Laman

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Wakaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wakaf. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2022

Jalan Terjal Mempertahankan Takwa


Idul fitri merupakan hari spesial bagi umat Islam. Pasalnya pada hari itu kaum muslimin merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan amaliyah Ramadhan.. Semua kita berharap Ramadhan dapat mengantarkan kita pada derajat takwa. Derajat yang paling tinggi di sisi Allah yang memancarkan cahaya dalam menuntun hidup ini. Orang yang bertakwa akan berusaha secara maksimal dalam melaksanakan ketaatan pada Allah. Perintah Allah dilaksanakan dan larangan ditinggalkan secara konsekwen. Hidup dan kehidupannya hanya semata mencari ridho Allah sebagai bukti ikrar syahadatnya pada yang Maha Kuasa. Makanya, di bulan Syawal ini kita dituntut untuk membuktikan ketakwaan dalam bentuk peningkatan ibadah.

Agar derajat takwa selalu menghiasi diri dan mampu meneranggi hidup dalam menapaki jalan kebenaran. Apalagi di bulan Syawal yang identik dengan hari suka cita. Berbagai aktivitas silaturahmi dan mengunjungi tempat wisata menjadi pilihan banyak orang. Tak jarang justru dalam kegiatan tersebut menyebabkan seseorang lalai dan terlena. Ibadah yang telah dirasakan kelezatannya selama Ramadhan secara perlahan hilang dalam diri seseorang. Akibatnya kesholehan seseorang mulai redup dengan berlalunya Ramadhan. Sejatinya Syawal yang bermakna bulan peningkatan, harusnya ibadah kita juga semakin meningkat sebagai buah manis Ramadhan yang telah dinikmati. Di sinilah peran takwa sangat berguna dalam membuktikan kesuksesan Ramadhan kita.


Makanya ada lima jalan terjal berliku yang penuh tantangan yang kita harus lalui dalam mempertahankan derajat takwa dalam diri kita. Di katakan sebagai jalan terjal yang berliku karena jalan ini tak mudah dilewati, butuh perjuangan dan pengorbanan hebat dalam mencapai semua itu. Adapun jalan tersebut adalah. Pertama, jalan mu’ahadah yakni mengingat perjanjian dengan Allah. Sungguh, sejak dalam kandungan ibu kita, di saat ruh ditiupkan ke dalam jasad, kita telah berjanji untuk menyatakan bahwa Allah sebagai Rab dan Illah . Dalam QS. Al A’raf 172 dijelaskan, “ Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, “Betul ( Engkau Tuhan kami ), kami bersaksi”.


Begitulah perjanjian kita dengan Allah untuk menjadikan-Nya sebagai Tuhan Yang disembah. Dengan selalu mengingat perjanjian tersebut maka tentunya kita berusaha untuk selalu mematuhi segala ketentuan Allah dalam menapaki kehidupan ini. Kita berusaha melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai konsekuensi takwa dalam diri.


Kedua, jalan muraqabah yakni selalu merasa diawasi Allah. Sifat ini sangat kuat untuk dapat menghadirkan nilai takwa dalam diri seseorang. Orang yang selalu merasa diawasi Allah maka akan berhati-hati dalam hidup dan kehidupan. Mereka akan berpikir sebelum berucap, bertindak dan berbuat hingga berbagai maksiat dapat dihindarinya. Mereka merasakan keagungan Allah di setiap waktu dan keadaan dan juga merasakan kebersamaan di kala sepi atau ramai. Allah berfirman,” Yang melihat kamu ketika berdiri dan melihat pula perubahan gerak badannya di antara orang-orang yang sujud” ( Asy Syu’araa 218-219 )

Ketiga, jalan muhasabah yakni menghitung atau instropeksi diri. Menghitung diri merupakan salah satu usaha untuk selalu menghadirkan takwa dalam diri sendiri. Kita berusaha menghitung diri dan mengevaluasi amal kebaikan atau keburukan yang telah dilakukan. Dengan evaluasi diri, kita akan dapat mengetahui sejauh mana kebaikan yang telah kita lakukan dalam persiapan menghadapi hari kebangkitan. Dalam QS. Al-Hasyr 18, Allah berfirman, “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari akhirat, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”


