Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 29 Oktober 2012

Menjaga Gairah Cinta Malam Pertama


Pernikahan adalah sebuah ikatan yang harus diniatkan untuk selamanya, sepanjang hayat dikandung badan. Tidak boleh ada pernikahan yang dibatasi oleh waktu tertentu, misalnya setahun atau sepuluh tahun, yang lazim disebut sebagai kawin kontrak. Karena ikatan ini akan terjadi “selamanya”, sepanjang usia hidup kita, maka ukuran waktunya menjadi tidak terbatas. Sesuai jatah umur kita masing-masing.

Pada pengantin baru, suasana cinta dan kasih sayang di antara suami dan istri sedemikian kuat dan hangat. Bahkan panas membara. Ada kehangatan cinta yang selalu menggelora dalam jiwa, selalu ingin berdua, dan tak mau berpisah lama. Ingat lagu lawas yang dinyanyikan bang Chrisye, “Malam Pertama”, bagaimana suasana kehangatan cinta kasih sepasang pengantin yang dimabuk asmara? Coba dengarkan kembali lantunan merdu lagunya:

Pagi yang cerah
Senyum di bibir merah
Dari balik jendela
Sinar mentari lembut menyapa
Kita berdua
Yang t’lah berpeluk mesra
Menikmati hangatnya
Suasana jiwa insan bercinta
Ku tidur di dalam pelukmu
Di antara rambut yang terurai
Dan degup di dada
Kudengar kurasa
Membisikkan kata bahagia
Pagi yang terang
Berlalu tanpa kata
Hanyut kita berdua
Dalam lamunan malam pertama
Ku tidur di dalam pelukmu
Menetes air mata bahagia
Kuberikan semua
Sepenuh jiwa
Diriku cintaku
Dan segalanya untukmu

Mendengar kembali lagu ini setelah dua puluh satu tahun menikah, saya kembali merasa merinding. Serasa sesak dada mengingat indahnya malam pertama. Ingin selalu merasakannya. Hah… Sudah berlalu dua puluh satu tahun, tapi degupnya masih bisa dipanggil kembali saat ini.

Sangat terasa detak-detak jantung yang berdegup kuat di malam pertama. Sebuah cinta yang menggelora, dahsyat luar biasa. Rasa memiliki, rasa mencintai, bercampur hasrat ingin menikmati, semua menjadi adonan yang membuat hangat bahkan panasnya cinta. Hari-hari pertama dalam kehidupan rumah tangga, menjadi momentum paling indah sepanjang hidup yang tidak akan terlupakan selamanya.

Namun seiring berjalannya waktu, perasaan cinta dan gairah yang sangat menggelora itu perlahan menjadi reda. Setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun hidup berkeluarga, semakin terasa hampa dan tidak lagi memiliki hasrat yang menyala. Di mana cinta yang dulu demikian kuat menggelora? Di mana rasa hangat dan berdegub-degub dada karena ingin selalu berdua? Semakin lama, rasa itu semakin tiada. Hidup menjadi biasa saja, hubungan suami istri sekadar kewajiban semata. Tidak lagi dinikmati sebagai pesta.

Bosan dan Jenuh Bisa Membunuh Cinta

Jika rasa bosan dan jenuh telah mendera, apalagi Anda mulai merasa lebih nyaman apabila sendiri, terpisah dari pasangan, maka inilah tanda yang amat kuat bahwa cinta dalam keluarga Anda mulai pudar. Anda telah mengalami kejenuhan hidup berumah tangga, karena digerus oleh kesibukan dan rutinitas. Anda lalai menjaga gairah cinta malam pertama, dan membiarkan semua berjalan apa adanya, tanpa upaya untuk menguatkan kehangatannya.

Lihat rumah tangga Budi dan Novi. Sesungguhnya rumah tangga mereka tampak bahagia dan tak ada kekurangan yang bisa dicela oleh orang-orang yang melihatnya. Akan tetapi jika dilihat di dalamnya, yang terjadi sesungguhnya adalah sandiwara. Budi dan Novi berada dalam jarak psikologis yang sulit disatukan.
Masing-masing merasa tidak butuh dengan pasangannya. Novi asyik dengan kesibukannya mengurus Shinta dan Boby, dua anak yang mungil dan lucu. Shinta masuk kelas satu Sekolah Dasar, Boby mengikuti program Pendidikan Anak Usia Dini. Sementara itu Bagus sibuk dengan urusan bisnis yang amat menguras tenaga dan waktu, juga perhatiannya. Sesampai di rumah, kebutuhan Budi adalah istirahat, melepas lelah. Ia tidak ingin diganggu oleh istri dan ulah dua anaknya. Sementara itu, sebenarnya Novi ingin sekali berbagi cerita, ingin sekali dimanja dan mendapatkan perhatian sepenuhnya.

Namun karena keinginan Novi tidak pernah menjadi nyata, semakin lama ia percaya bahwa ia harus bisa memupus angan-angan indahnya berumah tangga. Ia harus melaksanakan semua kegiatannya sendiri. Ia menyelesaikan semua masalahnya sendiri, karena Budi tak mau mengerti. Ia mengelola dua anaknya sendiri, dan akhirnya ia pun menikmati hidup sebagai diri yang mandiri, kendatipun memiliki suami. Kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga masing-masing menikmati indahnya hidup sendiri.
Masing-masing merasakan kenyamanan dalam keadaan kesendirian, dan merasa tidak butuh lagi dengan kehadiran pasangan. Jika keadaan ini dipertahankan, kematian cinta akan sangat mudah didapatkan. Gairah cinta malam pertama semakin jauh dari harapan dan tinggal menjadi kenangan. Budi dan Novi akan semakin kesulitan untuk menjemput gairah cinta malam pertama yang dulu pernah mereka miliki dan pernah mereka nikmati. Kini, itu semua tinggal gambar di album kenangan pernikahan yang tetap tersimpan dan sangat jarang mereka buka kembali.

Kembalikan Gairah Malam Pertama

Hati-hati, gejala kejenuhan dan kebosanan hidup berumah tangga bisa menghinggapi siapa saja. Jangan sampai hal itu terjadi pada keluarga Anda. Kadang dengan alasan kesibukan, mengejar karier, mengejar target prestasi, mengejar posisi, kedudukan dan jabatan, keharmonisan keluarga rela ditelantarkan. Alih-alih mendapatkan apa yang dikejar, yang terjadi justru meredupkan cinta dalam keluarga, sementara karier dan kedudukan belum tentu bias didapatkan.

Apabila Anda mulai merasakan kenyamanan saat sendirian, dan bosan dengan pasangan, segeralah melakukan evaluasi dan mengambil tindakan darurat yang diperlukan. Raih kembali gairah cinta yang telah mulai beranjak meninggalkan hati dan perasaan Anda. Jika perasaan itu Anda biarkan saja bercokol dalam jiwa, gairah cinta malam pertama akan semakin menjauh dari keluarga Anda. Semakin sulit bagi Anda untuk mendapatkannya kembali.

