disyariatkan paling akhir di antara ibadah wajib lainnya. Persiapan jasmani tersebut dilakukan oleh Rasulullah saw adalah melalui puasa sunnah Senin-Kamis dan puasa hari-hari putih (Ayyamul bidh tanggal 13, 14, dan 15) setiap bulan sejak bulan syawal hingga Sya’ban.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah saw senantiasa puasa Senin dan Kamis. Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau senantiasa puasa Senin dan Kamis.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya pada setiap hari Senin dan Kamis Allah swt mengampuni dosa setiap Muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan. Allah berfirman, ‘Tangguhkanlah keduanya sampai keduanya berdamai’.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam kaitannya dengan puasa tiga hari setiap bulan, Rasulullah saw bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari ra, “Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa setiap bulan, maka puasalah tanggal 13,14 dan 15.” (HR. Tirmidzi).

Sedangkan persiapan ruhani dilakukan oleh Rasulullah saw melalui pembiasaan shalat tahajud setiap malam serta zikir setiap waktu dan kesempatan. Bahkan, shalat tahajjud yang hukumnya sunnah bagi kaum muslimin menjadi wajib bagi pribadi Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Aisyah ra. yang bertanya kepada Rasulullah saw mengenai pembiasaan shalat tahajjud, padahal dosa-dosa beliau telah diampuni oleh Allah swt, Rasulullah menjawab dengan nada yang sangat indah, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

Memasuki bulan Sya’ban, Rasulullah saw meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah puasa, qiyamul lail, zikir dan amal salehnya. Peningkatan tersebut dikarenakan semakin dekatnya bulan Ramadhan yang akan menjadi puncak aktifitas kesalehan dan spiritualitas seorang Muslim.

Jika biasanya dalam sebulan Rasulullah saw berpuasa rata-rata 11 hari, maka di bulan Sya’ban ini beliau berpuasa hampir sebulan penuh. Dikisahkan oleh Aisyah ra. bahwasanya, “Rasulullah banyak berpuasa (di bulan Sya’ban) sehingga kita mengatakan, beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam riwayat Usama bin Zayd ra. dikatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Wahai Rasulullah, Aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Sya’ban adalah bulan yang dilupakan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia diangkat (ke langit) oleh Allah saw dan aku menyukai pada saat amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa’.” (HR. An-Nasa’i).

Sya’ban adalah bulan penutup rangkaian puasa sunah bagi Rasulullah saw sebelum berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Jika Rasulullah telah mempersiapkan penyambutan Ramadhan dengan berpuasa minimal 11 hari di luar Sya’ban dan 20-an hari di bulan Sya’ban, berarti untuk menyambut Ramadhan Rasulullah saw telah berpuasa paling sedikitnya 130 hari atau sepertiga lebih dari jumlah hari dalam setahun.

Maka, hanya persiapan yang baiklah yang akan mendapat hasil yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Semoga Allah swt memberikan kesempatan kepada kita untuk mempersiapkan diri di bulan Sya’ban sehingga memperoleh hasil yang maksimal di akhir Ramadhan. 

Sumber dan Image : http://ikadijatim.org/persiapan-menuju-ramadhan/

Bahagia Menyambut Ramadhan


Beberapa hari lagi bulan Ramadhan akan datang. Kita akan menyambut datangnya bulan yang istimewa, dan bahkan paling istimewa diantara bulan-bulan yang lainnya. Bulan dimana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Ramadhan juga merupakan momentum yang sangat istimewa bagi orang-orang beriman, dalam upaya perbaikan dan perubahan diri untuk mencapai tingkat keimanan dan ketaqwaan yang lebih tinggi.