Keempat. Jalan mu’aqobah yakni, berani memberikan sanksi pada diri sendiri. Ketika kita melakukan sebuah kesalahan maka kita harus mampu memberi sanksi atau hukuman pada diri kita sendiri. Apabila seorang mukmin melakukan kesalahan maka tak pantas baginya membiarkannya. Sebab membiarkan diri dalam kesalahan lambat laun akan menjadi kebiaasaan sehingga semakin sulit untuk meningalkannya. Makanya dengan keberanian dalam memberi sanksi, tentu sifatnya yang mubah dapat memberikan efek jera sehingga akan membuat diri kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Kelima, jalan mujahadah yakni, bersungguh-sungguh dalam beribadah . Untuk mendapatkan takwa kita harus bersungguh-sungguh dan optimal dalam beribadah. Tujuan utama dari setiap ibadah adalah meraih takwa seperti ibadah puasa yang telah kita lakukan . Mustahil kita akan meraih derajat takwa dengan ibadah yang sederhana dan tidak berkualitas. Kesungguhan seseorang dalam melaksanakan ibadah akan berimbas pada kualitas dan mutu ibadahnya. Makanya, di bulan Syawal ini kita harus mampu mempersembahkan ibadah terbaik dalam menggapai derajat takwa sebagai jalan mudah menuju surga. Balasan yang berharga bagi orang-orang yang bertakwa atas kesungguhannya dalam beribadah pada Sang Pencipta. Semoga Allah memudahkan langkah kita sekalipun harus melewati jalan terjal yang berliku.



Kamis, 16 September 2021

Sumur Usman Yang Mengalirkan Pahala Sepanjang Zaman

 

Image : https://www.liputan6.com/global/read/3370354/berusia-1400-tahun-sumur-utsman-bin-affan-di-madinah-masih-mengalir

Sumur Usman (bahasa Arab: Ø¨Ø¦Ø±Ø¹Ø«Ù…انAtau sumur Raumah adalah sumur bersejarah di Madinah, Arab Saudi. Sumur ini terletak di sekitar Wadi Aqiq di daerah Azhari. Sekitar3,5 kilometer dari Masjid Nabawi. Atau sekitar 1 kilometer dari Masjid Qiblatain. Sumur ini sekarang berada di bawah tanggung jawab Kantor Pengairan dan Pertanian Pemerintah Arab Saudi. Alamat tempat sumurnya  Bir Uthman, Madinah 42331, Arab Saudi. Koordinat 24°29′34.39″N 39°34′38.91″E.

Dilansir Madinatul Quran, diriwayatkan pada masa Nabi Muhammad, Kota Madinah pernah mengalami paceklik hingga kesulitan air bersih. Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Mekah.

Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, yaitu Sumur Raumah. Rasa airnya mirip dengan sumur zam-zam. Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antre dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut.

Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah kemudian bersabda, "Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta'ala," demikian hadis riwayat HR. Muslim

Mendengar hal itu, Utsman bin Affan yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan Sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi.

Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekali pun, Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, "Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari," demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.

Utsman bin Affan yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa surga tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.

Ia pun membeli setengah sumur itu dan memilikinya secara bergantian. Akhirnya pemilik sebelumnya setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari itu juga separuh dari Sumur Raumah adalah milik Utsman.

Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di Sumur Raumah untuk mengambil air dengan gratis karena hari ini sumur Raumah adalah miliknya.

Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk dua hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.

Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah.

Yahudi itupun mendatangi Utsman dan menawarkan untuk menjual sumur itu dengan harga yang sama. Utsman yang setuju lalu membelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumah pun menjadi milik Utsman seutuhnya.

Kemudian Utsman bin Affan mewakafkan Sumur Raumah. Sejak saat itu Sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk orang Yahudi pemilik lamanya.

Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya dieksport ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun).