Berhentilah sejenak dari rutinitas. Ambillah cuti, buat kegiatan refreshing dengan keluarga. Letakkan dulu semua beban pekerjaan, beban mengejar karier, beban permasalahan di perusahaan. Istirahatkan hati dan pikiran dari mengejar urusan pekerjaan. Beberapa hari saja. Buat perayaan cinta Anda bersama pasangan.
Ingat kembali kejadian-kejadian indah dan lucu yang akan menguatkan kembali kehangatan cinta Anda. Saat pertama kali bertemu, saat janjian dan kencan, saat menikmati ritual malam pertama, saat mengalami kekakuan di awal hidup berumah tangga. Semua kenangan indah bisa dimunculkan kembali, dalam suasana segar dan tanpa tekanan rutinitas pekerjaan. Tertawa bersama, melewati jalan kenangan, mengunjungi restoran tempat pertama kali kencan, mengunjungi hotel yang pernah memberikan kenangan….

Semua gairah itu bisa Anda dapatkan lagi, jika Anda bersedia merawatnya. Hangat, bahkan terasa panas menggelora. Cinta sepasang kekasih yang sudah sepuluh tahun berumah tangga, atau sudah dua puluh tahun berumah tangga, atau lebih dari itu. Kegairahan cinta malam pertama bias kembali Anda dapatkan dan Anda rayakan bersama pasangan. Rajinlah merawat dan menyiram bara cinta Anda dengan bensin atau spiritus, agar kembali terbakar dan menyala-nyala.

Kini Anda siap menikmatinya. Gairah cinta di malam pertama, setelah dua puluh tahun berumah tangga.

Kisah Perempuan Gila Pesta, Masuk Islam dan Pakai Jilbab


Kebahagiaan sejati dan menemukan ketenangan hidup, adalah tujuan sejati manusia. Ia bisa ditemukan dengan beragam cara, misalnya berbuat kebaikan untuk sesama, pergi ke tempat sunyi untuk berkontemplasi, atau mendalami ajaran agama.

Salah satunya dialami Heather Matthews (27), penampilannya berubah drastis, perempuan "gila pesta" dengan penampilan super-minim  kini berhijab atau mengenakan jilbab setelah memeluk agama Islam. Baginya Islam mengenalkannya pada kesejatian cinta dan kebahagiaan, yang tidak ia jumpai di gaya hidup lamanya.

Matthews, ibu dua anak itu, masuk Islam empat minggu lalu, dua bulan setelah pulang dari liburan di Ibiza. Ia kini bahkan mengatakan, foto-foto liburannya di Ibiza, tanpa jilbab, adalah sebuah bukti kekeliruan bagaimana dunia Barat mendefinisikan kecantikan.

"Aku melihat cara gadis-gadis masa kini berperilaku dan berdandan, mati-matian menciptakan imej untuk mereka tunjukkan pada orang lain, terutama para pria," kata dia. "Ini adalah soal menghormati diri sendiri. Jika Anda berpakaian dan berperilaku dengan cara tertentu, baik atau buruk, itu akan mempengaruhi cara orang memperlakukan Anda."

"Islam mengajarkan pada saya tentang kesejatian cinta, bukan hasrat palsu dan nafsu. Saat ini saya bahkan memandang perjodohan adalah hal yang logis."

Studi kelompok lintas agama, Faith Matters menemukan, jumlah warga Inggris yang akhirnya memeluk agama Islam saat ini melewati angka 100.000, dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Laporan tersebut juga menyebut, dua per tiganya adalah perempuan, dengan rata-rata usia 27 tahun. Seperti halnya Matthews.

Jalannya menuju Islam diawali justru ketika ia meyakinkan mantan suaminya, Jerrome, yang baru saja menjadi muslim, bahwa Islam adalah agama yang salah. Ia yang curiga pada Islam, mulai banyak membaca untuk mendukung argumennya.

Meski mereka bercerai tahun lalu, Heather Matthews terus mempelajari Islam dan makin mengerti. Akhirnya, empat minggu lalu ia mengucap kalimat syahadat di depan ulama lokal. "Aku saat ini memiliki saudari-saudari muslim, mereka membelikan aku hijab dan buku-buku Islami untuk merayakannya. Ini luar biasa."

Keputusannya itu menimbulkan reaksi dari teman-teman dan keluarga. Juga kenalannya yang kebetulan berpapasan, ternganga melihat kepalanya berjilbab. "Saat memakai jilbab, aku bisa tersenyum pada orang, tanpa membuat mereka berpikir, itu godaan secara seksual," kata dia seperti dilansir Daily Mail.

Matthews juga sepakat dengan aturan Islam, yang melarang hubungan seks di luar pernikahan. Juga menyimpan kecantikan hanya untuk suami. Ia kini berhenti minum alkohol, hanya mengonsumsi makanan halal, dan berniat puasa penuh di Bulan Ramadhan.

Tak ada paksaan dalam beragama
Meski menemukan ketenangan dalam Islam, Matthews tak akan memaksakan agama barunya pada dua putrinya, Ellah (5) dan Halle (2) hasil pernikahannya dengan Jerrome. Ia memberi kesempatan pada dua putrinya untuk menemukan jalan hidupnya sendiri.

Seperti halnya dirinya. "Orang bisa saja berprasangka, aku dalam tekanan. Tapi tidak. Aku perempuan yang kuat, percaya diri, dan berpikiran bebas," kata dia. "Aku mungkin masuk kategori orang-orang yang dianggap tak mungkin masuk Islam."

Namun, Matthews yakin, ia tak menyesali keputusannya. "Mungkin mengejutkan, namun aku memilih Islam demi cinta dan kebahagiaan. Yang jelas hidupku telah berubah." (umi)

Minggu, 28 Oktober 2012

Ciri-ciri Haji Mabrur


Haji mabrur merupakan idaman setiap orang yang menunaikan ibadah haji. Bukan saja karena besar pahalanya berupa sorga jannatunna’im, tapi juga ampunan Allah dan keridhoannya merupakan hal penting untuk setiap muslim yang mengharapkan kehidupan bahagia di dunia dan di akhirat.

Haji mabrur atau haji yang diterima oleh Allah SWT, lawannya adalah haji mardud (haji yang ditolak Allah). Kalau didefinisikan, haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan secara sempurna dengan memenuhi semua syarat, wajib dan rukunnya dan Selama dalam ibadah haji tsb. tidak ada rafats (omong kotor), fusuq (kedurhakaan) dan tidak ada jidal (bantah-bantahan/pertengkaran). (Al Baqarah 197). Rasulullah pernah menyatakan : Barangsiapa yang melakukan ibadah haji karena Allah kemudian tidak berkata kotor dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan fasik/durhaka, ia akan pulang tanpa dosa sebagaimana ketika ia dilahirkan ibunya.( Muttafaq alaih).

