Laman

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2025

5 Langkah Taubat Nashuha



Taubat nashuha adalah pintu menuju ampunan dan rahmat Allah. Dengan melakukan taubat yang tulus, seorang hamba tidak hanya menghapus dosa-dosanya, tetapi juga memperoleh kedekatan dengan Allah, kehidupan yang lebih berkah, dan jaminan surga di akhirat. Jangan pernah menunda taubat, karena pintunya senantiasa terbuka hingga ajal tiba.

 

1. Pengertian Taubat Nashuha

Taubat nashuha adalah taubat yang murni, tulus, dan sungguh-sungguh yang dilakukan seorang hamba kepada Allah SWT atas dosa-dosanya dengan niat yang ikhlas, penuh penyesalan, serta berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Kriteria Taubat Nashuha:

  1. Ikhlas semata-mata karena Allah.
  2. Menyesal atas dosa yang telah dilakukan.
  3. Berhenti dari perbuatan dosa saat itu juga.
  4. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.
  5. Jika dosa berkaitan dengan hak orang lain, maka wajib meminta maaf atau mengembalikan hak tersebut.

 

2. Dalil dari Al-Qur'an

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim 8:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Yā ayyuhallażīna āmanū tūbū ilallāhi taubatan naṣūḥā, ‘asā rabbukum ay yukaffira ‘ankum sayyiātikum wa yudkhilakum jannātin tajrī min taḥtihāl-anhār, yauma lā yukhzil-lāhun-nabiyya wallażīna āmanū ma‘ah, nūruhum yas‘ā baina aidīhim wa biaimānihim yaqūlūna rabbanā atmim lanā nūranā waghfir lanā, innaka ‘alā kulli syai`in qadīr.

"Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (taubat nashuha). Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka sambil mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.'”

Ayat ini mengajak orang-orang yang beriman untuk melakukan taubat dengan cara yang benar, yaitu taubat nashuha. Allah menjanjikan penghapusan dosa dan balasan surga bagi mereka yang sungguh-sungguh bertaubat. Dalam konteks ini, taubat nashuha melibatkan penyesalan mendalam, komitmen untuk tidak mengulang dosa, serta usaha nyata untuk memperbaiki diri.

 

3. Hadis tentang Taubat Nashuha

Hadis dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Inna-llāha yaqbalu taubata-l-'abdi mā lam yughargir.

"Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan."(HR. Tirmidzi, no. 3537; Ibnu Majah, no. 4253)

Hadis ini menunjukkan kemurahan Allah yang senantiasa membuka pintu taubat hingga hamba-Nya berada di ambang kematian (sebelum ruh sampai di tenggorokan). Ini mengajarkan bahwa kesempatan bertaubat tidak boleh ditunda-tunda, karena ajal seseorang tidak diketahui.

 

4. Hikmah dan Keutamaan Taubat Nashuha

  1. Menghapus Dosa dan Kesalahan

Sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Tahrim, taubat yang tulus menjadi sebab dihapuskannya dosa dan kesalahan.

  1. Mendapatkan Ridha dan Ampunan Allah

Allah mencintai hamba yang bertaubat. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ فَرِحٌ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya." (HR. Muslim, no. 2675)

  1. Dimasukkan ke dalam Surga

Taubat yang ikhlas menjadi sebab masuk surga, sebagaimana janji Allah dalam Surah At-Tahrim.

  1. Meningkatkan Keimanan dan Kesalehan

Taubat yang benar membuat hati lebih dekat kepada Allah dan meningkatkan amal kebaikan.

 

 5. Langkah-Langkah Taubat Nashuha

  1. Menyesali Dosa
    Penyesalan adalah inti taubat, di mana seorang hamba merasa sedih dan malu atas perbuatannya.
  2. Berhenti dari Perbuatan Dosa
    Tidak mungkin taubat diterima jika seseorang masih terus melakukan dosa yang sama.
  3. Berjanji Tidak Mengulangi
    Berkomitmen dengan sungguh-sungguh untuk tidak kembali pada dosa tersebut.
  4. Memperbaiki Diri
    Meningkatkan ibadah dan amal saleh untuk menutupi kesalahan yang lalu.

5.       Jika Melibatkan Orang Lain:

Meminta maaf atau memulihkan hak yang telah dilanggar.

