Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 31 Januari 2022

Ramadhan, Bulan Kesabaran, Kesucian Jiwa dan Takwa

 



Oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc, MA

Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu (jaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.

Allah Subhanahu wa ta’la berfirman:

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (jaman) maupun tempat”[1].

Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Subhanahu wa ta’la utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.

Sungguh Allah Subhanahu wa ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah Subhanahu wa ta’la yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya[2].

Bagaimana seorang muslim menyambut bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka[3].

Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ingin meraih ridha-Nya.

Dan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini[4].

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya: “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”[5].

Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata: “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala ) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”[6].

Dulunya, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Subhanahu wa ta’la agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Subhanahu wa ta’la. Mu’alla bin al-Fadhl berkata: “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”[7].

Maka hendaknya keluarga muslim mengambil teladan dari para ulama salaf dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari Allah Subhanahu wa ta’ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah Subhanahu wa ta’la dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka. Rasulullah r bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”[8].

Tentu saja persiapan diri yang di maksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Subhanahu wa ta’la dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya.

Tapi persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [9].

Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”[10].

Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”[11].

Meraih takwa dan kesucian jiwa dengan puasa Ramadhan

Hikmah dan tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah ta’ala [12], yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati13. Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi keluarga muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Allah Ta’ala berfirman:

{ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ Ø¢َÙ…َÙ†ُوا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّذِينَ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُونَ}

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”[14].

Lebih lanjut, syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

– Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).

– Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa ta’ala), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.

– Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah[15], maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.

– Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Subhanahu wa ta’ala), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.

– Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa[16].

Bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”[17].

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran[18]. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran)[19]. Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas[20], sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya”[21].

Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah ‘Azza Wa Jalla: “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau: “Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”22.

Penutup

Demikianlah nasehat ringkas tentang keutamaan bulan Ramadhan, semoga bermanfaat bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan mengharapkan ridha-Nya, serta memberi motivasi bagi mereka untuk bersemangat menyambut bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan mempersiapkan diri dalam perlombaan untuk meraih pengampunan dan kemuliaan dari-Nya, dengan bersungguh-sungguh mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah-ibadah agung yang disyariatkan-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pada setiap malam (di bulan Ramadhan) ada penyeru (malaikat) yang menyerukan: Wahai orang yang menghendaki kebaikan hadapkanlah (dirimu), dan wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah (keburukanmu)!”[23].

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Footnote:

1 Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 622).
2 Lihat kitab “al-‘Ibratu fi syahrish shaum” (hal. 5) tulisan guru kami yang mulia, syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad – semoga Allah menjaga beliau dalam kebaikan – .
3 Sebagaimana yang disebutkan dalam HSR al-Bukhari (no. 3103) dan Muslim (no. 1079).
4 Lihat keterangan imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).
5 HR Ahmad (2/385), an-Nasa’i (no. 2106) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” (hal. 395), karena dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain.
6 Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).
7 Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).
8 HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).
9 Lihat kitab “Shifatu shalaatin Nabi
r” (hal. 36) tulisan syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
10 HR Ahmad (4/321), Abu Dawud (no. 796) dan Ibnu Hibban (no. 1889), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-‘Iraqi dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shalaatut taraawiih (hal. 119).
11 HR Ibnu Majah (no. 1690), Ahmad (2/373), Ibnu Khuzaimah (no. 1997) dan al-Hakim (no. 1571) dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan syaikh al-Albani.
12 Lihat kitab “Tafsiirul Qur’anil kariim” (2/317) tulisan syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin.
13 Lihat kitab “Manhajul Anbiya’ fii tazkiyatin nufuus” (hal. 19-20).
14 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/289).
15 Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1933) dan Muslim (no. 2175).
16 Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 86).
17 Kitab “al-Fawa-id” (hal. 97).
18 Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).
19 Lihat “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2623).
20 Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).
21 HSR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151), lafazh ini yang terdapat dalam “Shahih Muslim”.
22 Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).
23 HR at-Tirmidzi (no. 682), Ibnu Majah (no. 1642), Ibnu Khuzaimah (no. 1883) dan Ibnu Hibban (no. 3435), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.

Sumber : https://konsultasisyariah.com/36361-ramadhan-bulan-kesabaran-kesucian-jiwa-dan-takwa.html

Puasa di Bulan Syuro Paling Afdol Setelah Puasa Ramadhan

 

 

Bulan Syuro atau dalam kalender Islam disebut bulan Muharram, yang dikenal mistis atau sial ini, ternyata menyimpan limpahan keberkahan. Menepis anggapan khurofat yang telah membudaya di masyarakat tanah air. Di antara lapis-lapis keberkahan di bulan Syuro adalah melakukan puasa di bulan ini, nilai pahalanya, puasa paling afdhol setelah puasa Ramadhan.