Yang dimaksud dengan rafats adalah bersebadan atau hal-hal yang mengarah kepada hubungan seksual tersebut seperti pandangan penuh birahi, berbicara kotor, rayuan terhadap istri dsb. Dalam tafsir Ibni Katsir disebutkan : Barangsiapa yang sudah berihram untuk haji atau umrah hendaknya menjauhi rafats yaitu jima’(bersebadan)(lih. Tafsir Ibnu Katsir Juz I dan Tafsir At Thobari juz II hal 273-278)

Sedangkan yang dimaksud fusuq dalam pandangan para ulama adalah a.l.: Pertama, semua perbuatan maksiat atau melanggar perintah Allah( lih At Thibari Juz II, hal279-281), Kedua, Melanggar larangan-larangan dalam Ihram. (lih Ibid. hal 281) Ketiga , al fusuq artinya mencela orang lain.(ibid hal 281) Keempat, menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada berhala. Dari semua pendapat ulama di atas sebenarnya tidak ada pertentangan yang semuanya bisa disimpulkan bahwa al fusuq berarti semua bentuk perbuatan maksiat kepada Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh As Syaukani bahwa al fusuq berarti semua bentuk kemaksiatan dan tidak perlu dikhususkan kepada satu perbuatan maksiat saja.(lih.Majalah Tau’iyah Islamiyah nomor 212 Dzulhijjah 1416 H, hal.40)

Makna al jidal dalam ayat adalah berbantah-bantahan, pertengakaran dan atau perdebatan kusir yang semuanya itu bisa menimbulkan permusuhan. Termasuk dalam katagori jidal ini adalah, Pertama, pertengakaran tentang syarat rukun dan wajib haji, Pertengkaran tentang waktu pelaksanaan haji dan ketiga, pertengaran umumnya yang bisa menimbulkan permusuhan. Semua bentuk pertengkaran di atas dilarang keras karena maksud dan tujuan ibadah haji adalah merendah dan bertaqarrub kepada kepada Allah sebaik mungkin dengan cara menjauhi semua bentuk kesombongan, keburukan dan kemaksiatan.

Ciri-ciri haji mabrur

Kemabruran haji seseorang bisa dilihat dari ciri-ciri berikut:

1. Ibadah haji dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan karena gengsi atau niat keliru lainnya.

2. Biaya untuk naik haji berasal dari harta yang halal dan tidak tercampur sedikitpun dengan harta haram. Harta haram seperti riba , hasil korupsi dan kolusi akan merusak harta halal dan merusak pahala hajinya sehingga menjadi haji mardud (ditolak Allah ).

3. Menafkahkan hartanya dengan ikhlas, lapang dada, dan sesuai dengan kemampuannya, tidak berlebihan dan tidak kikir.

4. Berlaku sabar dan tabah selama ibadah haji. Ketika menghadapi berbagai macam kesusahan dan ujian selama haji setiap jamaah wajib tabah dan sabar seraya mengharapkan pahala yang besar di balik semua cobaan tsb.

5. Bersikap tawadlu’ dan khusyu’, tidak merasa sombong atau takabur.

6. Berprilaku baik selama haji. Seorang yang sedang melaksanakan manasik haji harus selalu sopan santun, bertutur kata lembut, saling mengucapkan salam dan penuh cinta kasih sesama jemaah lainnya, walaupun dari negara dan bangsa lain. Dalam sebuah hadits disebutkan : “Haji Mabrur tidak ada balasannya kecuali sorga. Ditanyakan kepada Rasulullah apa tanda kemabruran haji itu? Rasulullah bersabda: “Memberi makanan dan berkata baik” (HR Ahmad, Thabrany, Ibnu Khuzaimah, Al Baihaqi dan al Hakim) Dalam Riwayat Ahmad dan Al Baihaqi disebutkan : “ Memberi makan dan menyebarkan salam”

7. Bersyukur kehadirat Allah atas semua nikmat dan karuniaNya. Mengharapkan untuk dirinya dan jamaah lainnya agar bisa kembali lagi ke tanah haram. Semua obrolan dengan kawan-kawannya berkisar hal-hal yang mendorong untuk pergi ke tanah suci. jamaah haji yang suka menceritakan kesusahan, kesulitan dan hambatan selama dalam perjalanan haji, dikhawatirkan tidak mabrur hajinya bahkan mungkin bisa menghalangi orang untuk berniat melaksanakan haji.

8. Yakin bahwa ibadah hajinya akan diterima oleh Allah. Seorang yang akan melaksanakan manasik haji selayaknya memiliki keyakinan bahwa ibadahnya akan diterima oleh Allah dan semua keinginannya akan diistijabahi atau dikabulkan.

9. Memelihara semua pahala yang telah ia usahakan selama haji. Ia memulai hidup baru setelah haji, dengan berbagai amalan baik yang menambah keimanan dan ketakwaannya

( ACHMAD SATORI ISMAIL)


Hati-hati dengan LIKE Anda di Facebook


Para pengguna Facebook yang mengklik link yang berbunyi “1. Klik on photo. 2. Comment "jump". 3. Watch and see what happen.” bisa jadi mendapatkan kejutan yang tidak menyenangkan. Link seperti gambar ini tidak berpengaruh apa-apa dan hanya digunakan untuk mengumpulkan “like” yang akan dijual. Membuat para penipu online menjadi kaya
.
Like yang Anda berikan bisa membuat mereka makin kaya. (Facebook)
Begitu telah mengumpulkan banyak “like”, halaman itu kemudian dijual untuk mendapatkan uang kepada para pelaku bisnis agar mereka agar terlihat populer.

Sebuah blog yang diposkan oleh Daylan Pearce, ahli mesin pencari di Next Digital di Melbourne, menjelaskan bagaimana cara kerja penipuan (scam) dan menunjukkan bagaimana halaman-halaman tersebut dijual.

Unggahan gambar yang berisi deskripsi seperti “Klik ‘like’ jika Anda bisa melihat harimau”, atau “Berikan komentar dan lihatlah apa yang akan terjadi” digunakan untuk mengumpulkan “like” dan komentar untuk sejumlah halaman.

Begitu halamannya telah mengumpulkan ribuan “like” dan komentar, maka halaman itu akan memiliki posisi tertinggi dalam News Feed para pengguna Facebook. “Like” bagaikan mata uang bagi situs tersebut.

Pearce mengungkapkan bahwa halaman dengan 100.000 “like” dapat dijual seharga $200 (sekitar Rp2 juta).


