
Dalil Puasa
Ramadhan
Terkait dalil
kewajiban berpuasa, sudah Allah swt tegaskan dalam firman-Nya, “Hai orang-orang
yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Rasulullah ﷺ
juga bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwa tidak
ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah
hamba dan utusan Allah; (2) menunaikan shalat; (3) menunaikan zakat; (4)
menunaikan haji ke Baitullah; dan (5) berpuasa Ramadhan” (HR al-Bukhari dan
Muslim).
Keutamaan
Puasa Ramadhan
Sebagai bulan
paling mulia, melakukan puasa Ramadhan pada bulan itu memiliki banyak sekali
keutamaan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
1.
Diangkatnya
derajat
Salah satu
keutamaan yang diperoleh bagi orang yang melaksanakan puasa Ramadhan adalah
derajatnya di sisi Allah swt. akan diangkat. Terkait ini, Syekh ‘Izzuddin (w.
1181 M) mengutip salah satu hadits Nabi yang berbunyi, : “Ketika Ramadhan tiba,
dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan pun
dibelenggu” (HR Imam Muslim).
Menurut Syekh
‘Izuddin, maksud dibukanya pintu surga adalah pada bulan Ramadhan ada banyak
amal ibadah yang menyebabkan dibukanya pintu surga. Sementara maksud dikuncinya
pintu neraka adalah karena pada bulan tersebut sedikit perbuatan maksiat yang
menyebabkan dikuncinya pintu neraka. Sedangkan maksud setan dibelenggu karena
saat kondisi berpuasa, setan tidak menggoda manusia untuk bermaksiat
(‘Izzuddin, Maqâshidush Shaum, h. 12).
2.
Sebagai
kontrol syahwat
Keutamaan
lain dari berpuasa adalah mampu mengontrol syahwat. Ketika syahwat berhasil
dikontrol, akan terhindar dari godaan setan karena syahwat merupakan pintu
masuk utamanya. Jika setan tidak menggoda, akan terhindar hari perbuatan
maksiat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu untuk
menikah, maka menikahlah. Sesungguhnya menikah lebih bisa menundukkan pandangan
dan lebih mudah menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka
berpuasalah, sesungguhnya puasa itu adalah penekan syahwatnya” (HR Imam Ahmad
dan Imam al-Bukhari).
Menurut Imam
al-Ghazali (w. 1111 M), sumber utama perbuatan maksiat adalah hawa nafsu.
Sementara ‘bahan bakar’ nafsu itu sendiri adalah makanan. Saat seseorang
berpuasa, secara otomatis konsumsi makanan dalam tubuh berkurang. Dengan
begitu, ia mampu menundukkan hawa nafsu dan mencegah diri dari perbuatan
maksiat. (Al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulûmiddîn, juz 3, h. 35).
3.
Dilipatgandakan
pahala
Dalam
kalkulasi pahala, setiap amal ibadah akan dibalas sebesar 10, kali lipat 700
kali lipat, sampai besaran yang Allah kehendaki. Berbeda dengan puasa. Menurut
Imam Al-Qruthubi (w. 1273 M), saking besar pahala yang diperoleh orang yang
berpuasa di bulan Ramadhan, sampai-sampai hanya Allah yang tahu besarannya.
Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah ﷺ, “Setiap amalan kebaikan yang
dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang
semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang
akan membalasnya” (HR Muslim) (Hasan al-Musysyat, Is’âfu Ahlil Îmân, h. 34).
Bahkan, menurut
Syekh Utsman Syakir dalam mengutip Abul Hasan menjelaskan, setiap ibadah akan
dibalas surga oleh Allah. Berbeda dengan puasa, pahalanya adalah langsung
bersua dengan Allah di akhirat nanti, tanpa ada penghalang (hijâb) apapun.
Dalam klasifikasi pahala, level pahala tertinggi adalah berjumpa dengan Allah
kelak. (Utsman Syakhir, Durratun Nâshihîn, h. 13).
Waktu Puasa Ramadhan
Puasa
Ramadhan dilaksanakan selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan. Dalam hal
ini, penentuan kapan memasuki dan kapan berakhirnya bulan Ramadhan diputuskan
oleh pemerintah melalui Kementrian Agama dengan menggunakan metode ru’yah
(aktivitas mengamati visibilitas hilal, penampakan bulan sabit yang tampak
pertama kali setelah terjadinya ijtimak) dan hisab (perhitungan secara
matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan).
Untuk
durasinya, sama seperti puasa pada umumnya, yaitu dari mulai terbit fajar
sampai terbenamnya matahari. Selama durasi tersebut ia mesti mencegah dari
hal-hal yang membatalkan puasa sebagaimana puasa-puasa lain.
Lafal Niat
Puasa Ramadhan
Bagi orang
yang hendak melaksanakan puasa Ramadhan, ia wajib untuk berniat puasa.
Terhitung sejak matahari terbenam sampai terbit fajar. Berikut adalah lafal : Nawaitu
shauma ghadin ‘an adâ’i fardli syahri Ramadlâni hâdzihis sanati lillâhi ta‘âlâ
Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan
Ramadhan tahun ini karena Allah ta’âlâ.”
Menurut
mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan wajib dilakukan pada setiap malamnya.
Artinya, satu niat untuk satu kali berpuasa. Sementara menurut Imam Malik,
diperbolehkan satu kali niat puasa untuk satu bulan puasa penuh bulan Ramadhan.
Oleh karena itu kita disunnahkan berniat untuk satu bulan penuh pada malam
pertama Ramadhan, dengan tetap niat untuk puasa-puasa berikutnya. Supaya
andaikan nanti lupa niat, maka niat pada malam pertama itu bisa mencukupi.
(Qalyubi, Hâsyiyah Qalyûbî, juz 5, h. 365).
Berikut
adalah lafal niat untuk satu bulan penuh, sebagaimana dijelaskan oleh KH
A Idris Marzuki (w. 2014 M) dalam kitab Sabîl al-Hudâ: Nawaitu
shauma jamî’i syahri ramadlâni hadzihissanati taqlîdan lil imâm mâlikin fardlan
lillâhi ta’âlâ. Artinya: “Saya berniat puasa selama satu bulan Ramadhan
tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, fardhu karena Allah ta’âlâ.” (KH A Idris
Marzuki, Sabîl al-Hudâ, h. 51).
Konsekuensi
jika Meninggalkan Puasa Ramadhan
Ada
konsekuensi bagi orang yang meninggalkan puasa Ramadhan. Syekh Salim bin Sumair
dalam Safînah an-Najâh menjelaskan, adakalanya wajib qadlha sekaligus bayar
fidyah, yaitu bagi orang yang tidak berpuasa karena kekhawatiran pada selain
dirinya (seperti ibu menyusui yang khawatir terhadap kesehatan bayinya) dan
orang yang memiliki tanggungan qadha puasa Ramadhan, tetapi belum diqadha
sampai datang bulan Ramadhan berikutnya.
Adakalanya
hanya wajib qadha, hal ini banyak terjadi seperti orang sakit, orang yang
melakukan perjalanan jauh, lupa niat pada waktu malam, dan lain-lain.