Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 28 September 2012

Kisah Tukang Kayu



Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia geluti selama puluhan tahun.

Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya.

Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati.

Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, "Kerjakanlah dengan yang terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada."

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.

Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, "Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!"

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.

Inilah refleksi hidup kita!


Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan segenap hati dan bijaksana.

Sebab kehidupanmu saat ini adalah akibat dari pilihanmu di masa lalu. Masa depanmu adalalah hasil dari keputusanmu saat ini.

sumber: email Anne Ahira

Rabu, 26 September 2012

Hikmah Qurban

Setiap ajaran yang diperintahkan Allah SWT kepada hamba-Nya pasti mengandung hikmah dan pelajaran, baik yang menjalankannya maupun bagi masyarakat sekitarnya. Tak terkecuali dengan ibadah qurban ini. Di antara hikmah atau manfaat dari ibadah qurban adalah:

1. Pahala yang amat besar, yakni diumpamakan seperti banyaknya bulu binatang yang disembelih. Ini merupakan penggambaran betapa besarnya pahala ibadah qurban ini, sebagaimana disabdakan Nabi SAW,”Pada setiap bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan.” (HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

2. Terjadinya hubungan dengan Allah SWT yang semakin dekat. Apalagi jika penyembelihan korban dilaksanakan sendiri oleh yang berkorban.Ibadah ini bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3. Memudahkan dan memantapkan rasa solidaritas sosial dengan sesama kaum muslimin dan muslimat dengan umat lain, sehingga kesenjangan yang ada bisa terhapus terlebih lagi kondisi krisis ekonomi seperti sekarang ini ditambah lagi dengan konflik kemasyarakatan yang mengganggu ketenangan hidup berbangsa bernegara ini. Hal ini memang sejalan dengan makna yang terkandung di dalam ajaran yang sangat hanif ini, yaitu adanya dimensi sosial dengan penyaluran daging kurban, di samping dimensi vertikal antara hamba dengan Tuhan sebagai manifestasi ketaatan dalam menjalankan perintah Allah SWT.

4. Mendidik manusia yang melaksanakan qurban menjadi orang yang pandai bersyukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT sebagaimana termaktub dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (berkah dan rahmat Allah).”

5. Membuktikan bahwa kita termasuk orang-orang yang taat dalam menjalankan perintah AllahSWT. Karena dengan melaksanakan perintah agama, maka hidup akan diridhai, diberkahi dan senantiasa dirahmati oleh Allah SWT. Kebahagiaan hidup pun akan menjelma dan dirasakan (QS. Al Taghabun:16).

Membuktikan bahwa kita memiliki kesadaran sejarah, khususnya kehidupan serta perjuangan para Nabi dan Rasul Allah SWT yang penuh onak dan duri (tantangan dan ujian berat). Kesadaran sejarah ini tentu akan membuat kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengorbankan apa saja yang kita miliki, demi rahmat dan keridhaan Allah AWT bagi diri dan kehidupan kita. Nah tunggu apalagi…mari kita berkorban tahun ini…mumpung masih diberi kesempatan hidup di dunia yang fana ini.

Perintah berqurban ini hanya satu kali dalam setahun. Apabila kita hitung berapa banyakkah nikmat Allah SWT telah kita terima dan pergunakan? Sungguh sangat pantas berqurban itu, karena dengan berqurban diri kita semakin dekat dengan-Nya. Sementara hubungan sosial kita semakin indah kepada sesama mahkluk Tuhan termasuk menjaga binatang dan tumbuhan yang ada di bumi ini agar tidak punah karena keserakahan manusia dalam memburunya. Menjaga kelestarian alam semesta agar terus selaras menjadi tugas setiap manusia dan jangan malah merusaknya. Mudah-mudahan kita terhindar dari sifat lalai dari mensyukuri naikmat Allah SWT. Amin…



Sumber http://arumsekartaji.wordpress.com/2011/11/06/hikmah-qurban-2/
image : http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2010/10/keluarga-miskin.jpg

Sebuah Kisah yang Luar Biasa

Syahdan, ribuan tahun yang lampau. Seorang kakek tua menerima sebuah mimpi yang aneh dan menyesakkan hati, yakni perintah untuk menyembelih putranya sendiri, sebagai qurban persembahan kepada Allah. Kakek tua itu kemudian kita kenal sebagai Nabi Ibrahim a.s. dan anak yang disuruh untuk dikorbankan tersebut adalah Nabi Ismail a.s. yang kala itu baru berusia sekitar 13 tahun.