~diolah dari berbagai sumber~

Referensi : 
https://yusronhadi.blogspot.com/2021/07/10287-sumur-usman-bin-affan-pahalanya.html 

https://www.liputan6.com/global/read/3370354/berusia-1400-tahun-sumur-utsman-bin-affan-di-madinah-masih-mengalir


Jiwan, 17 September 2021

Senin, 31 Maret 2014

7 Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir



REPUBLIKA.CO.ID,  Amal Jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah wafat. Amalan tersebut terus memproduksi pahala yang terus mengalir kepadanya.

Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang berman­faat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim).

Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebar­luaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).

Di dalam hadis ini disebut tujuh macam amal yang tergolong amal jariah sebagai berikut.

1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah me­nulis buku yang berguna dan mempublikasikannya.

2. Mendidik anak menjadi anak yang saleh. Anak yang saleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang dipeibuat oleh anak saleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah wafat tanpa mengurangi nilai/pahala yang diterima oleh anak tadi.

3. Mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.

4. Membangun masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di mas­jid itu.

5. Membangun rumah atau pondokan bagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk istirahat sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya.

6. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tampat-tempat orang yang membutuhkannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang banyak. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.

Semakin banyak orang yang memanfaat­kannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan mem­berinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).

7. Menyedekahkan sebagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Sumber : Ensiklopedi Hukum Islam dimuat di http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/06/28/m6appd-ini-7-amalan-yang-pahalanya-terus-mengalir
Ilustrasi, Masjid Perumahan Pesona Griya Wilis Madiun. Panitia Pembangunan Masjid Pesona Griya Wilis menerima wakaf pembaca untuk menyelesaikan proses pembangunan.
tahap berikutnya :
a.       pengerjaan atap, diperkirakan membutuhkan dan 30.000.000
b.      Pengerjaan Lantai, sudah ada wakaf keramik, masih membutuhkan wakaf 30 sak semen, pasir dan tenaga kerja
Bagi yang berminat Wakaf bisa mentransfer melalui rekening LMI Madiun dengan menambahkan pecahan 150 untuk identifikasi penggunaan dana wakaf pembangunan Masjid.
Rekening :
BCA
1771064766
a.n. Miftahurrohman

BNI
9545951-0
a.n. Miftahurrohman

BNI SYARIAH

0243483412
a.n. Agus Hariono

BRI
6353-01-000219-50-1
a.n. Lembaga Manajemen Infaq

MANDIRI
144-00-1189170-9
a.n. Lembaga Manajemen Infaq Ukhuwah

BMI
742.00037.22 a.n.
LMI Cabang Madiun

BSM
2607007244 a.n.
LMI Cabang Madiun

BII
1051231127
a.n. Oki Surendro

JATIM
0052765897
a.n. Miftahurrohman

Setelah mentransfer mohon konfirmasi ke nomor
·         081 234 200 200
·         085 645 200 200
·         083 872 200 200
·         087 738 200 400
·         PIN : 3165D4F8

Rabu, 23 Oktober 2013

10 Amal Jariyah





"Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang berdoa kepadanya.'' (HR. Muslim).

Hadits di atas menjelaskan amal perbuatan seorang Muslim akan terputus ketika ia meninggal dunia, sehingga ia tidak bisa lagi mendapatkan pahala. Namun, ada tiga hal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh.

Dalam riwayat Ibn Majah, Rasulullah SAW menambahkan tiga amal di atas, Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang shaleh, mewakafkan Al-Qur'an, membangun masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah.'' (HR. Ibn Majah).

Menurut Imam al-Suyuti (911 H), bila semua hadis mengenai amal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia dikumpulkan, semuanya berjumlah 10 amal:
1.       Ilmu yang bermanfaat,
2.       doa anak shaleh,
3.       sedekah jariyah (wakaf),
4.       menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan,
5.       mewakafkan buku, kitab atau Al-Qur'an,
6.       berjuang dan membela Tanah Air,
7.       membuat sumur,
8.       membuat irigasi,
9.       membangun tempat penginapan bagi para musafir,
10.     membangun tempat ibadah dan belajar.