 

Dalilnya hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)

 

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan hadis di atas dengan menukil pernyataan Abu Ubaid. “Abu Ubaid menerangkan: “Bulan Muharram dinisbatkan oleh Nabi kepada Allah Yang Maha Mulia padahal seluruh bulan adalah milik Allah, untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini. Segala yang mulia, selalu dinisbatkan kepada Allah.” (Kasyful Musykil jilid 3, hal. 597, tahqiq: Dr. Ali Husain Al-Bawab)

 

Bagaimana dengan puasa di bulan Sya’ban? Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan tersebut sebagai indikasi afdolnya puasa di bulan Sya’ban?

Demikian yang diceritakan Aisyah radhiyallahu’anha. “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Namun, hadis di atas bukan berarti puasa di bulan Sya’ban adalah yang terafdol setelah puasa Ramadhan, melebihi puasa bulan Muharram. Alasannya dijelaskan Imam Nawawi rahimahullah berikut. “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram” adalah sebagai dalil tegas bahwa bulan Muharram adalah bulan paling afdol untuk melakukan puasa. Telah kami jelaskan jawaban pertanyaan tentang Nabi memperbanyak puasa di bulan Sya’ban bukan di bulan Muharram, kami paparkan dua poin:

 

Pertama, bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui keutamaan Muharram di akhir hayat beliau.

Kedua, atau saat bertemu dengan bulan Muharram, beliau sedang berada dalam kondisi uzur tidak puasa. Bisa karena safar, sakit, atau yang lainnya.”

(Shahih Muslim Bi Syarhi An-Nawawi 8/55)

 

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menambahkan penjelasan, bahwa pembagian afdoliyah puasa setelah puasa Ramadhan ada dua macam.

Pertama, Puasa bulanan yang paling afdol adalah puasa di bulan Muharram.

Kedua, Puasa harian yang paling afdol adalah puasa di hari-hari khusus yang dianjurkan puasa, seperti puasa Arofah, puasa Syawal, dan lain-lain.

 

Dalam kitab karyanya yang berjudul Lathoiful Ma’arif, beliau rahimahullah menjelaskan: “Hadis tersebut (tentang keutamaan puasa di bulan Muharram) sebagai dalil tegas bahwa puasa tathowwu’/sunah yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah yaitu Muharram. Dan mungkin saja maksudnya adalah puasa di bulan Muharram adalah puasa bulanan penuh yang paling afdol setelah puasa di bulan Ramadhan. Adapun puasa pada sebagian hari yang terdapat dalam bulan-bulan maka pahalanya lebih afdol daripada puasa di hari yang selainnya, seperti puasa Arofah, puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, puasa enam hari Syawal, dan yang lainnya.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 77, tahqiq: Yasin Muhammad Sawwas)

 

Puasa apa yang bisa kita lakukan di bulan Syuro ini?

 

Ya bisa puasa sunah yang populer seperti puasa Dawud, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, atau puasa Ayyamul Bidh.

Atau bisa juga puasa tathowwu’, yaitu berniat puasa sunah yang tidak terikat oleh hari. Atau bisa diisi dengan puasa Qodo’ bagi yang memiliki hutang puasa Ramadhan.

 


Wallahul muwaffiq.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori

Sumber : 
https://konsultasisyariah.com/36479-ternyata-puasa-di-bulan-syuro-adalah-puasa-paling-afdol-setelah-puasa-ramadhan.html

Minggu, 30 Januari 2022

Tarawih Raka’at Sedikit tapi Panjang atau Banyak tapi Singkat?

 Assalamualaikum…

Ust mau tanya, lebih baik shalat tarawih sedikit raka’at tapi bacaan nya surat yang panjang-panjang, atau banyak raka’at nya tapi yg dibaca surat2 pendek atau ayat-ayat singkat?



Jawaban:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Ada tiga pendapat ulama tentang hal ini:


Pertama, banyak raka’at lebih afdol.

Pendapat ini pendapat salah satu pendapat fikih di Mazhab Maliki dan Mazhab Hambali.

Berdalil dengan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Kondisi terdekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia sujud. Maka perbanyaklah doa di saat sujud.” (HR. Muslim)

Dengan memperbanyak raka’at, maka seorang akan memperbanyak sujud.


Kedua, memanjangkan bacaan lebih afdol walau raka’at sedikit.

Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama Mazhab Hanafi dan Maliki.

Dalilnya adalah hadis dari sahabat Mughiroh bin Syu’bah beliau menceritakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering sholat malam sampai telapak kaki atau paha beliau bengkak. Lalu ada bertanya kepada beliau mengapa sholat malam sampai bengkak seperti itu kakinya?

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah aku layak menjadi menjadi hamba Allah yang bersyukur?!” (HR. Bukhori dan Muslim)


Ketiga, keduanya sama afdol.

Pendapat Mazhab Hambali.