Pearce menjelaskan dalam blognya, semakin banyak “like” dan “share” dan komentar yang didapat, semakin terbuka pula peluang mendapatkan keuntungan dalam jangka waktu pendek dan panjang.

Begitu sebuah halaman sudah mendapatkan 700 ribu “like” (dengan cara menipu), maka halaman itu akan dijual ke orang lain yang ingin populer dalam waktu cepat. Informasi halaman pun diubah — bukan lagi soal kanker, binatang dsb tetapi mengenai bisnis.

David Em, peniliti jaringan keamanan senior di Kaspersky Lab berkata, “Situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter mengalami peningkatan target kejahatan dunia maya.”

“Alasan utamanya adalah kepercayaan yang dirasakan oleh orang-orang saat berhubungan dengan para sahabat mereka secara online. Orang-orang lebih senang mengklik sebuah link yang dibagikan teman, dan rasa kepercayaan itulah yang dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan di dunia maya.” 

Bunda, rindu ini melangit lagi!



Cintamu padaku, Berakar di sukma Rindangnya memenuhi jiwa Sepanjang masa (sebuah sumber)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya,
Ibunya telah mengandungnya Dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, ….” 
(QS Luqman : 14)

Bunda, malam ini tiba-tiba saja aku mengingatmu dengan utuh. Gurat syahdumu, tulus senyummu bahkan gaya berceritamu di masa kecil. Tiba-tiba saja bayangan sosok anggunmu dengan sorot mata penuh cinta hadir dalam jeda yang panjang kemudian menghilang. Sedang apakah saat ini bunda? Membaca buku? Tadarus Al-Qur’an? Menonton televisi atau ah entahlah, aku tidak yakin apa yang sedang bunda kerjakan saat ini. Mungkin juga bunda tengah bersiap di peraduan. Malam sudah akan beranjak. Tidur bunda selalu awal. Itu yang kutau. Ah, semoga bunda baik-baik saja.

Bunda, mata ini sudah dari tadi berkabut. Orang-orang yang lalu lalang tak lagi aku pedulikan. Pandangan ini bahkan telah samar. Bening air mata mungkin sebentar lagi luruh. Duh, mengapa lama sekali petugas itu memanggil dan menyerahkah obat yang akan aku tebus. Bunda, aku takut.

Bunda, betapa aku ingin menujumu detik ini juga. Merengkuh banyak kekuatan yang seringkali engkau persembahkan ketika masalah tengah menghadang. Memetik bulir-bulir kedamaian yang selalu kau hunjamkan teguh ke kedalaman jiwa. “Bunda yakin, Allah pasti memberikan jalan atas masalahmu. Allah tahu batas kemampuanmu. Ia sudah menakarnya. Kamu yang harus yakin.”

Bunda, betapa bahagia jika saat ini engkau nyata di hadapanku, inginnya aku bersimpuh di pangkuan dan meneguk percik-percik pinta yang kau senandungkan sempurna kepada Allahu Rabbana. “Semoga anak bunda jadi anak yang shalihah, pintar dan mendapat pendamping hidup yang shalih”, “Semoga kamu, nak, sehat dan diberikan rezeki yang berkah”.

Bunda, sungguh gembira tak terkira bila kau ada di sini sekarang, hingga dengan bebas aku meminta kesediaanmu untuk membaluri jiwa dengan param hangat doa-doa ikhlasmu hingga ketenangan itu menjulang. Bunda betapa ingin ku raih itu semua sekarang juga. Dada ini bunda, seperti diterjang beribu gempa.

Tahukah bunda, dokter yang memeriksaku barusan memberitahu bahwa janin yang tengah ku kandung tidak bergerak. Aku melihatnya bunda. Gumpalan kecil itu terlihat di layar monitor jelas sekali. Aku melihatnya bunda. Si kecil yang Allah amanahkan di dalam rahim. Dokter mengguncang-guncang alat itu agar si kecil bergerak. Berkali-kali. Lagi dan lagi. Ia diam bunda. Senyap. “Allah, janin kecilku.”

“Bu, saya masih belum yakin dengan keadaan janin ibu. Dua minggu yang akan datang, kontrol lagi yah, untuk kepastiannya,” suara dokter sayup-sayup singgah di telinga. Ia menuliskan resep dan dengan senyuman tulus mengangsurkan kertas itu ke hadapan. “Sabar ya bu, banyak berdo’a,” tambahnya menenangkan.

Bunda, kecemasan ini begitu kental. Aku merasakannya sekarang perkataan bunda di waktu lalu. “Nak, jangan buat bunda cemas, hati bunda seperti belah ketika kau belum datang juga, lain kali telpon jika akan menginap”, “Nak, makanlah, agar sakitmu segera sembuh, bunda tak bisa tidur melihatmu berbaring lemah, bunda cemas nak, sungguh!”. Duh bunda, aku tahu khawatir itu saat ini.

Dua bulan yang lalu dokter memberi tahu bahwa aku resmi menjadi seorang ibunda. Dan sejak saat itu, aku mulai merasakan perasaan yang tumbuh berganti-ganti. Kesayangan, kebahagiaan, kecemasan hingga perasaan tanpa nama. Bunda, betapa tidak mudah ternyata menyandang gelar itu. Lelah berhari-hari karena mual dan pusing. Menghindari banyak makanan dan menelan obat dan vitamin agar janin yang dikandung sehat. Aku juga harus berhati-hati dalam banyak hal. Dan semuanya, segalanya, demi sesosok cinta di dalam sana.

Bunda, seperti ucapanmu bahwa do’a seorang bunda seperti tuah, seperti bisa, selalu ampuh. Maka aku memohon kepadamu, do’akan agar amanah Allah yang tengah ku kandung baik-baik saja. Pintakan kepada Allah, agar si kecil tumbuh dengan sempurna. Aku juga selalu berdoa untuk amanah ini, do’a yang bunda sendiri ajarkan,
“Ya Allah, lindungilah ia yang berada di rahim hamba, jadikanlah ia dalam keadaan baik, bentuk yang sempurna, rupa yang elok, dan teguhkanlah kelak dan hatinya keimanan kepada Mu, mengikuti sunnah Rasul Muhammad, berikanlah kebaikan untuknya di dunia dan akhirat.”

Aku sayang bunda. Sungguh. Meski aku tahu sayang ini hanya seujung kuku dari bentang cakrawala cinta terindahmu. Meski sangat nyata rindu ini hanya setitik kecil di samudera penantianmu. Meski sangat jelas, ingatan kepada bunda bukanlah apa-apa dibanding semua yang bunda lakukan. Pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, sujud-sujud bunda, bahkan air mata kesedihan. Tak tertebus. Tanpa batas. Semoga Allah sajalah yang membalas itu semua. Surga.