Setelah terbangun karena mimpi tersebut, kakek Ibrahim tentu merasa masygul dan gelisah. Betapa tidak? Allah menghadirkan putra bagi Nabi Ibrahim setelah berusia hampir 90an tahun. Kini, setelah sang anak memasuki usia remaja, dimana muncul sebuah pengharapan besar agar menjadi partner dakwah dan melanjutkan misi kenabian, tiba-tiba diperintahkan begitu saja untuk disembelih.


Apa nggak salah tuh mimpi? Masa` sih tu mimpi wahyu dari Allah? Mungkin begitu pertanyaan awal yang berkecamuk dikepala kakek Ibrahim. Namun, setelah mimpi serupa hadir untuk yang ketiga kalinya, barulah “sang kekasih Allah” ini yakin, bahwa mimpi tersebut datang dari Dzat yang dicintainya.


Pada keesokan hari, segera dipanggil putra kesayangannya. Ibrahim bukanlah tipikal ayah yang sangar dan semena-mena terhadap anak. Sebagai seorang pimpinan yang bijak, Ibrahim berusaha mengukur kesiapan diri orang yang dipimpinnya, dengan cara memaparkan apa yang dilihatnya dan menanyakan pendapat serta jawaban dari Ismail.


“ Maka, Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar. Maka, tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab : 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; jika Allah mengizinkan, kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS.Shoffat 37;101-102). Begitulah jawaban Ismail. Sebuah hasil pendidikan pemahaman ma`rifatullah yang sempurna tentunya. Mereka berdua segera bergegas menjalankan perintah Allah Swt tersebut.


Bukan Iblis la`natullah `alihi namanya juka sampai tinggal diam menyaksikan hamba yang demikian patuh kepada perintah Rabb-nya. Dalam perjalanan menuju tempat penyembelihan, Iblis kemudian menghampiri Nabi Ibrahim. Keduanya terlibat adu argumentasi mengenai validitas kebenaran mimpi tersebut. Iblis mencoba meyakinkan bahwa mimpi tersebut bukan dari Allah. Namun, Ibrahim membantah, sebab bukan kali ini saja beliau berinteraksi dengan Allah. Bisa jadi Nabi Ibrahim sangat hafal dengan kehendak Allah yang seringkali tidak masuk akal dan bertentangan dengan nafsu manusiawi. Perdebatan akhirnya usai, dengan keyakinan Nabi Ibrahim yang keluar sebagai pemenangnya.


Namun Iblis tidak menyerah begitu saja karena Iblis adalah makhuq yang istiqomah dengan tugasnya. Gagal dengan sang ayah, giliran sang anak yang jadi sasaran. Segera ditebarkan ide-ide yang menggelitik akal, agar Ismail memikirkan kembali dan merevisi jawabannya. Namun, ketika hati manusia telah terisi full tank dengan keagungan asma Allah, maka tak perlu lagi mempertimbangkan sebuah niat yang telah bulat dan pantang mencabut kembali semboyan sami`na wa atho`na yang telah terucap.


Masih ada satu tokoh lagi yang sering terabaikan begitu saja dalam kisah-kisah tentang qurban; kita selama ini telah melupakan teladan dari Ibu Hajar!. Sebagai seorang istri, perintah Allah tersebut tentu menimbulkan gejolak batin yang ruwet. Sebagaimana kisah seluruh anak manusia, Iblis la`natullah `alihi selalu kreatif dalam memanfaatkan segala celah-celah yang ada di hati.


Diperkirakan, sebelum Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pergi jauh menuju tempat penyembelihan, Iblis berusaha menyelinap dibalik haru biru perasaan seorang ibu ini, dan memprovokasi Ibu Hajar agar segera berlari mengejar, dan melancarkan pemberontakan aqidah kepada suaminya. Namun, semenjak dihadiahkan oleh Fir`aun sebagai budak Ibu Saroh (Istri pertama Nabi Ibrahim), hati Ibu Hajar telah lama terlatih oleh tempaan pemahaman tauhid.