Kesepuluh hal di atas menjadi amal yang pahalanya terus mengalir, karena orang yang masih hidup akan terus mengambil manfaat dari ke-10 hal tersebut. Manfaat yang dirasakan orang yang masih hidup inilah yang menyebabkannya terus mendapatkan pahala walau ia sudah meninggal dunia.

Dari pemaparan di atas, sudah seharusnya kita berusaha mengamalkan 10 hal tersebut atau paling tidak mengamalkan salah satunya, agar kita mendapatkan tambahan pahala di akhirat kelak, sehingga timbangan amal kebaikan kita lebih berat dari pada timbangan amal buruk.

Allah SWT berfirman, ''Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.'' (QS. Al-A'raf [7]: 8).

Sumber:

http://amaljariyah22.blogspot.com/2012/10/10-amal-jariyah.html

Sabtu, 05 Oktober 2013

3 Amal yang Pahalanya Tidak Terputus

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do'a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Allah memberi ganjaran sekecil apa pun amal yang kita perbuat. Meski hanya sebesar dzarrah atau debu: “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” [An Nisaa' 40]

Setiap kebaikan yang kita lakukan mulai dari kewajiban seperti sholat, puasa, zakat hingga amal yang sunnah insya Allah akan dibalas Allah pahala yang berlipat ganda.

Bahkan ada orang yang karena mampu setiap tahun pergi berhaji atau umrah dengan berharap mendapat pahala yang besar. Sesungguhnya itu baik. Namun sayangnya saat kita meninggal, kita tidak akan mendapat pahala itu lagi. Saat kita mati, terputus amal kita selain 3 amal yang di atas.

Oleh karena itu agar pahala kita terus mengalir meski kita telah tiada, hendaknya kita berusaha mengerjakan 3 amal yang di atas. Bagaimana pun kita tidak tahu berapa banyak dosa atau maksiyat yang telah kita perbuat. Berapa banyak orang yang kita sakiti. Jadi kalau pahalanya pas-pasan, bisa jadi akhirnya kita terjerembab ke neraka jahannam.


SEDEKAH JARIYAH

Menurut Imam al-Suyuti (911 H) ada 10 amal yang pahalanya terus menerus mengalir, yaitu: 1) ilmu yang bermanfaat, 2) doa anak sholeh, 3) sedekah jariyah (wakaf), 4) menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, 5) mewakafkan buku, kitab atau Al Qur'an, 6) berjuang dan membela tanah air, 7) membuat sumur, 8) membuat irigasi, 9) membangun tempat penginapan bagi para musafir, 10) membangun tempat ibadah dan belajar.

Itu hanya contoh kecil saja. Tentu saja sedekah jariyah tidak terbatas pada hal yang di atas. Segala hal yang bermanfaat yang bisa dinikmati masyarakat umum seperti membangun jalan, jembatan, website atau TV yang bermanfaat insya Allah pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama yang kita bangun itu masih memberikan manfaat.

Menanam pohon mangga atau pohon kurma sehingga buahnya bisa dinikmati atau pun pohon yang rindang seperti pohon Beringin sehingga orang bisa berteduh pun bisa mendapatkan pahala.

Membangun masjid pun pahalanya amat besar dan tetap akan mengalir selama masih ada orang yang memakainya untuk beribadah: Hadits riwayat Usman bin Affan ra: ”Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga. (H.R Bukhari dan Muslim)


ILMU YANG BERMANFAAT

Ilmu akan bermanfaat jika kita sendiri terlebih dahulu mengamalkannya. Kemudian kita ajarkan ke orang lain. Jika orang yang kita ajarkan itu juga mengamalkan ilmunya, insya Allah kita akan mendapat pahala meski kita telah tiada.

Kita bisa menjadi guru, dosen, atau mendirikan sekolah/pesantren sehingga ilmu yang bermanfaat bisa diajarkan ke orang banyak.