Bunda, sudah berapa lama kita tidak bertemu. Rindu padamu bunda, membumbung tinggi. Bunda, perkenankan aku bersimpuh dari jauh. Dalam gundah. Dalam lelah. Di setiap detak tak tentu. Serta dalam degup yang menderu. Ingin kusampaikan untai kata ini di gendang telinga mu “Bunda, rindu ini melangit lagi!”

***

Husnul Mubarikah

Selasa, 23 Oktober 2012

Bisnis yang Dijamin Tidak Rugi


Baru-baru ini ada berita yang menghebohkan, salah satu perusahaan Robert T Kiyosaki bangkrut. Tidak tahu pasti berita tersebut benar atau tidak. Mungkin Anda juga enggan mencari kebenaran berita itu. Mengapa? Walau dikelola orang hebat sekalipun, bisnis apapun berpeluang bangkrut. Kalau kita berpikir lebih jauh, mungkin kita berpikir jangan-jangan ini strategi bisnis Kiyosaki untuk meraih keuntungan.

Bicara bisnis bangkrut, semua bisnis berpeluang rugi. Hanya tiga jenis bisnis yang dijamin tidak akan rugi selama-lamanya. Anda ingin berbisnis yang tidak akan pernah rugi? Berbisnislah ketiga hal tersebut segera, jangan ditunda-tunda karena yang menjamin tidak rugi adalah Allah SWT, Sang Maha Tahu. Mau? Benar?

Nah, apa saja tiga jenis bisnis yang dijamin tidak akan pernah rugi itu? Di dalam Al-Qur’an surat Al Fathir: 29, Allah memberitahukan: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”

Bisnis yang dijamin tidak rugi hanya tiga, yaitu: membaca Al Qur’an, mendirikan sholat, dan sedekah. Jadi, segeralah melakukan ketiga bisnis tersebut, maka dijamin tidak akan pernah merugi.  Hebat ya? Modalnya kecil, mudah pula melakukannya, tidak perlu studi kelayakan tetapi bisnisnya dijamin tidak rugi. Anda akan sangat merugi apabila tidak mengambil ketiga bisnis itu.

“Wah, saya belum bisa membaca Al-Qur’an!” Belajarlah segera. Semakin ditunda semakin rugi Anda. “Wah, saya belum bisa konsisten untuk sholat lima waktu!” Ya ampun, hanya beberapa menit saja tidak mau dan mampu. Anda memang pemalas tingkat dewa dan orang yang tidak tahu diri. Hanya diminta “lapor” beberapa menit kepada yang memberi kehidupan saja tidak sempat.

“Wah, saya belum kaya belum bisa sedekah!” Sedekah tidak perlu menunggu kaya. Kecil tapi rutin dan terus meningkat sedekahnya seiring dengan meningkatnya penghasilan itu jauh lebih menyelamatkan. Ingat, ini bisnis yang dijamin tidak rugi, sangat bodoh bila kita tidak ikut di dalamnya.

Ketiga bisnis ini bisa dilakukan oleh siapapun, tidak perlu memiliki mental dan nyali bisnis. Saya yakin bila Anda beriman, cerdas, dan tidak sakit jiwa maka Anda tidak akan pernah meninggalkan ketiga bisnis ini. Setuju?

Salam SuksesMulia!

Diadaptasi dari tulisan di http://www.jamilazzaini.com
Artikel Asli bisa dibaca di http://www.jamilazzaini.com/bisnis-yang-dijamin-tidak-rugi/#.UIM3aXTQEUw.twitter
Image : http://bukik.files.wordpress.com/2012/01/jamil-azzaini-3.jpg

Minggu, 21 Oktober 2012

Keutamaan Menginfakkan Harta di Jalan Allah

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui. " (Q.S. al-Baqarah [2]: 261)

Dari ayat di atas jelaslah bahwa setiap harta yang kita sedekahkan di jalan Allah akan dilipat gandakan menjadi sekian banyak (tujuh ratus kali lipat). Seandainya setiap manusia mengerti dan memahami ayat ini niscaya mereka semua akan menjadi manusia dermawan. Bagaimana tidak, untuk masalah dunia saja orang beramai-ramai investasi untuk mendapatkan keuntungan yang paling banyak hanya dua sampai tiga kali lipat. Apalagi kalau sampai mereka mengerti besarnya keuntungan berdagang dengan Allah. Masya Allah, tentu kita semua akan berlomba-lomba untuk mencapainya. Terlebih kalau kita memahami hadits berikut ini.
"Abu Hurairah r.a. berkata: Bersabda Nabi SAW, "orang yang berusaha membantu kepada janda dan orang miskin, bagaikan orang yang berjihad fisabilillah, bahkan bagaikan orang yang tidak pernah berhenti puasa dan bangun shalat malam. " (H.R. Bukhari-Muslim)

Logika kita sering salah dalam hal menafkahkan harta. Kita selalu menganggap bahwa kalau kita sedekah berarti harta kita berkurang. Sekali-kali tidak. Justru dengan bersedekah itulah harta kita bertambah, sebab harta kita yang kekal sesungguhnya adalah harta yang kita nafkahkan itu. Harta yang kita timbun, kita gunakan untuk bersenang-senang itulah harta yang fana, yang hanya sekadar numpang lewat. Padahal harta tersebut bila kita nafkahkan manfaatnya sungguh luar biasa, seperti hadits Nabi SAW: "Adi bin Hatim r.a. berkata: Rasulullah SAW telah bersabda, "Jagalah dirimu dari api neraka, walau dengan sedekah separuh biji kurma. " (H.R. Bukhari-Muslim)
Alangkah Maha Pemurahnya Allah dan Maha luas rahmat-Nya. Bayangkan, sedekah yang hanya berupa separuh buah kurma saja mampu memberikan manfaat yang luar biasa, apalagi bila lebih. Masya Allah. Melihat demikian besarnya manfaat sedekah, marilah kita tanamkan pada diri dan keluarga kita untuk menjadi insan yang suka menafkahkan hartanya di jalan Allah. Tidaklah perlu khawatir harta kita akan habis. Belum pernah ada di dunia ini orang jatuh miskin karena terlalu dermawan. Mari kita simak hadits berikut ini:

"Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Tiada berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tiada akan menambah bagi seseorang yang suka memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seorang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya. " (H.R. Muslim)

Tidak perlu lagi kita ragu-ragu untuk menafkahkan nafkahkan kelebihan rezeki kita. Kuncinya adalah hati yang ikhlas dengan tiada mengharap balasan kecuali hanya ridla Allah semata-mata. Seseorang yang banyak memberi berarti banyak menanam, dan ini berarti ia akan banyak pula menuai.Dan tidak ada satu pun dari biji yang ia tanam itu akan gagal panen kalau dilandasi dengan iman dan ikhlas.