Untuk itu berbahagialah siapa saja yang bisa mengoptimalkan diri untuk memanfaatkan momentum istimewa ini. Untuk bisa meraih berbagai keistimewaan dan keutamaan yang ada di bulan Ramadhan, sangat penting untuk melakukan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangannya:

  1. Persiapan spiritual

Persiapan spritual (ma’nawiyah) bisa dilakukan dengan memperbanyak ibadah sebelum Ramadhan tiba, seperti memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, berdo’a, berdzikir dan lain-lain. Rasulullah saw dalam mempersiapkan diri menghadapi datangnya bulan suci tersebut telah memberikan contoh kepada umatnya, diantaranya dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, sebagaimana diriwayatkan ‘Aisyah ra dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang artinya: “Dan aku tidak melihat Rasulullah saw berpuasa  di suatu bulan yang lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya’ban.“  Bahkan ‘Aisyah ra juga mengatakan: “Nabi saw tidak pernah berpuasa dalam suatu bulan yang lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau puasa (di bulan Sya’ban) satu bulan penuh.“

  1. Persiapan ilmu

Persiapan ilmu dapat dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, dan lebih khusus lagi ilmu yang terkait dengan puasa, agar memiliki wawasan yang benar tentang Ramadhan dan puasa Ramadhan, hingga nantinya ketika menjalani ibadah Ramadhan dapat melakukannya dengan optimal dan dapat meraih hasil yang maksimal.

  1. Persiapan fisik dan harta

Persiapan fisik dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan, diantaranya dengan cara berolahraga, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, dan hanya mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, sehat dan menyehatkan. Ini penting karena rangkaian ibadah yang telah terformat selama Ramadhan hanya akan bisa dilaksanakan dengan optimal oleh orang yang memiliki kesehatan prima. Adapun persiapan harta bisa dilakukan dengan menabung sebagian harta kita sebagai bekal berinfaq selama Ramadhan. 


Sumber & Image : http://ikadijatim.org/bahagia-menyambut-ramadhan/

Jumat, 11 Maret 2022

Kemuliaan Bersama Al Quran



 «Ø®َÙŠْرُÙƒُÙ…ْ Ù…َÙ†ْ تَعَÙ„َّÙ…َ القُرْآنَ ÙˆَعَÙ„َّÙ…َÙ‡ُ»

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”
(HR Bukhari )

Al-Qur’an memuliakan siapa saja orang yang beriman dan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Allah Ta’ala memposisikan orang beriman yang ahli terhadap Al-Qur’an sebagai ahlullah (keluarga Allah). Salah satunya adalah Abdullah bin Mas’ud ra. Secara status sosial beliau adalah seorang budak, penggembala kambing dan miskin. Secara fisik, perawakannya kecil, kalau beliau berdiri maka seperti orang lain duduk, karena begitu pendeknya. Bahkan suatu hari Ibnu Mas’ud ra memanjat pohon, tiba-tiba angin kencang menggoyahkan ranting-ranting pohon itu. Ibnu Mas’ud ra yang ada di atas pohon itu tampak kecil sekali. Orang-orang mentertawakan ukuran betis yang sangat kecil dan badannya yang kurus. Maka Rasulullah saw bersabda, “ Apakah kalian mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas’ud ? Demi Allah yang jikwaku ditangan-Nya, sesungguhnya keduanya dalam timbangan Allah pada hari Kiamat lebih berat dari gunung Uhud (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Demikianlah Allah memuliakan Ibnu Mas’ud ra, karena beliau ahlul Qur’an bahkan merupakan rujukan pertama dalam qiroah setelah Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda,” Barangsiapa ingin membaca al-Qur’an seindah sebagaimana diturunkan, maka bacalah sebagaimana bacaan Ibnu Ummi Abdi (Ibnu Mas’ud)” (HR Ahmad).

Ibnu Mas’ud ra mendapat kemuliaan untuk membacakan Al-Qur’an dihadapan Rasulullah saw. Rasul saw bersabda,” Bacalah! Karena sesungguhnya aku ingin mendengar Al-Qur’an dibacakan orang lain. Lalu Ibnu Mas’ud Ra membaca dengan khusyu dan ketika sampai pada ayat, “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS An-Nisa 41).
Rasulullah saw bersabda,”Sekarang cukup”. Ibnu Mas’ud berkata, “ Aku memandang wajah Rasul saw dan kedua matanya menitikkan air mata (HR Bukhari Muslim).

Shibghoh (celupan) Islam dan Al-Qur’an, menjadikan Ibnu Mas’ud ra sebagai orang yang pemberani. Ketika turun surat Ar-Rahman, beliau menghafalkannya. Kemudian membacakannya secara terbuka dihadapan orang kafir Quraisy di depan Ka’bah. Maka mereka mengeroyoknya sampai pingsan. Ibnu Mas’ud ra, adalah orang yang pertama membacakan Al-Qur’an dihadapan orang-orang kafir Quraisy setelah Rasulullah saw. Begitu juga Ibnu Mas’ud ra mengikuti banyak peperangan dalam Islam termasuk perang Badar dll.