Dasarnya adalah hadis Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, “Pada suatu malam, saya sholat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau membuka sholat dengan membaca surah al-Baqarah. Aku menduga mungkin Nabi akan ruku’ pada ayat ke-100, namun Nabi tetap melanjutkan bacaannya. Aku berkata sepertinya beliau akan menghabiskan surat al-Baqarah di satu raka’at. Setelah selesai satu surat ini, saya menduga beliau akan ruku’. Ternyata beliau melanjutkan membaca surah an-Nisaa’ . Kemudian membaca surah Ali Imran. 

Beliau membaca dengan lambat. Apabila beliau bertemu dengan ayat tasbih maka beliau bertasbih. Apabila beliau bertemu dengan ayat yang mengandung doa maka beliau berdoa. Apabila beliau bertemu dengan ayat ta’awwudz maka beliau memohon perlindungan kepada Allah, kemudian beliau rukuk dan mengucapkan ‘subhaana robbiyal ‘adzhiim’.

Lamanya beliau rukuk kurang lebih sama dengan lama berdirinya beliau. Kemudian beliau (bangkit dari rukuk) mengucapkan ‘sami-allahu liman hamidah, robbanaa lakal hamd’. 

Kemudian beliau berdiri lagi (i’tidal) dengan berdiri yang lama, sama dengan lama beliau ketika rukuk. Kemudian beliau sujud, beliau mengucapkan (dalam sujud beliau) ‘subhaana robbiyal a’laa. Lamanya sujud beliau sama mendekati lama waktunya berdiri beliau.” (HR. Muslim)

(Sumber rangkuman tiga pendapat di atas: islamqa)


Pendapat yang Kuat (Rajih)

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat ketiga -wallahu a’lam-, yaitu antara panjang raka’at dengan banyak raka’at, sama-sama afdolnya.

Alasannya adalah:

Karena pada kedua hal tersebut (sujud dan berdiri), masing-masing memiliki keistimewaan yang tidak ada pada yang lainnya.

Sujud memiliki keistimewaan yang hanya ada pada sujud, yaitu sujud adalah posisi sholat yang paling afdol.

Sementara berdiri (qiyam) juga mengandung keistimewaan yang hanya ada pada posisi berdiri saat sholat saja, yaitu bacaan Qur’an. Dzikir yang paling afdol di dalam sholat adalah membaca Al-Qur’an. Dan ini hanya boleh dilakukan saat berdiri, tidak boleh dilakukan ketika sujud.

Sehingga sholat yang afdol adalah sholat yang seimbang antara panjang raka’at dengan lamanya sujud. Jika bacaan panjang, seyogyanya sujud dan juga ruku’nya panjang. Sebagaimana sifat sholatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diceritakan di dalam hadis Hudzaifah, “Pada suatu malam, saya sholat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau membuka sholat dengan membaca surah al-Baqarah. Aku menduga mungkin Nabi akan rukuk pada ayat ke-100, namun Nabi tetap melanjutkan bacaannya. Aku berkata sepertinya beliau akan menghabiskan surat al-Baqarah di satu raka’at. Setelah selesai satu surat ini, saya menduga beliau akan rukuk. Ternyata beliau melanjutkan membaca surah an-Nisaa’ . Kemudian membaca surah Ali Imran. 

Beliau membaca dengan lambat. Apabila beliau bertemu dengan ayat tasbih maka beliau bertasbih. Apabila beliau bertemu dengan ayat yang mengandung doa maka beliau berdoa. Apabila beliau bertemu dengan ayat ta’awwudz maka beliau memohon perlindungan kepada Allah” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan, “Orang-orang berbeda pendapat manakah yang lebih afdol, apakah memanjang berdiri (baca Quran) ketika sholat atau memperbanyak rukuk dan sujud? Atau keduanya sama afdol? Pendapat yang paling tepat adalah: keduanya sama-sama afdol. Karena berdiri ketika sholat memiliki kekhususan yaitu bacaan Al-Qur’an yang merupakan sebaik-baik dzikir dan doa. Sementara sujud sendiri lebih afdol daripada posisi berdiri. Maka seyogyanya ketika seorang memperpanjang berdiri ketika sholat hendaknya juga memperlama rukuk dan sujud.” (Sumber: Fatawa Al-Kubro 2/120, penerbit: Darul Kutub Al-Ilmiyah th 1408 H / 1987 M)

Wallahu a’lam bis showab.

***

Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc.



Referensi: https://konsultasisyariah.com/36923-tarawih-rakaat-sedikit-tapi-panjang-atau-banyak-tapi-singkat.html


Senin, 03 Januari 2022

8 Cara Menurunkan Kadar Asam Urat secara Alami Tanpa Obat

 


KOMPAS.com - Asam urat adalah jenis radang sendi yang berkembang ketika kadar asam urat darah tinggi secara tidak normal. Asam urat membentuk kristal di persendian, sering kali di kaki dan jempol kaki, yang menyebabkan pembengkakan parah dan menyakitkan. 