Banyak memberi ini adalah salah satu rezeki besar yang dianugerahkan Allah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Semua rezeki berasal dari Allah, kemudian sebagian dari karunia-Nya itu dikembalikan kepada Allah agar mendapat ridla dan rahmat-Nya. Tidak ada orang yang suka memberi kecuali karena ilham yang Allah berikan kepadanya.  


image : http://sukses-berkah.com/wp-content/uploads/2012/05/Gerakan-Infaq-Setiap-Hari.jpg

Memproteksi Harta Yatim


ANAK yatim yang ayahnya meninggalkan harta berhak mendapatkan perlindungan dari wali atas hartanya itu. Harta benda anak yatim tidak boleh dimakan dan tidak boleh disalahgunakan sehingga merugikannya. Ketika hartanya itu diserahkan, hendaknya anak yatim tersebut sudah balig atau sanggup menjaga dan mengolah hartanya (QS An-Nisa [4]: 3).

Allah Swt. berfirman: "Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu memakan harta mereka sesama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa besar," (QS An-Nisa [4]: 2).

Muhammad Mustafa Al-Maraghi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan memberikan harta kepada anak-anak yatim pada ayat tersebut adalah menyerahkan harta miliknya dan tidak memakannya secara batil.

Anak yatim juga berhak mendapatkan pendidikan dari yang dipercaya sebagai wali atau orang yang diberi wasiat. Pendidikan itu dilakukan sampai anak yatim mencapai usia balig, yakni sampai sanggup berdiri sendiri dan cerdas. Abu Dawud menceritakan tentang seorang sahabat yang memelihara anak yatim. Karena takut dengan sanksi yang akan diterima jika salah dalam mengelola harta anak yatim atau takut bercampur antara makananya dan makanan anak yatim, jika ia hendak makan, ia selalu memisahkan makanan dan minuman miliknya dari kepunyaan anak yatim yang dipeliharanya itu. Sampai jika makanan anak yatim itu bersisa, ia membiarkan makanan itu sampai busuk karena rasa takutnya yang berlebihan. Lalu, ia menghadap Rasulullah Saw. dan menanyakan masalah itu. Tidak lama kemudian, turunlah surah Al-Baqarah ayat 220. "Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim, katakanlah, Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan," (QS Al-Baqarah [2]: 220). Para ulama mendasarkan ayat ini untuk memperbolehkan memakan harta anak yatim yang dipelihara olehnya asal dengan cara yang baik dan tidak berlebihan.

Pada suatu hari, datanglah seorang sahabat kepada Rasulullah Saw., "Ya Rasulullah, aku ini orang miskin, tapi aku memelihara anak yatim dan hartanya, bolehkah aku makan dari harta anak yatim itu?" Rasulullah menjawab, "Makanlah dari harta anak yatim sekadar kewajaran, jangan berlebih-lebihan, jangan mubazir, dan jangan bercampur antara hartamu dan harta anak yatim," (HR Abu Daud, An-Nasal, Ahmad, dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar bin Khaththab).

Dalam hubungan ini, Allah Swt. juga berfirman: "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian, jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah hartanya kepada mereka. Dan, janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan jangan kamu tergesa-gesa (membelanjakan nya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa di antara pemeliharaan itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas atas persaksian itu)," (QS An-Nisa [4]: 6). 


image : http://farm3.staticflickr.com/2457/4049390308_e2bfdba507_z.jpg

Ketika Seseorang Terlahir Tanpa Kelebihan Khusus


Ironisnya, tidak sedikit manusia yang berkeluh-kesah, menganggap dirinya adalah manusia yang biasa-biasa saja, yang terlahir tanpa kelebihan khusus. Ngakunya, “Saya ini bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa.” Anggapan miring ini jelas-jelas menghina Yang Maha Pencipta, karena :

    Dia telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.

    Bahkan Dia telah memerintahkan malaikat untuk sujud di hadapan manusia.

    Sering manusia menganggap malaikat adalah makhluk yang paling unggul. Padahal, dengan amal-amalnya, manusia diperkenankan oleh-Nya untuk menjadi makhluk yang lebih unggul daripada malaikat.

    Contoh kecil saja, manusia mampu :
-    melakukan amal jariyah, istighfar, dan sedekah.
-    menamai segala sesuatu, berkreasi, dan menganalisa.
-    menjalin silaturahim, mendapatkan jodoh, dan keturunan.
-    membangun peradaban dan masih banyak lagi, yang semuanya tidak mungkin dilakukan oleh malaikat mana pun.

    Makanya Dia menyerahkan hak pengelolaan bumi dan seluruh isinya kepada manusia, bukan kepada malaikat.

    Itu artinya, Dia telah menitipkan potensi yang betul-betul tak ternilai harganya pada diri Anda. Jadi, Anda tinggal menggalinya saja.


Masih tidak percaya? Jawab saja pertanyaan-pertanyaan berikut.
    Bolehkah saya memotong lima jari Anda atau mencabut lima tulang rusuk Anda, dan sebagai gantinya saya membayar Anda Rp. 100 juta?

    Bolehkah saya menurunkan seperlima dari IQ Anda atau seperlima dari daya ingat Anda, dan sebagai gantinya saya membayar Anda Rp. l00 juta?

    Bolehkah saya menghancurkan nama baik Anda atau menghilangkan relasi Anda, dan sebagai gantinya saya membayar Anda Rp. 100 juta?

    Pastilah Anda akan menggeleng kuat-kuat dan menjawab, “Tidak!” Sekalipun gantinya saya naikkan berkali-kali lipat. Nah, apa artinya? Sebenarnya, terdapat potensi senilai ratusan juta, miliaran, bahkan tak terhingga pada diri Anda mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sekali lagi, Anda tinggal menggalinya saja. Hei, kurang jelas apalagi?

Membaca beginian, ada yang berkomentar, “Ah, apa perlu serepot itu? Bukankah kehidupan ini seperti sungai? Bukankah lebih menyenangkan kalau kita mengikuti arusnya saja? Ke mana ia mengalir, ke situlah kita mengikuti.” Mohon maaf, setahu saya, yang seperti itu adalah kotoran yang mengapung-ngapung, yang bisanya cuma mengikuti arus sungai.

Sebaliknya, seorang pemenang akan memilih sungai yang sesuai. Kalaupun tidak ada, ia akan menciptakari sungainya sendiri. Hendy Setiono, Asri Tadda, dan Denni Delyandri adalah para pemenang yang menciptakan sungainya sendiri. Sungainya itu bernama kebab, blog, dan oleh-oleh khas Batam. Terkait mi, dengarlah baikbaik wasiat Peter Drucker, Bapak Manajemen, “Cara terbaik untuk meramal masa depan adalah dengan menciptakannya.” Hm, walaupun saya tidak punya hubungan famili dengan Peter Drucker, tetapi saya sangat menghormati pendapatnya yang satu ml. Saya harap, Anda juga.

