Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 28 Desember 2012

Mbah Parti, lansia Buta dan Sebatangkara



Kisah ini berawal dari rasa penasaran salah satu donatur LMI karena pengemis tua yang biasa datang ke rumah, absen mendatangi rumah beliau dalam waktu yang cukup lama.

Rasa keingintahuan itu menjadi semangat sang donatur untuk mengajak LMI menelusuri keberadaan sang pengemis tua,yang kemudian diketahui bernama mbah Parti. Alhamdulillah kesempatan untuk mengunjungi  mbah Parti pun terwujud, kedatangan kami disambut dengan tangisan simbah yang tak menyangka masih ada yang peduli padanya. Karena saat ini beliau hanya tinggal sendiri, bahkan untuk makan sehari-haripun beliau bergantung pada belas kasihan tetangganya. Ternyata simbah tidak lagi melakukan pekerjaannya karena kakinya tak lagi mampu digunakan untuk berjalan, disebabkan adanya tumor di kaki kanannya.

Pada kesempatan itu pula mbah Parti menyampaikan ketidak nyamanan beliau tinggal di daerah itu, karena beliau memang tinggal di daerah pemukiman yang padat penduduk. Tempat tinggal yang berukuran sekitar 1X2 meter, letaknyapun bersebelahan dengan kamar mandi umum. Hanya itu yang bisa diusahakan oleh warga yang masih punya kepedulian membantu sesama di antara keterbatasan mereka sendiri. Tempat yang jauh dari layak untuk seorang lansia sebatang kara menghabiskan sisa usia apalagi dengan kebutaannya.

Terdorong oleh keinginan mengurangi beban simbah, kami coba untuk mencarikan tempat yang lebih layak. Kami sudah mencoba menghubungi panti jompo yang ada di seputar Madiun, tapi semua tidak bisa menerima simbah dengan alasan keterbatasan tempat. Ya…mencari panti jompo memang tak semudah mencari panti asuhan. Sehingga sampai hari ini mbah Parti masih harus bertahan tinggal di kamar sempitnya, apalagi dengan datangnya musim hujan yang pasti membuat cuaca semakin dingin terutama di malam hari

Alhamdulillah, ternyata usaha kami membuahkan hasil. Tidak lama ini ada petugas panti jompo dari magetan, mengadakan survey di tempat mbah parti. Beliau juga sudah melihat keadaan mbah parti langsung. Kami juga sangat berharap simbah bisa mendapatkan tempat yang lebih baik. Tetapi semuanya butuh proses dan prosedur, dan kami hanya bisa menunggu hasil dari panti jompo magetan. Sembari Ikhtiar dengan jalan lain.

Kiranya keadaan ini bisa menyentuh hati donatur ataupun masyarakat umum untuk melakukan “ Investasi Akhirat “. Sekiranya mempunyai tempat yang layak untuk mbah Parti, membantu merawat atau mencarikan orang yang bisa merawat beliau. Insyaallah kebaikan anda semua akan mendapat balasan yang setimpal dari Allah.

Satu Rumah Satu yatim



                Pembaca  yang setia, kami ingin mengajak pembaca memahami surat Ar Rahman. Alloh Yang Maha Baik bertanya kepada kita…,” Nikmat Tuhan Mu yang mana lagi yang kamu dustakan? Inti dari pernytaan ini ialah seperti bertanya, dimana rasa syukur kita terhadap nikmat yang telah diberikanNya. Kita akan mencoba mengajak pembaca bulletin ini dengan perbuatan syukur kita kepada Allah. Salah satunya dengan menyantuni anak yatim.

                Momen bulan Muharam yang identik dengan bulan yatim tentu saja saat yang tepat untuk bisa dekat di syurga bersama Rosululloh SAW sebagaimana sabda Rosululloh “ Aku dan orang-orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di syurga seperti ini”. Kemudian beliau member isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya.

                Di tengah keterbatasan ekonomi dan kasih saying, mereka harus berjuang mewujudkan cita-citanya yang tinggi. Saat ini LMI Madiun menyantuni 100 anak yatim setiap bulannya berupa program beasiswa. Namun keperluan mereka tidak hanya untuk biaya sekolah saja, mereka juga membutuhkan kebutuhan sehari-hari. Makan belum tentu 3x dalam sehari, Uang saku belum tentu dapat, biaya sekolah yang sering menunggak, rumah masih kontrak. Wah,,, Pokoknya Ribet!!! Mudah-mudsahan kita masih terbuka, telinga kita bisa mendengar, hati kita masih bisa melangkah untuk membantu mereka….