Ibu Hajar juga pernah ditinggalkan sendirian bersama bayi Ismail dipadang Bakkah (sekarang Makkah), hanya berbekal keyakinan akan perlindungan dari Allah Ta`ala, 13 tahun sebelum mimpi menakutkan ini datang. Berikut petikan drama yang menggetarkan jiwa orang-orang yang ingin mendekat kembali kepada Allah, dan berusaha mengikuti jejak “kekasih-kekasih”


Ibrahim tidak menghentikan perjalanannya, tidak menengok, dan tidak pula mengatakan sepatah katapun. Mungkin kepedihannya terlalu dalam sehingga ia tidak bisa berbicara saat itu. Tapi, Siti Hajar tetap mengejarnya sambil berteriak, “Wahai Ibrahim, engkau akan pergi kemana? Apakah kamu akan meninggalkan kami dilembah ini, dia tidak ada seorangpun teman atau apapun juga?” Ibrahim tak bergeming dan tetap berjalan meninggalkan Mekkah tanpa menengok atau bicara.


Karena tidak mendapatkan tanggapan, Siti Hajar meninggikan suaranya untuk bertanya kepada Ibrahim, “Apakah Allah memerintahkanmu berbuat demikian?” Setelah mendengar pertanyaan itu, Ibrahim berhenti dan mengiyakan pertanyaan itu. Allah telah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan Siti Hajar dan Ismail dilembah ini (Al-Bukhari 4;583).


Setelah mendapatkan jawaban itu, Siti Hajar hanya punya satu pertanyaan, “Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami?” “Aku menitipkanmu pada perlindungan Allah.” Pada saat itu, terlepas dari berbagai pertanyaan tak terjawab yang memenuhi benaknya, keimanan dan kepatuhan Siti Hajar yang teguh kepada Allah langsung memegang kendali. Ucapan selamat tinggalnya kepada suaminya itu singkat, meski mengandung banyak makna mengenai sifat dan komitmen spiritualnya kepada Allah, “Aku ridho bersama Allah” ( Al-Bukhari 4:584).


Sehingga wajar jika tipuan Iblis yang menyatakan bahwa mimpi itu bukan dari Allah, serta mengajak Ibu Hajar memprotes dan menuntut suaminya, akhirnya “gatot” alias gagal total.
Kembali kepada Ibrahim dan Ismail, setelah sampai di tempat tujuan dan segala persiapan beres, Nabi Ismail segera dibaringkan. Hingga pisau tajam menempel di leher Ismail, keyakinan ayah dan anak ini tak sedikitpun goyah karena terganggu oleh detak jantung masing-masing, yang tentunya berdegup jauh diatas normal. Keimanan mereka kepada Allah demikian teguh sempurna.


Ketika pisau akan digerakkan untuk memotong leher Ismail, kemudian terdengarlah suara: “Dan Kami panggillah dia;'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian. Yaitu 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'. Demikianlah, Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS.37;104-111).


sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/02/hikmah-qurban/
ilustrasi : http://kangtutur.files.wordpress.com/2007/12/pb200050.jpg

7 Hikmah dan Keutamaan Qurban ‘Idul Adha






Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu istimewa, Hari Raya ‘Idul Adha, dimana di hari itu dan hari tasyrik dilakukan penyembelihan hewan qurba. Jika Anda belum memutuskan untuk berkurban tahun ini, ada baiknya Anda menyimak hikmah dan keutamaan qurban pada hari-hari tersebut:


1.     Kebaikan dari setiap helai bulu hewan kurban

Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” [HR. Ahmad dan ibn Majah]


2. Berkurban adalah ciri keislaman seseorang

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]


3. Ibadah kurban adalah salah satu ibadah yang paling disukai oleh Allah

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” [HR. Ibn Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan: Hadits ini adalah hasan gharib]


4. Berkurban membawa misi kepedulian pada sesama, menggembirakan kaum dhuafa

“Hari Raya Qurban adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah” [HR. Muslim]


5. Berkurban adalah ibadah yang paling utama

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Qur’an Surat Al Kautsar : 2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [Qur’an Surat Al An’am : 162]

Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat…”


6. Berkurban adalah sebagian dari syiar agama Islam

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” [Qur’an Surat Al Hajj : 34]


7. Mengenang ujian kecintaan dari Allah kepada Nabi Ibrahim

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Qur’an Surat Ash Shaffat : 102 - 107]


sUMBER http://fimadani.com/7-hikmah-dan-keutamaan-qurban-idul-adha/

Senin, 24 September 2012

Orang Kaya yang Beruntung


Di dunia ini terdapat dua golongan manusia yang mendapat keistimewaan dari Allah SWT. Dua golongan inilah yang sepatutnya dicita-citakan oleh setiap kaum muslimin. Mereka telah Allah SWT lebihkan di atas kebanyakan manusia yang lain. Mereka adalah sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Tidak boleh iri hati kecuali dua macam, seseorang yang diberi oleh Allah harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan haq (kebenaran)/dibelanjakan untuk kebaikan Siang malam, kemudian seseorang yang diberi oleh Allah ilmu hikmah maka ia pergunakan dan diajarkannya.
(H.R. Bukhari Muslim)