Allah memuliakan siapa saja terkait Al-Qur’an. Orang yang paling mulia, tentu saja Rasulullah saw yang menerima wahyu Al-Qur’an dan akhlaknya dinisbatkan langsung pada Al-Qur’an. Malaikat yang paling mulia adalah malaikat Jibril as yang membawa wahyu Al-Qur’an. Malam yang paling mulia adalah Lailatul Qodr (malam Kemuliaan) malam diturunkannya Al-Qur’an, dimana kualitas ibadah di malam tsb lebih baik dari 1000 bulan. Bulan yang paling mulia adalah bulan Romadhon, bulan diturunkannya Al-Qur’an, orang yang paling mulia adalah mereka yang belajar dan mengajar Al-Qur’an, dan umat yang paling mulia adalah umat Islam sebagai umat terbaik.

«Ù…َØ«َÙ„ُ Ù…َÙ†ْ Ø£ُعْØ·ِÙŠَ الْÙ‚ُرْآنَ ÙˆَالْØ¥ِيمَانَ ÙƒَÙ…َØ«َÙ„ِ Ø£ُتْرُجَّØ©ٍ Ø·َÙŠِّبِ الطَّعْÙ…ِ، Ø·َÙŠِّبِ الرِّيحِ، ÙˆَÙ…َØ«َÙ„ُ Ù…َÙ†ْ Ù„َÙ…ْ ÙŠُعْØ·َ الْÙ‚ُرْآنَ، ÙˆَÙ„َÙ…ْ ÙŠُعْØ·َ الْØ¥ِيمَانَ ÙƒَÙ…َØ«َÙ„ِ الْØ­َÙ†ْظَÙ„َØ©ِ Ù…ُرَّØ©ِ الطَّعْÙ…ِ، Ù„َا رِيحَ Ù„َÙ‡َا، ÙˆَÙ…َØ«َÙ„ُ Ù…َÙ†ْ Ø£ُعْØ·ِÙŠَ الْØ¥ِيمَانَ، ÙˆَÙ„َÙ…ْ ÙŠُعْØ·َ الْÙ‚ُرْآنَ ÙƒَÙ…َØ«َÙ„ِ التَّÙ…ْرَØ©ِ Ø·َÙŠِّبَØ©ِ الطَّعْÙ…ِ، ÙˆَÙ„َا رِيحَ Ù„َÙ‡َا، ÙˆَÙ…َØ«َÙ„ُ Ù…َÙ†ْ Ø£ُعْØ·ِÙŠَ الْÙ‚ُرْآنَ ÙˆَÙ„َÙ…ْ ÙŠُعْØ·َ الْØ¥ِيمَانَ، ÙƒَÙ…َØ«َÙ„ِ الرَّÙŠْØ­َانَØ©ِ Ù…ُرَّØ©ِ الطَّعْÙ…ِ، Ø·َÙŠِّبَØ©ِ الرِّيحِ».

“Perumpamaan orang yang diberikan keimanan dan Al-Qur’an seperti Utrujjah, rasanya enak aromanya wangi, perumpamaan orang yang tidak diberi Al-Qur’an dan Iman seperti Hanzholah, rasanya pahit dan tidak ada baunya, perumpamaan orang yang diberi Iman dan tidak diberi Al-Qur’an seperti Kurma, rasanya manis tidak ada wanginya dan orang yang diberi Al-Qur’an dan tidak diberi Iman seperti Raihanah, rasanya pahit aromanya baik” (HR Ibnu Hibban ).


Sumber : https://tanyasyariah.com/artikel/kemuliaan-bersama-al-quran/

Selasa, 01 Februari 2022

Berhubungan Badan Di Siang Hari Ramadhan Bagi Musafir

 


Ust, Musafir kan boleh ga puasa. Trs klo melakukan jima’ / hubungan badan di siang hari apa jg boleh Tadz?

Syukron

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Melakukan jimak/berhubung badan di siang hari puasa adalah pembatal puasa yang paling berat. Disebut paling berat, karena konsekuensi dari pembatal ini tidak seperti pembatal puasa lainnya yang cukup dengan bertaubat; jika batal tanpa uzur dan wajib mengganti di hari yang lain.