Image : http://farm3.staticflickr.com/2623/3841976854_286937b0e2_z.jpg

Fadhillah Amal Shalih


Orang beriman sibuk bukan untuk masa tuanya di dunia. Tapi ia sibuk mempersiapkan berbagai investasi berupa amal ibadah dan amal saleh untuk masa hidupnya yang sejati, yakni akhirat.

"Orang yang paling cerdas ialah barang siapa yang menghitung-hitung (amal-perbuatan) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (At-Tirmidzi 8/499)

Ia sangat terobsesi akan keberhasilannya di akhirat sehingga keberhasilannya di dunia menjadi sesuatu yang ia kejar secukupnya. Ia sangat sibuk menghindari kegagalan dan penderitaan di akhirat sehingga berbagai kegagalan dari penderitaan di dunia ia hadapi sewajarnya. Inggatannya akan akhirat sangat dominan sehingga ingatannya akan dunia menjadi sebatas "asal tidak lupa" bahwa ia masih hidup di dunia.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alla' kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.." (QS Al Qashash [28]:77)

Ia sadar bahwa kemampuannya bersyukur akan nikmat Allah tidak akan pernah seimbang apalagi melebihi banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada dirinya. Sehingga ia berusaha sekuat mungkin untuk cerdas dalam memilih amal saleh dan amal ibadah yang dikerjakannya. Ia pelajari sebanyak mungkin pesan-pesan Nabi Muhammad Saw. yang menyebutkan bentuk-bentuk amal yang sepertinya sederhana namun mempunyai multiplying effect yang dahsyat. Ia berusaha untuk menjadikan setiap gerak hidupnya memperoleh barokah dari Allah Swt. Orang yang tidak memahami motivasi di belakang setiap perbuatannya menyangka apa yang dilakukan si Muslim tersebut ringan saja padahal di sisi Allah sungguh ia sangat berbobot.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaih wa sallam bersabda:

"Bila manusia meninggal putuslah amalnya kecuali dari tiga perkara (1) sedekah jariyah (2) ilmu bermanfaat dan (3) anak salehnya yang mendoakannya." (HR Tirmidzi 5/243)

Setiap mukmin yang menyadari makna hadis di atas, niscaya akan berusaha sekuat mungkin untuk memenuhi ketiga tersebut sebelum ajal menjemputnya. Ia akan berusaha untuk menjadi orang yang rajin bersedekah. Setiap kali ia mengeluarkan sedekah justru ia hayati sebagai suatu usaha investasi jangka panjang, yakni menyimpan kekayaan hakiki untuk kehidupan sejatinya di akhirat kelak.

Selain itu ia juga akan sangat serius terlibat di dalam aktifitas mengajar. Sebab ia sadar bahwa penyebaran ilmu yang bermanfaat pada hakikatnya justru akan menjadi sebab terus mengalirnya rekening pahala kebaikannya. Apalagi bila murid-muridnya menyebarluaskan ilmu tersebut lebih lanjut kepada masyarakat luas.

Kemudian yang berikutnya Nabi Muhammad Saw. bersabda bahwa anak saleh yang mendoakan orang tuanya juga termasuk perkara yang menyebabkan pahala seseorang tetap mengalir walau ia telah wafat. Berarti seorang Muslim pasti akan menyibukkan dirinya dalam program tarbiyatul aulad (pendidikan anak). Ia akan berusaha keras untuk memastikan bahwa anak-anaknya tumbuh menjadi orang saleh. Dan urusan ini tidak sepatutnya didelegasikan kepada pihak lain. 


Sedekah Memudahkan Melewati Shirathal Mustaqim



Riwayat Ibnu Mas'ud, “Shirath diletakkan di tengah-tengah jahanam, dimana tajamnya seperti pedang yang ditipiskan, licin menggelincirkan, di atasnya ada beberapa ranjau api neraka yang fungsinya untuk menyambar. Ada orang yang ditangkap, diterjunkan ke neraka dan pingsan. Diantara mereka ada yang melintasi seperti kilat (cepatnya), dimana ranjau atau pengait api tidak mengenai dirinya dan selamat. Ada yang larinya seperti angin, seperti kuda, seperti pria, seperti larinya anak kecil, atau seperti pria berjalan yang kakinya terbakar api, yang jelas-jelas semakin sengsara. Kemudian Allah memasukkan ke dalam neraka.”

Sungguh sangat mengerikan keadaan shirat tersebut, padahal kita semua akan melewati shirat itu. Bisa dibayangkan tidak kengeriannya? Jika sulit membayangkan, karena memang tidak ada bandingan di dunia ini, lebih baik meyakini penjelasan Allah dan Rasul-Nya saja. Mereka yang selamat melewati shirat adalah yang lebih berat timbangan amal baiknya. Hingga dapat melewati shirat dengan berbagai keadaan sesuai timbangan amalnya masing-masing. Sulit kita bayangkan, tergelincir sedikit saja berarti akan menjadi penghuni neraka. Naudzubilahi min dzalik. Semoga saja tidak menimpa kita. Amin. Untuk itu, mudahkan jalan melewati shirat dengan rajin bersedekah.

Rasulullah SAW berkata kepada Abdurrahman Bin Auf, “Wahai Ibnu Auf sesungguhnya kamu adalah termasuk dari golongan orang-orang yang kaya. Karena itu berhati hatilah kamu! Karena suatu saat nanti kamu akan masuk surga dengan jalan berangkak-rangkak sebagaimana seorang anak bayi kecil merangkak sebelum ia mampu berjalan dengan kedua kakinya. Oleh karena itu, bersegeralah kamu bebaskan kedua tanganmu itu dari belenggu dunia, maka tentunya Allah pun akan segera membebaskan kedua kakimu.”

Karena merasa sangat takutnya dengan sabda Rasulullah SAW tersebut, maka keesokan harinya ia segera keluar dari rumahnya untuk segera membebaskan belenggu-belenggu harta dunia ini. Dengan uang 40.000 dinar, ia membeli sebidang tanah untuk dihibahkan kepada segenap masyarakat Islam yang membutuhkan. Ia pun membeli 500 ekor kuda perang dan 1.500 unta, untuk kepentingan para tentara dan pasukan Islam. Disamping itu, ia pun menyediakan berbagai macam perlengkapan persenjataan perang dan bekal makanan yang cukup untuk seluruh jumlah pasukan Islam. Lebih dari itu bahkan ia pun mengadakan sebuah sayembara yang isinya, bagi siapa saja dari kaum muslimin ini yang bersedia dan mau ikut serta dalam berperang dan berjihad di jalan Allah, maka setiap dari mereka akan mendapatkan hadiah uang dari Abdurrahman bin Auf sebesar 400 dinar.