Beberapa orang memerlukan obat untuk mengatasi asam urat, tetapi perubahan pola makan dan gaya hidup juga dapat membantu. Menurunkan asam urat dapat mengurangi risiko asam urat dan bahkan dapat mencegah serangan berikutnya pada orang dengan kondisi ini. 

Berikut ini beberapa cara alami menurunkan asam urat tanpa obat seperti dilansir dari Medical News Today.

1. Batasi makanan kaya purin 

Purin adalah senyawa yang terkandung secara alami pada beberapa makanan. Saat tubuh memecah purin, ia menghasilkan asam urat. Proses metabolisme makanan kaya purin dapat menyebabkan asam urat dengan menyebabkan tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat. 

Beberapa makanan yang tinggi purin sebenarnya menyehatkan, jadi tujuannya adalah untuk mengurangi asupan purin daripada menghindarinya sama sekali. 

Makanan dengan kandungan purin tinggi antara lain : 

- buruan liar, seperti rusa (daging rusa) 

- trout, tuna, haddock, sarden, teri, remis, dan herring 

- alkohol berlebih, termasuk bir dan minuman keras makanan tinggi lemak, seperti bacon, produk susu, dan daging merah (termasuk daging sapi muda) 

- daging organ, misalnya, hati dan roti manis 

- makanan dan minuman manis 

- Makanan dengan kandungan purin sedang meliputi: daging deli sebagian besar daging lainnya, termasuk ham dan daging sapi unggas tiram, udang, kepiting, dan lobster 

2. Konsumsi lebih banyak makanan rendah purin 

Dengan beralih dari makanan dengan kandungan purin tinggi ke makanan dengan kandungan purin lebih rendah, beberapa orang mungkin dapat terus menurunkan kadar asam urat mereka atau setidaknya menghindari peningkatan lebih lanjut. 

Beberapa makanan dengan kandungan purin rendah antara lain: produk susu rendah lemak dan bebas lemak, selai kacang dan kebanyakan kacang, kebanyakan buah dan sayuran, kopi, nasi gandum, roti, dan kentang. 

Perubahan pola makan saja tidak akan menghilangkan asam urat, tetapi dapat membantu mencegah penyakit asam urat. 

Penting juga untuk dicatat bahwa tidak semua orang yang terkena asam urat makan makanan tinggi purin. Faktor lain, seperti kerentanan genetik, juga berperan. Orang Afrika Amerika lebih rentan daripada orang kulit putih untuk asam urat. Wanita pascamenopause dan orang dengan obesitas juga memiliki risiko lebih tinggi.

3. Hindari obat-obatan yang meningkatkan kadar asam urat 

Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan kadar asam urat. Obat-obatan ini termasuk : obat diuretik, seperti furosemide (Lasix) dan hidroklorotiazid obat yang menekan sistem kekebalan tubuh, terutama sebelum atau sesudah transplantasi organ aspirin dosis rendah Namun, obat yang meningkatkan kadar asam urat mungkin menawarkan manfaat kesehatan yang esensial. Dengan demikian, orang harus berbicara dengan dokter sebelum mengganti obat apa pun. 

4. Menjaga berat badan ideal 

Mencapai berat badan ideal dapat membantu mengurangi risiko serangan asam urat. Obesitas meningkatkan risiko asam urat, terutama pada orang yang berusia lebih muda. 

Kelebihan berat badan juga meningkatkan risiko seseorang terkena sindrom metabolik. Selain itu, kelebihan berat badan juga memiliki hubungan dengan risiko peningkatan kadar asam urat darah yang lebih tinggi. 

Diet ketat yang dapat menurunkan berat badan secara cepat dapat meningkatkan kadar asam urat.   Oleh karena itu, orang harus fokus membuat perubahan jangka panjang yang berkelanjutan untuk mengelola berat badan mereka, seperti menjadi lebih aktif, makan makanan seimbang, dan memilih makanan padat nutrisi. 

5. Hindari alkohol dan minuman manis 

Konsumsi alkohol dan minuman manis seperti soda dan jus manis berkorelasi dengan peningkatan risiko asam urat. Alkohol dan minuman manis juga menambah kalori yang tidak perlu ke dalam makanan sehingga berpotensi menyebabkan penambahan berat badan dan masalah metabolisme.

6. Minum kopi 

Beberapa riset menunjukkan bahwa orang yang minum kopi cenderung tidak mengembangkan asam urat. Misalnya, tahun 2010, analisis data dari peserta wanita dalam Nurses' Health Study menemukan bahwa risiko asam urat menurun seiring dengan meningkatnya konsumsi kopi. 

Wanita yang mengonsumsi 1 hingga 3 cangkir kopi per hari memiliki penurunan risiko asam urat sebesar 22 persen dibandingkan dengan mereka yang tidak minum kopi. 