Adapun puasa yang batal karena hubungan badan di siang Ramadhan, ada tiga konsekuensi yang harus dilakukan :

[1]. Bertaubat jujur kepada Allah, karena dia telah terjatuh dalam dosa besar.

[2]. Mengganti puasa yang batal karena hubungan badan.

[3]. Menunaikan kafarot, yaitu;

·       Memerdekakan budak.

·       Berpuasa dua bulan berturut-turut.

·       Memberi makan enam puluh orang miskin.

Tiga Kafarot di atas harus dipilih secara urut berdasarkan kemampuan.

 

Jimak Bagi Musafir Ketika Siang Ramadhan?

Musafir, termasuk orang yang mendapat keringanan boleh tidak puasa. Dasarnya adalah firman Allah ta’ala,

Siapa sakit atau dalam perjalanan (Musafir), maka boleh tidak puasa namun wajib menggantinya di hari yang lain, sebanyak hari yang ditinggalkan. Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kalian di timpa kesukaran. (QS. Al-Baqarah : 185)

Mengingat musafir termasuk orang yang beruzur tidak puasa, maka dia boleh melakukan pembatal-pembatal puasa, seperti makan, minum, termasuk pula berhubungan badan di siang Ramadhan. Dia tidak berdosa (red. suami istri) dan tidak dikenai hukuman membayar kafarot di atas. Karena dia dalam kondisi beruzur yang legal menurut syariat.

Dalam Fatwa Lajnah Da-imah (Lembaga riset ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) dinyatakan,

Seorang musafir, boleh tidak puasa di saat safarnya di siang hari bulan Ramadhan namun wajib menggantinya. Berdasarkan firman Allah (yang artinya): Siapa sakit atau dalam perjalanan (Musafir), maka boleh tidak puasa namun wajib menggantinya di hari yang lain, sebanyak hari yang ditinggalkan. (QS. Al-Baqarah : 185). Dia boleh makan, minum dan berhubungan badan selama kondisinya sedang safar.

(Fatawa Lajnah Da-imah, 10/203)

Syekh Sholih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya pertanyaan senada, berikut jawaban beliau,

Tidak mengapa melakukan itu, karena seorang musafir boleh tidak puasa, boleh makan, minum dan boleh melakukan jimak. Jadi tidak berdosa dan tidak terkena kafarot. Namun dia wajib mengganti hari yang dia tidak puasa itu, di hari lain.



Referensi: https://konsultasisyariah.com/34920-berhubungan-badan-ketika-puasa-ramadhan-bagi-musafir.html

Jumat, 13 Juni 2014

MEMBACA AL-QUR'ANUL KARIM DI BULAN RAMADHAN DAN LAINNYA




Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab Al-Qur'an sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad, yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta. 

Adalah ditekankan bagi seorang muslim yang mengharap rahmat Allah dan takut akan siksa-Nya untuk memperbanyak membaca Al-Qur'anul Karim pada bulan Ramadhan dan buian-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya. Karena Al-Qur'anul Karim adalah sebaik-baik kitab, yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia; dengan syari'at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna. 

Al-Qur'an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa'at baginya pada hari Kiamat. 

Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, dengan firmanNya " Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. " (Thaha:123), 

Janganlah seorang muslim memalingkan diri dari membaca kitab Allah, merenungkan dan mengamalkan isi kandungannya. Allah telah mengancam orang-orang yang memalingkan diri darinya dengan firman-Nya :
"Barangsiapa berpaling dari Al-Qur'an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari Kiamat. " (Thaha : 100), 

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. " (Thaha: 124),

image : http://lestari-alquran.com/wp-content/uploads/2013/08/al-quran1.jpg

Membaca Al-Qur’an Dengan Penuh Kesungguhan





Ada dua perkara yang perlu saya sampaikan kepada saudaraku sekalian berkenaan dengan keadaan Salafus Shalih dalam bulan suci ini:

A. Banyak Membaca Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Kita semua dianjurkan agar memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan ini. Di antara keadaan Salafus Shalih adalah selalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an (mulai dari membaca, mempelajari dan mentadabburinya).