                Jika pembaca ingin menyantuni anak yatim, bisa gabung bersama LMI Madiun. Jika iman dan hati nurani anda tergerak, salurkan Infaq terbaik Anda melalui LMI Cabang Madiun.

Serba Serbi Santri Tahfidz Ummul Qur’an



Satu tahun sudah kegiatan Rumah tahfidz Ummul Qur’an berjalan pernik-pernik kejadian menyenangkan dan menyedihkan terjadi di rumah tahfidz ini. Namun hal tersebut tidak menyurutkan para santri untuk tetap istiqomah berada di Rumah Tahfidz Ummul Qur’an.

Kehidupan di dalam rumah tahfidz membuat sebagian besar dari orang tua santri kagum atas kemajuan putranya setelah satu tahun mondok di Rumah Tahfidz Ummul Qur’an.
                      
Diantara orangtua santri menyampaikan ungkapan syukur pada LMI karena putranya mewujudkan perubahan sikap yang berbeda. Salah satunya adalah orang tua santri yang bernama fahrur. Sekarang fahrur yang membangunkan saya sholat malam. Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh oragtua david,dan ulum. Kebiasaan mereka selama satu tahun menjadi santri tahfidz “Ummul Qur’an” terbawa sampai kerumah.

Sholat berjamaah, sholat tepat waktu dan puasa sunah tidak goyah meskipun mereka berada di rumah kembali. Mereka tetap memperbaiki dan menambah hafalan Qur’an meskipun libur sekolah.

Dengan menggunakan metode menghafal dan muroja’ah yang sudah di tentukan dan juga jadwal mengaji santri yang konsisten, santri tahfidz “Ummul Qur’an” diharap bisa hafal seluruh ayat Al Qur’an sebanyak 6666 ayat dalam kurun waktu 4,5 tahun.

Tentu saja untuk mewujudkan target tersebut dibutuhkan sarana dan prasarana penunjang. Pembangunan gedung tahfidz belum selesai, masih dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk mewujudkan gedung terserbut. Sarana yang dimiliki rumah tahfidz masih minim. Saat ini hanya tersedia 1 perangkat computer. Padahal masih dibutuhkan 9 perangkat computer untuk santri, 1 perangkat computer/laptop plus printer untuk ustadz pengasuh dan sound system lengkap di tiap ruangan. Kami sangat berharap pengadaan alat pembelajaran bagi santri bisa terwujud sehingga santri bisa maksimal dalam proses menghafal Al Qur’an.

Program rumah Tahfidz Qur’an akan kami kembangkan bukan hanya untuk santri mukim, tapi juga untuk santri non mukim. Gedung Tahfidz Qur’an akan kami fungsikan sebagai pusat pendidikan dan pengkajian Al Qur’an untuk remaja, pelajar, mahasiswa maupun orangtua.
Salurkan bantuan Anda berupa :
1.             Dana Wakaf
2.             Pengadaan Alat pembelajaran
Bantuan dari para dermawan sangat kami harapkan untuk melahirkan generasi penghafal Qur’an.

Jumat, 23 November 2012

Manfaat Membaca Al Quran


Bagi setiap muslim, Al Quran diturunkan untuk dibaca, direnungkan, dan dipahami maknanya, dipatuhi perintah dan larangannya, kemudian diamalkan isinya. Dengan demikian, ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Rabbnya, Sang Pemberi Syafaat baginya pada hari kiamat.

Allah SWT telah menjamin bagi siapa saja yang membaca Al Quran dan mengamalkan isi kandungannya, maka ia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. Allah berfirman dalam surah Thoha, "...maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka." (QS 20:123)

Oleh sebab itu, janganlah kiranya seorang Muslim memalingkan diri dari membaca kitab Allah. Sebaliknya, seorang Muslim hendaknya selalu merenungkan, dan mengamalkan isi kandungan Al Quran. Sebab Allah telah mengancam orang-orang yang memalingkan diri dari Al Quran, sebagaimana firman-Nya, "Barang siapa berpaling darinya (Al Quran), maka sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat (dosa) pada hari kiamat." (QS 20: 100).