Sejumlah penelitian juga mengaitkan konsumsi kopi dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis tahun 2014 menemukan bahwa orang yang mengonsumsi 3-5 cangkir kopi per hari memiliki risiko penyakit kardiovaskular paling rendah. Karena orang dengan asam urat memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi, minum kopi dapat membantu meningkatkan kesehatan mereka secara keseluruhan.   

7. Cobalah suplemen vitamin C 

Mengonsumsi suplemen vitamin C dapat menurunkan risiko asam urat. Sebuah meta-analisis tahun 2011 dari 13 uji coba terkontrol secara acak menemukan bahwa vitamin C secara signifikan mengurangi kadar asam urat dalam darah. 

Penurunan kadar asam urat dapat menurunkan risiko serangan asam urat. Namun, penelitian belum secara meyakinkan membuktikan bahwa vitamin C mengobati atau mencegah asam urat – hanya saja vitamin C menurunkan kadar asam urat.

8. Makan ceri 

Penelitian awal menunjukkan bahwa ceri dapat mengurangi risiko serangan asam urat, terutama pada orang dengan riwayat penyakit sebelumnya. 

Sebuah studi tahun 2012 dari 633 orang dengan asam urat menemukan bahwa makan ceri selama 2 hari menurunkan risiko serangan asam urat sebesar 35 persen dibandingkan dengan orang yang tidak makan ceri. 

Efek ini bertahan bahkan ketika peneliti mengontrol faktor risiko, seperti usia, jenis kelamin, konsumsi alkohol, dan penggunaan diuretik atau obat anti asam urat.


_________________________________________________________

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "8 Cara Menurunkan Kadar Asam Urat secara Alami Tanpa Obat", Klik untuk baca: https://health.kompas.com/read/2021/12/06/140000868/8-cara-menurunkan-kadar-asam-urat-secara-alami-tanpa-obat?page=all.
Penulis : Galih Pangestu Jati
Editor : Galih Pangestu Jati

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L


Jenis Makanan Untuk Asam Urat

 


1. Buah-buahan yang Mengandung Vitamin C

Vitamin C dapat mengikat purin yang berlebih dan menetralisir kapasitas purin di dalam tubuh sehingga lebih normal dan seimbang. Vitamin C juga efektif untuk mencegah penumpukan sisa-sisa metabolisme yang biasanya menempel di persendian yang menjadi penyebab asam urat. Beberapa buah-buahan yang mengandung vitamin C dan disarankan untuk dikonsumsi adalah jambu biji, pepaya, jeruk, semangka, kiwi, dan tomat.

2. Sayur-sayuran Tinggi Serat

Brokoli adalah salah satu jenis sayuran yang disarankan untuk dikonsumsi pengidap asam urat dan juga menjadi salah satu makanan alami untuk asam urat. Kamu bisa mengonsumsinya sebagai sayuran biasa yang ditumis, dikukus, ataupun di jus dengan mencampurkannya bersama tomat dan perasan lemon. Sayuran yang mengandung serat sangat efektif untuk menetralisir penumpukan purin dan memperlancar sistem metabolisme di dalam tubuh. Sistem metabolisme yang lancar dapat mencegah timbulnya asam urat.

3. Kopi Hitam

Bukan kopi dengan gula ya, karena minuman manis juga bisa menjadi penyebab asam urat kambuh. Segelas kopi hitam setiap hari dapat menurunkan kadar asam urat. Kopi hitam terbukti dapat memperlancar sistem metabolisme dalam tubuh dan baik untuk kesehatan fungsi jantung dan organ tubuh lainnya.

4. Air Putih

Sudah banyak penelitian yang menunjukkan terapi air putih sangat bisa diaplikasikan untuk menurunkan kadar asam urat. Mengonsumsi air putih dapat meningkatkan pembuangan zat beracun di dalam tubuh termasuk purin yang berlebih. Minum air putih juga bisa membersihkan ginjal, meningkatkan fungsi hati, dan kinerja metabolisme tubuh.

Sumber : https://www.halodoc.com/artikel/17-makanan-yang-menyebabkan-asam-urat

17 Makanan yang Menyebabkan Asam Urat



Halodoc, Jakarta – Penyebab kadar asam urat meningkat ketika ginjal tidak dapat menghilangkan asam urat secara efisien. Hal ini bisa menyebabkan perlambatan dalam penghapusan asam urat termasuk dari konsumsi makanan tertentu, mengalami kelebihan berat badan, mengidap diabetes, dan mengonsumsi terlalu banyak alkohol.

Beberapa gejala asam urat adalah nyeri di persendian yang umumnya bereaksi saat pagi hari dan malam sebelum tidur. Selain itu, kaki yang mengalami nyeri persendian berwarna kemerahan kemudian susah digerakkan, dan bahkan menjadi kaku.

Apabila kamu termasuk orang yang berisiko mengalami asam urat, ada baiknya kamu menghindari beberapa jenis makanan penyebab asam urat berikut ini.