Malaikat Jibril memperdengarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam pada bulan Ramadhan. Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Sebagian Salafus Shalih mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat Tarawih setiap tiga malam sekali. Sebagian lagi setiap tujuh malam sekali. Sementara sebagian lainnya mengkhatamkannya setiap sepuluh malam sekali. Mereka selalu membaca Al-Qur’an baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Bahkan Imam Asy-Syafi’i dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak enam puluh kali di luar shalat dalam bulan Ramadhan. Sementara Al-Aswad mengkhatamkannya setiap dua hari sekali.

Adapun Qatadah selalu mengkhatamkannya setiap tujuh hari sekali di luar Ramadhan, sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya setiap tiga hari sekali. Dan pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya setiap malam. Pada bulan Ramadhan Imam Az-Zuhri menutup majlis-majlis hadits dan majlis-majlis ilmu yang biasa diisinya. Beliau mengkhususkan diri membaca Al-Qur’an dari mushhaf. Demikian pula Imam Ats-Tsauri, beliau meninggalkan ibadah-ibadah lain dan mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an.



Ibnu Rajab berkata: “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari tertuju bagi yang membiasakan hal itu. Adapun pada waktu-waktu yang utama seperti bulan Ramadhan, terkhusus lagi pada malam-malam yang diperkirakan sebagai malam Lailatul Qadar, atau di tempat-tempat yang utama, seperti Makkah bagi selain ahli Makkah, maka dianjurkan agar memperbanyak membaca Al-Qur’an. Supaya mendapat keutamaan pada waktu dan tempat tersebut. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan ulama lainnya. Demikianlah yang dapat kita saksikan dari kebiasaan mereka sebagaimana yang telah kita sebutkan tadi.


Menangis Tatkala Membaca Atau Mendengar Al-Qur’an

Mendendangkan Al-Qur’an layaknya mendendangkan syair tanpa mentadabburi dan memahaminya bukanlah termasuk petunjuk Salafus Shalih. Bahkan jiwa mereka bergetar dan hati mereka tersentuh begitu mendengar untaian Kalamullah dibacakan. Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an untukku!” Aku berkata: “Apa-kah aku membacakannya untukmu sedangkan ia diturunkan kepadamu?” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Aku senang mendengarkannya dari orang lain.” Aku pun membacakan untuknya surat An-Nisa’, hingga sampai pada ayat yang berbunyi: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami menda-tangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (An-Nisa’: 41) beliau mengatakan: Hasbuka (cukup). Aku meno-leh kepadanya, ternyata kedua mata beliau meneteskan air mata.”

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: “Tatkala turun ayat: “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pem-beritaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis.” (An-Najm: 59-60) Ahlu Suffah (orang yang bermukim di serambi masjid Nabi) menangis hingga tetesan air mata membasahi pipi mereka. Ketika hal itu didengar oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau tersentuh dan ikut menangis bersama mereka. Melihat hal itu kami pun turut menangis.

Kemudian Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:  “Tidak akan masuk api Neraka orang yang mena-ngis karena takut kepada Allah.” Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud membaca surat Al-Muthaffifin, tatkala sampai ayat yang berbunyi: “Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” (Al-Mutahffifin: 5) beliau menangis hingga bersimpuh dan tidak mampu melanjutkan ayat berikutnya.

Diriwayatkan dari Muzahim bin Zufar ia berkata: “Pada suatu kesempatan, Sufyan Ats-Tsauri mengimami kami shalat. Ketika sampai ayat: “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5) beliau menangis hingga terputus bacaannya se-hingga beliau mengulanginya kembali dari awal.”

Diriwayatkan dari Ibrahim bin Asy’ats ia berkata: “Pada suatu malam saya mendengar Fudhail tengah membaca surat Muhammad hingga beliau menangis dan mengulang-ulang ayat berbunyi: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan meng-uji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Muhammad:31) Beliau berkata: “dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu!” beliau terus mengulang-ulang: “Agar Engkau menyatakan baik buruknya hal ihwal kami!” Jika Engkau nyatakan hal ihwal kami, akan tersingkaplah borok-borok kami. Jika Engkau nyatakan hal ihwal kami, niscaya Engkau akan membinasakan dan mengazab kami,” sedangkan beliau tetap terus menangis.



Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com