 

Taubat nashuha adalah pintu menuju ampunan dan rahmat Allah. Dengan melakukan taubat yang tulus, seorang hamba tidak hanya menghapus dosa-dosanya, tetapi juga memperoleh kedekatan dengan Allah, kehidupan yang lebih berkah, dan jaminan surga di akhirat. Jangan pernah menunda taubat, karena pintunya senantiasa terbuka hingga ajal tiba.

 

Madiun, 1 Januari 2025

Kamis, 26 Desember 2024

Ridha: Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

 


Ridha Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Miftahurrohman, S.E., M.M.

 

Dalam kehidupan yang penuh dinamika ini, kita sering dihadapkan pada berbagai situasi yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Terkadang, kita merasa kecewa, sedih, bahkan marah. Namun, sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk senantiasa ridha terhadap segala ketetapan Allah SWT. Ridha merupakan kunci ketenangan hati dan kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Ridha mencakup tiga aspek penting: ridha kepada Allah sebagai Rabb, ridha kepada Islam sebagai agama, dan ridha kepada Nabi Muhammad sebagai rasul.

1. Ridha kepada Allah sebagai Rabb:

Ridha kepada Allah sebagai Rabb berarti menerima dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, ditaati, dan diimani. Kita ridha dengan segala perintah dan larangan-Nya, serta menerima dengan lapang dada segala takdir yang telah Allah tetapkan, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.

  • Ayat Al-Qur'an:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

(Mā aṣāba mim muṣībatin illā biiżnillāh, wa may yumim billāhi yahdi qalbahu, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm)

Terjemahnya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun: 11)  

Ayat ini menjelaskan bahwa setiap musibah yang menimpa kita terjadi atas izin Allah. Dengan beriman dan ridha, Allah akan memberikan ketenangan dan petunjuk di hati kita.  

  • Contoh Nyata Ridha Kepada Allah dalam Kehidupan Sehari-hari:
    • Kehilangan Pekerjaan: Seorang Muslim yang ridha akan menerima kenyataan ini dengan sabar, tidak menyalahkan siapa pun, dan berusaha mencari pekerjaan baru dengan tetap bertawakkal kepada Allah. Ia yakin bahwa Allah telah menyiapkan rezeki yang lebih baik baginya.
    • Sakit: Ketika ditimpa sakit, seorang Muslim yang ridha akan bersabar, berikhtiar mencari pengobatan, dan tetap berhusnudzon kepada Allah. Ia yakin bahwa sakit adalah ujian yang dapat menghapus dosa-dosanya.
    • Musibah Bencana Alam: Saat terjadi bencana alam, seorang Muslim yang ridha akan menerima takdir ini dengan lapang dada, membantu sesama yang terkena musibah, dan tetap berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan.
  • Wujud Ridha kepada Allah sebagai Rabb:
    • Menerima segala perintah dan larangan-Nya dengan taat.
    • Menerima takdir baik dan buruk dengan lapang dada.
    • Bersyukur atas segala nikmat yang diberikan.
    • Bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan.
    • Tidak berputus asa dari rahmat Allah.

 

2. Ridha kepada Islam sebagai Agama:

Ridha kepada Islam sebagai agama berarti menerima Islam secara totalitas, tanpa keraguan sedikit pun. Kita ridha dengan segala ajaran, hukum, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, meskipun terkadang terasa berat untuk dilaksanakan.

  • Ayat Al-Qur'an:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

(Wa may yabtaghi ghairal-islāmi dīnan falan yuqbala minhu wa huwa fil-ākhirati minal-khāsirīn)

Terjemahnya: "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran: 85)  

Ayat ini menegaskan bahwa hanya Islam agama yang diridhai Allah.

  • Contoh Nyata Ridha Islam sebagai agamanya dalam Kehidupan Sehari-hari:
    • Menjalankan Shalat Lima Waktu: Seorang Muslim yang ridha akan melaksanakan shalat lima waktu dengan tepat waktu dan khusyuk, meskipun sedang sibuk atau dalam perjalanan.
    • Mengenakan Pakaian yang Menutup Aurat: Seorang Muslimah yang ridha akan mengenakan pakaian yang menutup aurat sesuai syariat, meskipun sedang tren mode yang bertentangan.
    • Menjauhi Riba: Seorang Muslim yang ridha akan menghindari transaksi yang mengandung riba, meskipun terlihat menguntungkan secara materi.
  • Wujud Ridha kepada Islam sebagai Agamanya:
    • Mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh.
    • Menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman hidup.
    • Membela dan menjaga nama baik Islam.
    • Berdakwah dan mengajak orang lain kepada Islam.