1. Kerang

2. Ikan teri

3. Ikan sarden

4. Kalkun

5. Daging rusa

6. Hati

7. Ginjal sapi

8. Otak

9. Roti manis

10. Alkohol

11. jeroan

12. Kacang-kacangan

13. Bayam

14. Daun pepaya

15. Jagung

16. Seledri

17. Wortel

Pada intinya, makanan yang menyebabkan asam urat adalah makanan yang mengandung zat purin. Purin diolah tubuh menjadi asam urat yang berfungsi sebagai antioksidan, neuroprotektif, memberikan pertahanan terhadap tubuh melawan sel tumor, dan lain-lain. Walaupun memiliki manfaat yang signifikan, tetapi kelebihan asam urat sangat berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga supaya asam urat tetap seimbang melalui pembatasan makanan tertentu.

Sumber : https://www.halodoc.com/artikel/17-makanan-yang-menyebabkan-asam-urat

23 Makanan Penyebab Penyakit Asam Urat, Mulai Waspadai dan Hindari


Merdeka.com - Siapa sangka, berbagai jenis makanan lezat yang kita konsumsi beberapa mengandung purin tinggi. Purin dan alkohol menjadi penyebab penyakit asam urat yang harus diwaspadai. Khususnya purin yang terkandung dalam berbagai jenis makanan yang biasa dikonsumsi. Mulai dari daging, buah-buahan, sayuran, minuman, hingga kacang-kacangan.

Asam urat atau gout merupakan kondisi gangguan metabolisme asam urat di dalam tubuh. Kadar asam urat dalam tubuh yang tinggi menjadi pemicu utama masalah ini. Peningkatan kadar asam urat akan membuat kristalnya menumpuk dan menyebabkan peradangan pada sendi. Parahnya, asam urat bisa menurunkan fungsi ginjal dan membentuk batu ginjal.

Kondisi ini patut menjadi perhatian untuk mengetahui berbagai macam makanan penyebab penyakit asam urat pada tubuh. Berikut ulasannya dari laman mayoclinic.org, liputan6.com, dan webmd.com:

Jeroan

Pecinta jeoran pasti tak bisa dipisahkan dari jeroan. Mulai dari, otak, hati, usus limpa, jantung, paru, dan ginjal. Jeroan-jeroan ini termasuk makanan penyebab penyakit asam urat yang cukup tinggi.

Sudah selayaknya makanan penyebab penyakit asam urat ini harus dihindari, karena makanan ini mengandung purin tinggi. Mereka juga bisa menyebabkan peradangan asam urat semakin parah. Mengonsumsinya berlebih membuat asam urat kambuh tiba-tiba.

Udang

Jangan konsumsi udang berlebihan terutama bagi penderita asam urat. Udang termasuk makanan dengan kandungan purin 9-10 mg setiap 100 gramnya. Jenis hewan air laut dan tawar ini adalah makanan penyebab penyakit asam urat tinggi yang harus dihindari.

Satu porsi udang atau sekitar 3.5 ons mengandung sekitar 200 mg kolesterol dalam sekali konsumsi. Jumlah yang sangat berlebihan dan membahayakan tubuh. Penderita asam urat bisa sampai mengalami komplikasi jantung dan stroke karenanya.

Daging Merah

Daging merah adalah makanan penyebab penyakit asam urat tinggi selanjutnya yang harus diwaspadai. Di antaranya daging sapi, daging domba, daging kambing, daging kerbau, dan daging kuda. Makanan ini harus dihindari penderita asam urat karena memiliki kandungan purin cukup tinggi.

Purin dari makanan ini dapat memicu asam urat tubuh terus naik dan tidak terkendali. Akibat yang ditimbulkan tentu saja akan membuat peradangan penderita asam urat semakin parah. Begitu juga membuat masalah asam urat terus kambuh dan membuat penderitanya tidak nyaman.

Daging Ayam

Masih dalam keluatga daging, penderita asam urat harus menghindari daging ayam. Daging ayam termasuk makanan penyebab penyakit asam urat tinggi. Hal ini disebabkan karena daging ayam, dari dada sampai kulitnya memiliki banyak kandungan purin.

Bukan menghindari sepenuhnya, melainkan membatasi makanan penyebab penyakit asam urat ini. Karena karena daging ayam mengandung 175 mg/100 gram zat purin. Mengonsumsinya secara berlebihan bisa meningkatnya asam urat di dalam tubuh.


Seafood

Pecinta kuliner seafood memang suka khilaf makan manakan laut secara berlebih. Lezat, menggugah selera, dan bergizi pula. Sayangnya seafood termasuk makanan penyebab penyakit asam urat yang harus mulai di waspadai dan dihindari. Meliputi kerang, udang, lobster, remis, teri, hingga sarden.

Makanan ini memiliki kandungan purin tinggi yang bisa memperparah asam urat. Memicu peradangan hebat dan kekambuhan tak terkendali. Jika terus dikonsumsi, seafood bisa memicu komplikasi.