Kepada dua golongan inilah kita boleh iri hati dengan maksud agar kita bisa meniru mereka saat Allah nanti berikan anugerah. Orang kaya yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah sebagian kecil saja dari kebanyakan orang kaya, sebab manusia memiliki sifat kikir bila mendapatkan nikmat dari Allah, sebagaimana firman Allah, Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,Dan apabila ia mendapat kebaikan is amat kikir. (Q.S. al Ma"aarij [70]: 19-21)

Semakin banyak harta seseorang, semakin kikirlah dia. Ini yang biasa terjadi, sebab ia mengira bahwa hartanya yang banyak itu adalah hasil kerja kerasnya membanting tulang siang malam. Kebanyakan orang yang sukses secara materi kalau kita perhatikan di majalah-majalah atau tabloid mengatakan bahwa kesuksesannya adalah hasil kerja kerasnya atau berkat keuletan dan ketekunannya. Jarang sekali yang berkata bahwa semua itu semata-mata dari Allah, atau semua itu adalah ujian dari Allah, atau itu semua adalah amanah dari Allah dan sebagainya.

Orang kaya yang dermawan memiliki keistimewaan sebagaimana diterangkan Nabi SAW:
Abu Hurairah r.a. berkata: Orang-orang fakir miskin dari kaum muhajirin datang kepada Nabi SAW, mengeluh dan berkata, "Orang-orang, kaya telah memborong semua pahala dan tingkat-tingkat tinggi serta kebahagiaan yang abadi. Mereka shalat dan puasa sebagaimana kami shalat dan puasa, akan tetapi masih memiliki sisa-sisa harta untuk berhaji, berumrah, berjuang dan bersedekah. " Maka Nabi SAW bersabda, "Sukakah saya ajarkan kepadamu sesuatu yang dapat mengejar orang-orang yang telah dahulu dari kamu dan orang-orang kemudian dan tidak ada orang yang lebih utama dari kamu kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu itu?" Jawab mereka, "Baik, ya Rasulullah. " Bersabda Nabi SAW, "Kamu baca tasbih dan tahmid dan takbir tiap selesai shalat 33 kali."

Maka kemudian kembali pula orang-orang miskin itu kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Saudara-saudara kami yang kaya-kaya telah mendengar itu maka mereka mengerjakan perbuatan kami. " Maka Nabi SAW bersabda, "Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. (H.R. Muslim)

Penjelasan Nabi di atas menunjukkan bahwa orang-orang kaya yang taat kepada Allah dan rajin beribadah memiliki keutamaan yang lebih daripada mereka yang tidak memiliki kekayaan. Penjelasan Nabi di atas juga mematahkan pendapat sebagian kaum muslimin yang mencela kekayaan, anti kekayaan, atau menganggap kekayaan itu selalu buruk dan negatif, atau ada juga yang berpendapat bahwa kekayaan akan menghalangi seseorang masuk surga. Pendapat ini semuanya hanyalah menurut logika dan perasaan mereka semata-mata yang sesungguhnya tanpa dalil.

Yatim, Aset yang Mahal



ANAK yatim adalah aset kehidupan dan bakal sumber daya manusia yang berkualitas. Rasulullah Saw. sendiri memilih berdiri di pihak mereka karena kekuatan dan keutamaan ini. Bahkan kelak, kepada mereka yang mengasuh dan menyantuni anak-anak yatim, Rasulullah Saw. menjanjikan akan berdampingan di surga. Jaraknya amat rapat, sama seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah yang dipadukan.

Sebenarnya, tanggung jawab terhadap mereka merupakan kewajiban melekat terhadap siapa saja yang memiliki wewenang, dan lebih-lebih yang memiliki kekuasaan. Buktinya, dalam UUD 1945 ayat 34 juga telah dicantumkan tentang perlindungan terhadap anak-anak yatim ini. Akan tetapi, tentu saja hingga sekarang pun kita masih menunggu keseriusan dari pihak-pihak yang berkompeten dalam hal ini.