 

3. Ridha kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul:

Ridha kepada Nabi Muhammad sebagai rasul berarti menerima beliau sebagai utusan Allah yang terakhir, mengikuti sunnah-sunnahnya, dan mencintainya melebihi cinta kepada diri sendiri.

  • Hadits Shahih:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ

(Man aṭā’anī faqad aṭā’allāh, wa man ‘aṣānī faqad ‘aṣallāh)

Terjemahnya: "Barangsiapa yang mentaatiku, maka ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka ia telah mendurhakai Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa mentaati Rasulullah SAW adalah bentuk ketaatan kepada Allah.

  • Contoh Nyata Ridha Rasulullah sebagai nabinya dalam Kehidupan Sehari-hari:
    • Menghidupkan Sunnah: Seorang Muslim yang ridha akan berusaha menghidupkan sunnah-sunnah Nabi SAW, seperti makan dengan tangan kanan, membaca doa sebelum makan, dan bersiwak.
    • Meneladani Akhlak Nabi: Seorang Muslim akan berusaha meneladani akhlak mulia Nabi SAW, seperti jujur, amanah, sabar, dan pemaaf.
    • Bershalawat: Seorang Muslim akan memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan.
  • Wujud Ridha kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul:
    • Mempelajari sirah (sejarah) Nabi Muhammad SAW.
    • Mengikuti sunnah-sunnahnya dalam perkataan, perbuatan, dan ketetapannya.
    • Mencintai keluarga dan sahabat Nabi.
    • Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

 

Keutamaan Ridha:

  • Meraih kebahagiaan dan ketenangan hati: Dengan ridha, hati akan tenang dan damai, tidak mudah gelisah dan kecewa.
  • Mendapatkan cinta dan ridha Allah: Allah menjanjikan ridha-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ridha dengan ketentuan-Nya.
  • Memudahkan urusan dunia dan akhirat: Dengan ridha, Allah akan memudahkan segala urusan kita.
  • Menghapus dosa dan kesalahan: Ridha dapat menjadi penghapus dosa dan kesalahan.

 

Kesimpulan:

Ridha merupakan pondasi penting dalam agama Islam. Dengan ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad sebagai rasul, kita akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat. Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk senantiasa ridha terhadap segala ketentuan-Nya.

Semoga materi ini bermanfaat. Wa Allahu a'lam.

 

Kertosono, 26 Desember 2024


Download PDF : https://drive.google.com/file/d/1ViIw-j2GQjqrdQzN3-kYygj3w_4bk-w5/view?usp=sharing 

Download Word : https://docs.google.com/document/d/1s6tRcGrdMgbdQ-0yi9d-_u0gTv595Tyn/edit?usp=sharing&ouid=102043030285905299130&rtpof=true&sd=true

Senin, 27 Maret 2023

Kisah Tabib Yahudi Buka Klinik di Madinah



Pada suatu hari, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  kedatangan tamu seorang tabib Yahudi yang datang dari Palestina. Ia minta izin untuk buka praktik di kota Madinah. Rasulullah pun mengizinkan. Tabib Yahudi itupun mulai buka praktik. Tapi, satu bulan kemudian ia kembali datang menemui Rasulullah, kali ini untuk permisi pulang ke negerinya.

Rasulullah pun tak dapat menyembunyikan keheranannya. “Kenapa Anda begitu cepat meninggalkan kota ini, apa ada yang kurang menyenangkan di sini?,’’ tanya Rasulullah. “Tidak, Tuan. Semuanya baik-baik saja. Bahkan penduduk kota ini sungguh sangat menyenangkan,” kilah sang tabib.“Lalu, apa yang menjadi masalahnya?,” desak Rasulullah.

Sang tabib berterus terang, bahwa ia ingin cepat pulang ke negerinya karena selama satu bulan buka praktik di Madinah tak satupun warga kota yang datang untuk berobat padanya. Padahal, di negerinya ia termasuk tabib pakar yang terkenal dan banyak pasiennya.