Jika saja kita yang dijamin masuk surga apalagi dikabarkan saat masih bidup, mungkin malah berleha-leha tidak melakukan kebaikan, bahkan sombong di depan manusia. Makanya Allah menjatuhkan pilihan kepada 10 orang sahabat, salah satunya Abdurrahman bin Auf yang sudah tidak diragukan lagi keimanannya.

Tapi tidak perlu kuatir saudaraku, Nabi SAW menyampaikan bahwa ada peluang untuk 70.000 umatnya bisa masuk surga tanpa hisab. Siapa saja yang 70.000 itu? Tentunya orang yang benar-benar bertakwa pada Allah. Makanya, mari kita raih posisi tersebut, salah satunya dengan jalan bersedekah. Siapa tahu, kita bisa melewati shirat dengan secepat kilat atau mendapat keutamaan seperti Ja'far At Thayyar yang oleh Allah SWT diberii dua sayap permata dan mutiara hijau. Dengan kedua sayap itu, ia terbang bersama para malaikat. Subhanallah.


Image : http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/01/bayar.jpeg

Hijrah Kepada Allah dan Rasul-Nya


Di dalam Risalah Tabukiyah, Imam Ibnul Qoyyim membagi hijrah menjadi 2 macam. Pertama, hijrah dengan hati menuju Alloh dan Rosul-Nya. Hijrah ini hukumnya fardhu 'ain bagi setiap orang di setiap waktu. Macam yang kedua yaitu hijrah dengan badan dari negeri kafir menuju negeri Islam. Diantara kedua macam hijrah ini hijrah dengan hati kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah yang paling pokok.

Hijrah Dengan Hati Kepada Alloh
Alloh berfirman, “Maka segeralah (berlari) kembali mentaati Alloh.” (Adz Dzariyaat: 50)
Inti hijrah kepada Alloh ialah dengan meninggalkan apa yang dibenci Alloh menuju apa yang dicintai-Nya. Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hijrah ini meliputi 'dari' dan 'menuju': Dari kecintaan kepada selain Alloh menuju kecintaan kepada-Nya, dari peribadahan kepada selain-Nya menuju peribadahan kepada-Nya, dari takut kepada selain Alloh menuju takut kepada-Nya. Dari berharap kepada selain Alloh menuju berharap kepada-Nya. Dari tawakal kepada selain Alloh menuju tawakal kepada-Nya. Dari berdo'a kepada selain Alloh menuju berdo'a kepada-Nya. Dari tunduk kepada selain Alloh menuju tunduk kepada-Nya. Inilah makna Alloh, “Maka segeralah kembali pada Alloh.” (Adz Dzariyaat: 50). Hijrah ini merupakan tuntutan syahadat Laa ilaha illalloh.

Hijrah Dengan Hati Kepada Rosululloh

Alloh berfirman, “Maka demi Robbmu (pada hakikatnya) mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa': 65)

Hijrah ini sangat berat. Orang yang menitinya dianggap orang yang asing diantara manusia sendirian walaupun tetangganya banyak. Dia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan Rosululloh sebagai hakim di dalam segala perkara yang diperselisihkan dalam seluruh perkara agama. Hijrah ini merupakan tuntutan syahadat Muhammad Rosululloh.

Pilihan Alloh dan Rosul-Nya itulah satu-satunya pilihan

Alloh berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Dengan demikian seorang muslim yang menginginkan kecintaan Alloh dan Rosul-Nya tidak ragu-ragu bahkan merasa mantap meninggalkan segala perkara yang melalaikan dirinya dari mengingat Alloh. Dia rela meninggalkan pendapat kebanyakan manusia yang menyelisihi ketetapan Alloh dan Rosul-Nya walaupun harus dikucilkan manusia.

Seorang ulama' salaf berkata, “Ikutilah jalan-jalan petunjuk dan janganlah sedih karena sedikitnya pengikutnya. Dan jauhilah jalan-jalan kesesatan dan janganlah gentar karena banyaknya orang-orang binasa (yang mengikuti mereka).


Sumber : http://images.nationalgeographic.com/wpf/media-live/photos/000/002/cache/arabian-camel_223_600x450.jpg

Semangkok Kopi


Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata.

Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”

“Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.Semakin lama semakin harum tercium.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.


Image : http://www.bigbrothersbigsisters.ca/site-bbbs/media/dufferin2012/black_coffee.jpg

Membangun Kepribadian Islami


Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Allah SWT berfirman,
“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS. Al Isra: 70)


Urgensi Kepribadian Islami

Menjadi pribadi yang Islami merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam agama Islam. Hal ini karena Islam itu tidak hanya ajaran normatif yang hanya diyakini dan dipahami tanpa diwujudkan dalam kehidupan nyata, tapi Islam memadukan dua hal antara keyakinan dan aplikasi, antara norma dan perbuatan , antara keimanan dan amal saleh. Oleh sebab itulah ajaran yang diyakini dalam Islam harus tercermin dalam setiap tingkah laku, perbuatan dan sikap pribadi-pribadi muslim.

Memang, setiap jiwa yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tapi bukan berarti kesucian dari lahir itu meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya, justru karena telah diawali dengan fitrah itulah, jiwa tersebut harus dijaga dan dirawat kesuciannya dan selanjutnya dibangun agar menjadi pribadi yang islami.

Ruang Lingkup Kepribadian Islami
Sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sebagai berikut:

A. Ruhiyah 

Aspek ruhiyah adalah aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap muslim. Sebab ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak dalam firman Allah SWT di Surat Asy-Syams : 7-10
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat beruntung orang yang mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” (QS. Asy Syams: 7-10).

B. Fikriyah (pemikiran)

Kepribadian Islami juga ditentukan oleh sejauh mana kokoh dan tidaknya aspek fikriyah. Kejernihan fikriyah, kekuatan akal seseorang akan memunculkan amalan, kreativitas dan akan lebih dirasa daya manfaat seseorang untuk orang lain.

C. Amaliyah 

Di antara sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sisi amaliyahnya. Amaliyah harakiah yang merubah kehidupan seorang mukmin menjadi lebih baik. Hal ini penting sebab amaliyah adalah satu di antara tiga tuntutan iman dan Islam seseorang. Tiga tuntutan tersebut adalah: al-iqror bil- lisan (ikrar dengan lisan), at-tashdiq bil-qalb ( meyakini dengan hati), dan al-amal bil jawarih (beramal dengan seluruh anggota badan). Jadi tidak cukup seseorang menyatakan beriman tanpa mewujudkan apa yang diyakininya dalam bentuk amal yang nyata. 

“Maka katakanlah “beramallah kamu niscaya Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)



Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com