Rasulullah SAW juga telah menjelaskan kepada kita tentang keutamaan Al Quran dan orang-orang yang membaca, menghafal, mentadaburi, dan mengamalkannya. Di antara keutamaan tersebut adalah: 

Pertama, akan memberikan syafaat pada hari kiamat. Sabda beliau dalam sebuah hadis: "Bacalah Al Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya." (HR Muslim dan Abu Umamah)

Kedua, ia akan menjadi pembela kita pada hari kiamat. Diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam'an bahwa Rasulullah bersabda, "Didatangkan pada hari kiamat Al Quran dan para pembacanya, yang mereka dulu itu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh Surah Al-Baqarah dan Ali'Imran itulah yang membela pembaca tersebut." (HR Muslim)

Ketiga, sebaik-baiknya amalan adalah mempelajari dan mengamalkan kandungan Al Quran. Diriwayatkan dari Usman bin Affan bahwasannya Rasulullah bersabda, "Sebaki-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.'' (HR Al-Bukhari).

Keempat, membaca, mempelajari, dan mengamalkan isi Al Quran, bernilai sepuluh kebaikan. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwasannya Rasulullah bersabda, "Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf ; tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. (H.R.At Tirmizi, ia berkata, "Hadis hasan sahih").

Kelima, mereka diberi kedudukan yang tinggi di akhirat. Diriwayatkan dari Abdulah bin Amr bin Ash bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Dikatakan kepada pembaca Al Quran, "Bacalah, naiklah dan bacalah dengan tartil, sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca." (HR Abu Dawud dan At-Tirmizi, dengan mengatakan, "Hadis hasan sahih").

Dan yang perlu kita ketahui, bahwa membaca Al Quran yang berguna bagi pembacanya, yaitu membaca dengan merenungkan dan memahami makna, perintah-perintah, dan larangan-larangan-Nya. Artinya, ia adalah sebuah pedoman, dimana jika kita menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu, maka kita mematuhi dan menjalankannya. Dan jika kita menjumpai ayat yang melarang sesuatu, maka kita pun meninggalkan dan menjauhinya. Jika kita menjumpai ayat tentang rahmat, maka kita memohon dan mengharap kepada Allah atas rahmat-Nya. Jika kita menjumpai azab, maka kita berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya.

Iman Dan Kepekaan Sosial


Iman itu bukan hiasan bibir dan pemanis kata apalagi sekadar keyakinan hampa, tapi sebuah keyakinan yang menghujam ke dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindak nyata.

Pengakuan seorang mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti amal shalih, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan tidak berdasar. Di sini Allah Taala menjelaskan kepada kita tentang senyawa keimanan dan amal shalih dalam surat Al-'Ashr; “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati agar mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati agar tetap sabar.” (QS 103:1-3)

Ayat-ayat qur'aniyah tentang hal ini banyak sekali, bahkan setiap “khithab ilahi” (panggilan Allah) yang ditujukan kepada mukminin selalu disertai dengan perintah untuk mengerjakan amal saleh yang berkaitan dengan ibadah dan larangan untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah Taala.

Iman yang menshibghah akal, hati dan jasad seorang mukmin, hingga ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan maka pilihannya itu sudah pasti jatuh pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ia senantiasa memutuskan sesuatu dengan haq dan menghindari hal-hal yang menjurus kepada kebatilan. Jadi seorang yang telah tershibghah imannya, ia akan menjadi cahaya bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya. Allah berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian ia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya?…” (Al-An'am: 122)

Demikianlah Allah menghidupkan manusia dengan cahaya Islam dan keilmuan. Sehingga hal itu memberikan manfaat dan kontribusi riel. Rasulullah saw menganalogikan seorang mukmin yang benar-benar memahami keislaman dan keimanannya seperti lebah. Lebah itu mempunyai sifat tidak pernah melakukan kerusakan, lihatlah ketika hinggap di dahan-dahan pepohonan atau tangkai-tangkai bunga. Lebah selalu mengkonsumsi makanan yang terbaik yaitu sari bunga. Dan menghasilkan sesuatu yang paling bermanfaat yaitu madu. Maka makhluk hidup yang berada di sekitarnya merasa aman dan nyaman.