Kemudian ia melanjutkan ceritanya. “Karena penasaran, saya pun berkeliling kota masuk kampung keluar kampung untuk mencari pasien yang sakit. Tapi, tak satupun saya jumpai orang sakit untuk saya obati. Saya merasa heran, seluruh warga kota dalam keadaan sehat wal’afiat. Belum pernah saya dapatkan kota dengan seluruh penduduknya yang sehat seperti di kota Madinah ini,” ujarnya panjang lebar.

“Lalu, saya bertanya kepada penduduk yang saya jumpai, apa rahasianya sehingga mereka hidup nyaris sehat sempurna?” lanjut sang tabib. “Lantas, apa jawaban mereka?,” Tanya Rasulullah. Mereka menjawab: “Kami adalah kaum yang tidak (akan) makan sebelum datang lapar. Dan apabila kami makan, tidak (sampai) kekenyangan. Begitulah jawab mereka, Tuan,” jelas sang tabib Yahudi itu kepada Rasulullah.

Mendengar cerita tabib tersebut, Rasulullah berkomentar, “Sungguh benar apa yang mereka katakan kepada tuan,” ujar Rasulullah seraya menyatir sebuah hadits, “Lambung manusia itu tempatnya segala penyakit, sedangkan pencegahan itu pokok dari segala pengobatan”. (HR. Ad-Dailami).


Sumber : https://www.panjimas.com/ragam/2014/06/24/kisah-tabib-yahudi-di-masa-rasulullah-yang-buka-klinik-di-madinah/

Mekanisme Autofagi Pada Orang Berpuasa

Mengenal Mekanisme Autofagi


Mekanisme autofagi merupakan gabungan dari regenerasi sekaligus pembersihan di saat bersamaan. Ibarat menekan tombol “reset”, ketika autophagy terjadi maka sel-sel yang sudah tidak lagi berfungsi akan dibuang atau diregenerasi.

Adanya proses ini juga merupakan adaptasi dan respons yang sangat baik terhadap pemicu stres oksidatif dan zat beracun yang terakumulasi di dalam sel-sel tubuh.

Autofagi bisa terjadi secara alami. Namun, saat berpuasa tubuh akan beradaptasi dan melakukan autofagi dengan lebih efisien. Alasannya, tubuh tidak mendapatkan makanan atau minuman selama rentang waktu sekitar 12 jam.


Ketika tubuh terbiasa dengan pola semacam ini, maka sel-sel tubuh juga akan beradaptasi dengan mengurangi
 kebutuhan kalori.


Mengingat energi yang masuk terbatas, maka sel tubuh akan membuang bagian yang sudah rusak. Kemudian, dilakukan daur ulang atau regenerasi sehingga bisa bekerja lebih optimal.

Manfaat mekanisme autofagi

Berikut adalah beberapa manfaat terjadinya autofagi untuk tubuh manusia.


1. Regenerasi sel


Fungsi paling utama dari autofagi adalah meremajakan sel-sel tubuh. Artinya, ini bisa melawan penuaan sekaligus membuat sel tubuh bisa berfungsi dengan baik. 


Itulah mengapa, mekanisme ini sangat penting dan bisa membuat seseorang lebih panjang umur.


2. Menjaga energi tetap stabil


Ketika berpuasa dan asupan kalori menurun, sel-sel tubuh tentu harus beradaptasi. Untuk bisa tetap berfungsi secara optimal, kalori digunakan seefektif mungkin. 


Begitu pula dengan sel-sel yang tak lagi berfungsi, akan dibuang atau regenerasi agar kinerjanya tidak terlalu kelelahan.


3. Membuang zat tidak berguna


Selain membuang atau meremajakan sel yang tak lagi berfungsi optimal, autofagi juga membantu membuang zat racun dari tubuh. Utamanya, protein yang berkaitan dengan penyakit saraf seperti Alzheimer dan penyakit Parkinson.


4. Potensi mencegah kanker


Mekanisme autofagi tidak selamanya berfungsi optimal karena bisa juga mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya usia seseorang. 


Meski demikian, ini pula yang membuat autofagi menjadi sorotan utama karena potensinya mencegah berkembangnya sel-sel kanker.


Idealnya, tubuh bisa mendeteksi sel-sel yang abnormal seperti sel kanker serta membuangnya lewat proses autofagi. 