Makanan Berlemak

Makanan yang mengandung lemak tinggi dapat menjadi salah satu penyebab penyakit asam urat. Makanan berlemak dapat memicu kenaikan berat badan. Semakin berat badan naik, akan semakin sulit menghilangkan penyakit asam urat.

Nanas

Siapa yang tak tergiur akan segarnya buah nanas. Buah nanas dikenal cukup menyegarkan dan bergizi tinggi. Akan tetapi buah nanas ini harus dihindari oleh penderita asam urat. Bukan karena kandungan purinnya yang tinggi. Melainkan makanan ini memicu pembentukan alkohol. Nanas yang dikonsumsi akan mengalami fermentasi di dalam saluran pencernaan dan menjadi alkohol.

Durian

Durian juga buah yang harus dihindari oleh penderita asam urat. Meski lezat, nikmat, dan bikin nagih, durian mengandung purin cukup tinggi. Purin inilah yang menjadikan durian termasuk makanan penyebab penyakit asam urat yang harus dihindari.

Selain purin, makanan penyebab penyakit asam urat ini memiliki kandungan kolesterol yang cukup tinggi. Jika penderita asam urat terus memaksa mengonsumsi, komplikasi bisa terjadi. Komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, radang, dan hipertensi.

Nangka

Mirip-mirip dengan durian, nangka ternyata dapat memicu penyakit asam urat.  Benar sekali, buah nangka termasuk golongan buah yang memiliki kandungan purin tinggi. Maka dari itu penderita penyakit asam urat sebaiknya menghindari.

Tak hanya buah manisnya, melainkan olahan sayurnya. Misalnya saja seperti sayur gudeg. Mengonsumsi makanan penyebab penyakit asam urat ini juga bisa memperparah peradangan dan asam urat lebih berisiko kambuh berulang.

Kedelai

Tergabung dalam jenis makanan kacang-kacangan. Berbagai macam olahan kedelai dikenal sangat bergizi dan mengenyangkan ketika dikonsumsi. Tak hanya minumannya, tetapi olahan makanannya. Seperti tempe, tahu, tauco, dan masih banyak lagi lainnya.

Sayangnya kedelai termasuk makanan penyebab penyakit asam urat tinggi. Tidak lain karena kedelai ialah makanan penyebab penyakit asam urat mengandung purin cukup tinggi. Mengantisipasinya, penderita asam urat tinggi harus menghindari agar peradangan tidak semakin parah dan terus kambuh.

Melinjo

Sudah banyak orang yang tahu mengonsumsi melinjo berlebih dapat memicu penyakait asam urat. Melinjo adalah makanan penyebab penyakit asam urat. Tanaman yang banyak ditemukan di daerah dengan iklim tropis ini, biji serta daunnya sering diolah menjadi berbagai macam makanan. Bijinya sering dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi kripik emping, sedangkan daunnya tak jarang dijadikan sayur lodeh hingga aneka tumisan.

Meski memiliki beberapa manfaat yang baik untuk kesehatan, mengonsumsi melinjo secara berlebihan bisa menyebabkan asam urat. Hal ini karena makanan penyebab penyakit asam urat ini mengandung 150 mg purin/100 gram melinjo yang bisa meningkatkan penyakit asam urat.

Kembang Kol

Mengonsumsi sayur kol memang terkenal menyehatkan. Kondisi ini berbeda bagi penderita asam urat tinggi. Kembang kol memiliki kandungan purin tinggi dan termasuk makanan penyebab penyakit asam urat yang harus diwasapadai.

Kandungan purin dalam makanan penyebab penyakit asam urat ini sebesar 51 gram purin tiap 100 gramnya. Jumlah ini terbilang cukup tinggi dan membahayakan asam urat penderita. Asam urat bukanlah sesuatu yang mudah dikeluarkan tubuh secara alami.

Buncis

Buncis adalah makanan penyebab penyakit asam urat.. Sayur yang memiliki nama lain green beans ini sering diolah menjadi berbagai macam menu masakan, seperti gulai buncis, oseng-oseng, dan aneka tumisan. Buncis juga merupakan salah satu jenis sayur yang sangat populer di Indonesia

Meski mengandung beragam manfaat untuk kesehatan, mengonsumsi buncis secara berlebihan bisa menyebabkan asam urat. Buncis memiliki kandungan fruktosa cukup tinggi, sehingga termasuk makanan penyebab penyakit asam urat. Oleh karena itu, bagi penderita asam urat, sebaiknya menghindari konsumsi buncis secara berlebihan.

Pisang

Psang menjadi buah populer di berbagai kalangan. Buah yang memiliki kulit berwarna kuning ini sangat populer di Indonesia. Selain memiliki cita rasa yang manis, pisang memiliki beragam kandungan yang baik untuk kesehatan. Namun, siapa sangka mengonsumsi buah ini secara berlebihan bisa menyebabkan penyakit asam urat.