Sementara, alangkah nistanya bila kita hanya berpangku tangan merasa tidak bertanggung jawab, melihat mereka gelisah menunggu nasib. Bagi kita, bukan soal tertulis di undang-undang atau tidak, tetapi bagaimanakah agama kita menganjurkan kita bersikap dalam menghadapi persoalan. Undang-undang, sebagai buatan manusia, bisa saja berubah, tetapi hukum Allah tidak pernah mengalami perubahan.

Di samping karma dorongan dari anjuran Nabi, kita juga bisa mengambil hikmah lebih besar dari proses mendidik anak yatim. Secara naluri, mereka lebih siap mandiri dibanding anak-anak biasa. Karna itu, bila diarahkan secara benar, rasa sadar diri terhadap kemahaagungan Allah akan lebih total. Mereka memang tidak memiliki tempat mengadu yang lain di kala hati sedang dilanda pilu. Allah-lah tempatnya melaporkan segala keluh-kesah hatinya, gundah-­gulananya.

Akan tetapi, potensi kemandirian itu pun bisa mengarah kepada kerusakan bila tidak mendapatkan bimbingan yang benar. Anak-anak ini cenderung sulit diatur bila telanjur salah didik. Mereka merasa lepas dari pengawasan karena kebiasaan. Alangkah sayang bila terjadi yang demikian karena keburukan salah seorang anggota masyarakat berarti ancaman bagi anggota yang lain. Karenanya, anak-anak yatim merupakan aset yang mahal bila telah berhasil digali dan didayagunakan kemampuannya. Jangan sampai terlambat hingga menyebabkan aset itu berubah menjadi parasit dan sumber bencana yang lain.

Sungguh beruntung karena kini lembaga-lembaga yang mengurus anak yatim semakin banyak bermun­culan. Ibarat cendawan yang tumbuh di musim hujan, hampir di setiap daerah sebagian mereka tertampungdi lembaga-lembaga keyatiman, seperti panti asuhan ataupun yayasan-yayasan sejenis lainnya.

Namun, apakah masalahnya selesai di sini? Belum tentu. Sebab, dalam perjalanannya ternyata tidak sedikit anak-anak yatim ini yang harus mengalami nasib malang lanjutan. Mereka dijadikan objek mencari keuntungan. Yang ini tentu saja khusus terjadi di sebuah lembaga yang memang mengkhususkan diri mengurus anak-anak yatim. Bagi anak-anak malang yang kebetulan tumbuh di keluarga-keluarga biasa, atau pada keluarga yang memperalat mereka, tentu nasib anak yatim agak rentan. Paling-paling anak-anak itu kemudian menjadi objek kemarahan, tempat tumpahan kejengkelan, bila terjadi masalah dengan induk semangnya. Hal itu pun tetap berpengaruh buruk terhadap perkembangan kejiwaan mereka, hanya saja unsur "memanfaatkan" mereka tidak ada.

Kasus-kasus "memperalat" anak yatim kadang terjadi bila niat para pengasuhnya telah bergeser. Sekilas ini wajar mengingat mengasuh anak-anak begitu banyak, juga membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra, apalagi bila anak-anak itu semakin tidak bisa diatur, semakin bandel, dan tidak serajin dan sekreatif yang diinginkan. Lalu, para pengasuhnya merasa jengkel dan memilih untuk mendapatkan apa yang bisa didapat saja. Bila hanya sebatas ini, sebenarnya tidak mengapa. Toh orang tua sendiri pun, bila melihat anaknya tidak bisa diarahkan, juga akan jengkel. Tetapi, yang tidak sehat adalah bila hal ini kemudian menjadi salah kaprah yang berkelanjutan.

Anak yatim harus diperlakukan sama dengan yang lain. Mereka bisa menjadi penurut dan bisa menjadi amat nakal dan susah diatur. Ini merupakan ciri alamiah seorang anak. Maka, salahlah lembaga panti asuhan yang hanya mengambil anak-anak yang penurut dan membuang yang bandel. Karena, apa maknanya sebuah pendidikan jika kita membiarkan anak-anak yang sedang mencari perhatian itu dilepas dari pendidikan dan kasih sayang kita? Mengapa harus menyia-nyiakan amanah masyarakat yang telah banyak membiayai jika kita hanya memilih mereka yang baik-baik? 

image http://www.anneahira.com/images/zakat-mal.jpg


Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com