Itulah mengapa banyak peneliti terus mencari tahu kemungkinan autofagi menurunkan risiko seseorang menderita kanker.


5. Melindungi sel hati


Studi dari jurnal Food and Chemical Toxicology menunjukkan bahwa autofagi melindungi sel hati dari potensi kerusakan, terutama akibat konsumsi obat-obatan dan minum alkohol berlebihan.


Selain itu, autofagi juga dianggap bisa menekan risiko mengalami penyakit hati seperti perlemakan hati non-alkoholik, penyakit Wilson, gagal hati, hingga penyakit lain akibat konsumsi alkohol berlebih dalam jangka panjang.

Bagaimana cara agar autofagi terjadi?


Ada beberapa kondisi yang bisa memicu terjadinya autofagi, utamanya saat tubuh dalam kondisi lapar. Contohnya seperti saat melakukan intermittent fasting, diet keto, dan tentunya puasa.


Bisa disimpulkan, puasa adalah cara paling efektif untuk memicu terjadinya autophagy. Ketika berpuasa, sel-sel dalam tubuh mengalami stres karena kalori yang masuk ke tubuh berkurang.


Untuk mengimbanginya, sel-sel tubuh akan memastikan kalori digunakan seefisien mungkin. Salah satu caranya adalah lewat autofagi, yaitu membuang zat atau molekul sampah yang sudah rusak.


Tak hanya itu, mekanisme ini juga memastikan sel bisa mengalami regenerasi sehingga dapat berfungsi optimal.


Selain berpuasa, aktivitas lain yang bisa memicu terjadinya autophagy adalah berolahraga. 


Menurut sebuah studi hewan laboratorium dalam jurnal Autophagy pada tahun 2012 lalu, aktivitas fisik bisa memicu terjadinya autofagi pada organ yang merupakan bagian dari proses regulasi metabolisme. Contohnya seperti otot, hati, pankreas, dan jaringan adiposa.




Rabu, 22 Maret 2023

Penjelasan Ilmiah Puasa Membuat Tubuh Sehat



Berpuasa Lebih Baik Bagimu, Jika Engkau Mengetahui


Kita sering mendengar ungkapan  "berpuasalah agar kamu sehat" atau "puasa membuat badan sehat". Namun, sedikit sekali kita mengetahui alasan ilmiah kesehatan maupun kedokteran yang menjelaskan tentang kenapa puasa membuat tubuh sehat.

Berikut ini akan dituliskan secara singkat penjelasan ilmiah tentang puasa membuat tubuh sehat, dari rangkumkan peraih nobel 2016 physiology or medicine dari Jepang Yoshinori Ohsumi.

Ilmuwan Jepang bernama Yoshinori Ohsumi telah membuktikan dan menemukan bahwa ketika seseorang lapar (shaum/puasa) dalam jangka waktu antara 8 jam hingga 16 jam, maka tubuh akan membentuk protein khusus di seluruh tubuh yang disebut autophagisom.

Konsep autophagy adalah membuat tubuh lapar (stress). Ketika tubuh seseorang lapar, maka sel-sel tubuhnya pun ikut lapar. Sel-sel yang lapar ini akan memakan sel-sel dirinya ( autophagy) yang sudah tidak beguna lagi atau sel-sel yang telah rusak atau sel mati, agar tidak menjadi sampah dalam tubuh (toksin). 

Tujuannya agar sel-sel mati ini tidak akan menghasilkan sampah asam membahayakan tubuh (toksin). 

Kesimpulannya pada tubuh orang yang sedang berpuasa akan membersihkan dirinya sendiri ( autolysis). 

Yoshinori Ohsumi telah membuktikan dan menemukan bahwa ketika seseorang lapar (shaum/puasa) selama 8 jam respon tubuh segera akan membentuk protein khusus di seluruh tubuh yang disebut autophagisom. Protein Autophagisom ini bisa dianalogkan sebagai sebuah sapu raksasa yang fungsinya mengumpulkan sel-sel mati yang tidak berguna dan bisa membahayakan tubuh untuk dikeluarkan ( detoksikasi). 

Sel-sel mati ini banyak dihasilkan oleh sel-sel yang sudah tua, sel-sel kanker atau sel-sel dari invasi kuman (virus atau bakteri) penyebab penyakit. 