Di zaman sekarang ini kita bisa mengajarkan ilmu ke banyak orang sekaligus. Dengan membuat buku yang bermanfaat, kita dapat membayangkan bagaimana kalau ada 1 juta orang yang membaca buku tersebut dan mengamalkannya.

Dengan membuat website yang berisi ilmu yang bermanfaat misalnya website Islam sehingga puluhan ribu orang bisa membaca dan mengamalkan ilmunya, insya Allah juga akan mendapat pahala. Jika ada orang yang meng-copy-paste tulisan anda, jangan sedih. Justru mereka membantu menyebarkan ilmu anda sehingga jika website anda tutup karena anda tidak membayar sewa domain atau hosting, ilmu anda tetap tersebar dan dinikmati orang lain.

Mendirikan TV Islam atau TV Komunitas yang bisa memberikan ilmu yang bermanfaat pun insya Allah akan mendapat pahala.

Bagaimana jika kita bukan orang yang pintar atau ilmu kita cetek? Jangan sedih. Dengan membantu ulama sehingga ilmunya tersebar, membantu penerbitan buku yang bermanfaat, membantu pembuatan dan pemeliharaan website atau TV Islam juga bisa membuat anda ikut mendapat pahala. Karena Allah menghitung setiap amal yang kita lakukan sekecil apa pun amal itu!

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al Maa-idah 2]

Dari Abu Musa Al Asy'ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda: “Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.” Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa'i.

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].

Jadi jika kita turut andil dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat, insya Allah, Allah akan melihatnya.


ANAK SOLEH YANG MENDOAKANNYA

Jika kita punya anak soleh yang mendoakan kita, insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang saleh.

Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang saleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di kantor agar bisa fokus mendidik anaknya.

Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung?

Di situ tidak dijelaskan apakah anak saleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika kita memelihara anak yatim pun kita tetap akan dapat pahala jika mereka jadi anak yang saleh dan mendoakan kita.

Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Hadis riwayat Ahmad)

Dari situ jelas bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang insya Allah akan masuk surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat tinggi karena berada di dekat Nabi Muhammad SAW laksana jari telunjuk dengan jari tengah.

Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santuni mereka. Bantu mereka. Menyumbang ke keluarga miskin yang ada anaknya pun atau panti asuhan insya Allah bisa mendapatkan pahala.

Minggu, 14 Oktober 2012

10 Amal yang Pahalanya Takkan Pernah Putus



Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim).

Hadis di atas menjelaskan amal perbuatan seorang Muslim akan terputus ketika ia meninggal dunia, sehingga ia tidak bisa lagi mendapatkan pahala. Namun, ada tiga hal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shaleh.


Dalam riwayat Ibnu Majah, Rasulullah SAW menambahkan tiga amal di atas, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang shaleh, mewakafkan Alquran, membangun masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah". (HR Ibn Majah).


Menurut Imam al-Suyuti (911 H), bila semua hadis mengenai amal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia dikumpulkan, semuanya berjumlah 10 amal, antara lain :


01. Ilmu yang bermanfaat

02. Doa anak shaleh
03. Sedekah jariyah (wakaf)
04. Menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan
05. mewakafkan buku, kitab atau Alquran
06. Berjuang dan membela Tanah Air
07. Membuat sumur
08. Membuat irigasi
09. Membangun tempat penginapan bagi para musafir,
10. Membangun tempat ibadah (Masjid) dan tempat belajar.

Kesepuluh hal di atas menjadi amal yang pahalanya terus mengalir tiada terputus, karena orang yang masih hidup akan terus mengambil manfaat dari ke-10 hal tersebut. Manfaat yang dirasakan orang yang masih hidup inilah yang menyebabkannya terus mendapatkan pahala walau ia sudah meninggal dunia.


Dari pemaparan di atas, sudah seharusnya kita berusaha mengamalkan 10 hal tersebut atau paling tidak mengamalkan salah satunya, agar kita mendapatkan tambahan pahala di akhirat kelak, sehingga timbangan amal kebaikan kita lebih berat dari pada timbangan amal buruk.


Allah SWT berfirman, ''Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.'' (QS al-A'raf [7]: 8).



Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com