Pisang menjadi salah satu makanan penyebab penyakit asam urat karena mengandung fruktosa yang bisa mengingatkan asam urat. Oleh karena itu, sebaiknya menghindari mengonsumsi buah ini secara berlebihan.

Makanan Kaleng

Makanan yang diawetkan dalam kaleng seperti, sarden, kornet, dan lainnya baik dihindari untuk penderita asam urat. Makanan kaleng sebagai makanan penyebab penyakit asam urat tersebut termasuk dalam daftar yang mengandung purin tinggi yaitu 100-1.000 mg purin per 100 gram bahan.

Asparagus

Asparagus terkenal karena asam folat dan kalium yang dimilikinya. Kaya manfaat dan mampu membantu pembentukan sel darah merah dan mencegah berbagai jenis penyakit. Meski begitu penderita asam urat harus menghindarinya.

Sayuran asparagus ini termasuk makanan penyebab penyakit asam urat tinggi karena kandungan purinnya. Meski kandungan purin dalam makanan penyebab penyakit asam urat tidak terlalu besar, hanya 23 gram purin dalam 100 gram asparagus. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kandungan purin di dalam kembang kol.

Bayam

Bayam adalah sayuran hijau yang kaya gizi dan nutrisi. Mengonsumsinya dapat menyehatkan badan dan memenuhi asupan nutrisi harian. Hanya saja konsumsi bayam cukup berbeda bagi penderita asam urat.

Bayam termasuk makanan penyebab asam urat tinggi karena kandungan purinnya. Purin dalam makanan penyebab penyakit asam urat ini lebih tinggi dari kol dan asparagus. Kandungan purin di dalam 100 gram bayam, yaitu 57 gram purin.

Jamur

Jamur tak hanya nikmat dijadikan sayur. Jamur kerap kali diolah menjadi camilan sehat seperti jamur krispi. Sayangnya konsumsi jamur harus dihindari oleh penderita asam urat karena kandungan purinnya.

Kandungan purin inilah yang menjadikan jamur termasuk makanan penyebab penyakit asam urat yang tak banyak orang tahu. Di dalam 100 gram makanan penyebab penyakit asam urat ini terdapat 12-17 gram purin. Sebaiknya mulai batasi dan rutin periksakan diri.

Kangkung

Suka makan kangkung? Sayur kangkung di Indonesia terkenal sekali karena kelezatan dan kandungan nutrisinya. Meski begitu, penderita asam urat harus menghindarinya. Dalam 100 gram bayam terdapat 9-100 mg purin.

Meski begitu, makanan penyebab penyakit asam urat masih aman jika dikonsumsi dalam jumlah sedang dan tidak berlebihan. Kangkung mengandung cukup banyak vitamin A, B6, dan C. Selain vitamin, kangkung merupakan sumber utama mineral penting seperti zat besi, magnesium, dan kalsium.

Tape Ketan

Tape ketan merupakan hasil fermentasi beras ketan yang sebelumnya mendapat pencampuran ragi, yang kemudian didiamkan dalam beberapa hari untuk mendapatkan hasil fermentasi berupa kandungan alkohol.

Alkohol inilah yang menyebabkan beras ketan menjadi terasa manis menyegarkan. Meski begitu jangan terlena karena tape ketan termasuk makanan penyebab penyakit asam urat tinggi. Kandungan purin makanan penyebab asam urat ini ada sekitar 100-1000 mg dalam setiap 100 gram tape ketannya.

Alkohol

Alkohol harus dihindari oleh penderita asam urat. Bukan hanya versi minumannya, tetapi juga berbagai makanan yang difermentasi. Makanan yang difermentasi akan menghasilkan alkohol.

Makanan yang difermentasi dengan ragi pada umumnya akan menghasilkan alkohol. Hal inilah yang menjadikannya termasuk makanan penyebab penyakit asam urat tinggi. Mulai perhatikan dan batasi agar kekambuhan tidak datang menghampiri.

Minuman Manis

Metabolisme gula memang tidak menghasilkan purin. Akan tetapi, makanan tinggi gula sederhana seperti roti tawar putih, produk roti komersial, cake, kue-kue kering, produk minuman kemasan dan minuman bersoda khususnya yang mengandung high-fructose corn syrup dapat meningkatkan kadar asam urat. Oleh karena itu, menghindari makanan penyebab penyakit asam urat yang satu ini wajib dilakoni.

Fruktosa

Produk fruktosa tinggi seperti soda dan beberapa jus, sereal , es krim , permen, dan makanan cepat saji. Mengonsumsi secara berlebih akan meningkatkan resiko penyakit asam urat. Fruktosa menjadi makanan penyebab penyakit asam urat yang harus diwaspadai.

Sumber : https://www.merdeka.com/sumut/23-makanan-penyebab-penyakit-asam-urat-mulai-waspadai-dan-hindari-kln.html



Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com