Protein autophagisom tersebut menghancurkan dan memakan sel-sel berbahaya tersebut, lalu mengeluarkannya melalui sistem eksresi tubuh manusia. 

Sebagai kesimpulan dari riset ini, dokter Yoshinori Ohsumi menyarankan agar seseorang bisa menjalani praktek melaparkan diri (shaum/puasa) berkala dua atau tiga kali dalam seminggu. 

Ajaran Islam bagi setiap Muslim diwajibkan shaum/puasa satu bulan penuh di bulan Ramadan dan disunnahkan  Puasa Senin-Kamis serta puasa 3 hari berturut-turut di tengah bulan Hijriyah (shaul Ayyamul bidh). 

Artinya bahwa konsep autophagy sesungguhnya sudah disarankan sejak 15 abad yang lalu oleh Rasulullah SAW. 

_____________________________
Artikel karya : Ust. Suratno, S. Kep Ners - Ketua Ikadi Kab. Madiun

Senin, 20 Maret 2023

Tujuan Puasa

 

1. Bertakwa kepada Allah SWT

Tujuan berpuasa dalam Islam yang pertama adalah bertakwa kepada Allah SWT. Seorang muslim senantiasa dapat memperoleh ketakwaan apabila ia berpuasa bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar.

Namun, ketakwaan tersebut dapat diperoleh ketika seorang muslim berniat sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha dan menunaikan perintah Allah SWT. Hal itu sesuai dengan firman Allah sebagai berikut.

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah: 183)

 

2. Introspeksi Diri

Selain itu, tujuan berpuasa selanjutnya yakni sebagai sarana introspeksi diri terhadap kehidupan yang telah dijalani. Saat berpuasa, seorang muslim tengah menahan hawa dan nafsu.

Sehingga, seorang muslim tentu akan lebih khusyu' dalam menjalankan ibadahnya. Saat seorang muslim fokus beribadah, maka jiwa dan raganya pun akan senantiasa merasa lebih tenang.

Ketenangan itu lah yang mampu mendatangkan suasana hati yang baik untuk senantiasa berintrospeksi diri. Fungsi dari introspeksi diri tak lain untuk mengingat kembali perbuatan kita di masa lampau dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

 

3. Melatih untuk Menahan Diri

Tujuan berpuasa yang ketiga adalah untuk sarana menahan diri. Jika tidak berpuasa, maka manusia dapat melakukan berbagai hal secara berlebihan.

Misalnya tentang makanan, minuman, atau pun berbuat sewenang-wenangnya. Dengan berpuasa, maka ia senantiasa dapat mengontrol segala perbuatannya yang berpotensi merugikan diri sendiri hingga orang lain.

 

4. Mendapatkan Pintu Surga

Tujuan berpuasa yang selanjutnya yakni untuk mendapatkan pintu surga. Hal itu sebagaimana yang tertuang dalam sebuah hadis riwayat sahih berikut ini.

"Ketika Ramadan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan pun dibelenggu." (HR Imam Muslim)


Selain mendapatkan pintu surga, seorang muslim juga akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Hal itu menunjukkan betapa mulianya seorang muslim yang mau mengerjakan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh.

 

5. Meleburkan Dosa

Manusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna dengan segala akal dan pikirannya. Namun, hal itu tak membuat manusia senantiasa jauh dari perbuatan dosa.

Manusia justru seringkali berbuat kesalahan hingga dosa besar. Untuk itu, salah satu cara menghapuskannya adalah dengan berpuasa. Sebagaimana dalam sebuah hadis yang berbunyi sebagai berikut. 

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).

 

6. Menghindari Perbuatan Maksiat

Selain makan dan minum, berpuasa juga senantiasa menjaga seorang muslim dari perbuatan sia-sia. Salah satunya yakni perilaku maksiat dan kejahatan.

Dengan berpuasa, maka ia senantiasa akan merasa dilindungi dan semakin dilihat perilakunya oleh Allah SWT. Maka dari itu, seseorang yang menjalankan puasa akan lebih fokus untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

 

Sumber : https://www.merdeka.com/trending/tujuan-berpuasa-dalam-islam-ketahui-manfaatnya-bagi-kesehatan-tubuh-kln.html



Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com