Begitulah seharusnya muslim dan mukmin, dia harus mampu menebar pesona Islam. Melukiskan tinta emas kebaikan dalam kanvas kehidupan secara individu dalam semangat kebersamaan. Semangat kebersamaan inilah yang seharusnya dimiliki setiap mukmin. Kepekaan terhadap apa saja yang sedang menimpa masyarakat harus menjadi bagian kehidupannya. Jangan puas dengan urusannya sendiri tanpa memperhatikan dan mempedulikan masyarakat sekitarnya.

Interaksi Sosial
Lezatnya iman apabila sudah mampu dirasakan oleh seorang mukmin dalam ruang kepribadiannya, maka akan menjelma menjadi pesona sosial yang sangat menawan. Khusyuk diri yang dimiliki seorang mukmin akan berdampak pada kontribusi sosial dan keharmonisan sosial. Di sini, Nabi kita Muhammad saw mengajarkan kepada kita dengan tiga kalimat yang sarat dengan nilai-nilai perbaikan diri. Di saat beliau bersabda;“Bertaqwalah kamu di manapun kamu berada, ikuti keburukan itu dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya dan berinteraksilah pada manusia dengan akhlaq yang baik.”

Dan salah satu bentuk interaksi kita pada lingkungan sekitar kita adalah adanya kepekaan yang kuat terhadap permasalahan yang terjadi di dalamnya. Perhatian dan fokus kita terhadap lingkungan, baik keluarga maupun masyarakat adalah cerminan kuat dari keimanan kita. Bagaimana Rasulullah saw melakukan hal ini dalam keluarga dan masyarakatnya. Beliau dengan gigih telah mengajak pamannya, Abu Thalib untuk memeluk Islam sehingga detik-detik akhir hidup sang paman. Begitu juga, beliau telah terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada masyarakatnya sebelum nubuwah seperti berperan aktif dalam perang fijar; peperangan  antara Quraisy bersama Kinanah dengan Ais Qailan, Hilful Fudlul; kesepakatan untuk melindungi orang-orang yang terzhalimi dan pembangunan Ka'bah.

Oleh karenanya seorang mukmin harus terlibat aktif dalam amal-amal kebaikan yang terjadi di lingkungan keluarga maupun masyarakatnya. Baik yang berhubungan dengan keluarga, pengajaran dan kemasyarakatan lainnya. Janganlah seseorang hanya sibuk dengan perbaikan dirinya dan mengabaikan keluarganya. Semangat berbisnis, lalu lupa mengajar dan membina anak-anaknya. Asyik dengan pekerjaan di luar, sementara anak asyik dengan narkoba.

“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS 64:14-15) “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS 63:9)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS 66:6)
Kepekaan Sosial

Kapan pun dan kondisi apapun seorang mukmin harus menebar pesona Islam. Ia bekerja dan berkarya sesuai peran sebagai khalifah. Seluruh waktu dan hidupnya agar bermanfaat bagi manusia lain. Ia ingin menjadi salah satu dari kategori kaum yang beramal dan mendambakan identitas “mukminin yang sebenarnya”.

Oleh karenanya, seorang mukmin harus bisa berperan aktif dalam seluruh dimensi sosial. Baik dimensi seorang mukmin yang mengharuskan dia sebagai cahaya di tengah masyarakatnya, yang mengharuskan dia membawa obor amar ma'ruf nahi munkar. Dimensi ukhrawi yang mengharuskan dirinya menjalin ukhuwah islamiyah. Benar-benar menjadi kontributor dalam segala hal, apalagi yang bersentuhan langsung dengan fakir, miskin dan anak yatim piatu.

Rasulullah bersabda:“Ya Abu Dzar, apabila kamu membuat sayur, perbanyak kuahnya dan perhatikan tetanggamu.” (HR Muslim)
“Tidaklah beriman seorang di antara kamu, hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.” (Muttafaqun Alaih)
“Penanggung anak yatim, baik miliknya atau orang lain, aku dan orang itu di surga seperti ini (Malik mengisyaratkan dengan kedekatan jari telunjuk dan tengah).” (HR Muslim)

Dan dimensi pendidikan yang mengharuskan seorang mukmin berperan aktif dalam melakukan pengajaran dan pembinaan kepada masyarakatnya. Sehingga masyarakat disekitarnya menikmati pencerahan jiwa dan bertambah keimanan. Mereka semakin dekat dengan nilai-nilai Islam dan akhirnya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dan keluarganya.

Allah berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS 3:104)



Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com