Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 16 Januari 2020

Pembuktian Madu Asli atau Palsu


Pembuktian Madu Asli atau Palsu

Tanya Jawab Mengenai Madu

Pertanyaan mengenai ciri-ciri madu asli vs madu palsu merupakan yang paling banyak disampaikan. Akan tetapi jawaban yang didapatkan oleh yang bertanya seringkali berupa penjelasan yang tidak akurat. Adalah hal yang wajar karena cukup sulit bagi pelanggan dan penggemar madu untuk memperoleh madu yang tidak saja murni tapi juga berkualitas.

Ketika kami mengikuti kegiatan Munas Asosiasi Perlebahan Indonesia III pada  tahun 2010 yang dilaksanakan di Cibubur, diinformasikan bahwa 80% madu yang beredar di negara kita diperkirakan palsu.

Setidaknya, diketahui ada tiga model pemalsuan madu: pemalsuan jumlah, pemalsuan mutu, dan pemalsuan menyeluruh (Adji Suranto, 2007).

Pemalsuan jumlah dilakukan dengan menambah volume madu asli dengan bahan lain. Misalnya mencampurkan sirup fruktosa buatan atau larutan air gula atau madu buatan yang murah ke dalam madu yang asli.

DISCLAIMER. Hasil yang diperoleh untuk setiap individu berbeda-beda, dipengaruhi oleh banyak faktor, Informasi di atas merupakan referensi semata.

Pemalsuan mutu biasanya dilakukan dengan mengubah kadar air madu yang sebelumnya tinggi, lalu diturunkan dengan cara pemanasan. Sederhananya begini, madu yang dipanen dan encer, dipanaskan, dengan tujuan madu menjadi kental.

Kalau pemalsuan menyeluruh? Adalah madu yang diklaim asli tetapi sebenarnya 100% buatan. Bukan madu yang diproduksi oleh lebah dengan komposisinya yang asli.

Semua bentuk pemalsuan madu berawal pada tingginya permintaan konsumen terhadap madu dengan harga yang sangat murah. Berikut beberapa informasi yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.


Semut

Sebagian orang meyakini bahwa madu yang asli atau madu yang murni tidak akan pernah didatangi semut. Benarkah demikian?

Sebenarnya tidak ada alasan yang cukup kuat untuk mempercayai mengapa semut lebih menyukai gula yang telah diproses ketimbang madu. Bagaimanapun semut menyukai bahan-bahan yang berasa manis.

Kami pernah berkesempatan bergabung dalam suatu rombongan untuk turut serta menyaksikan teknik memanen madu pada koloni Apis cerana di salah satu kebun belimbing, kami menyaksikan sendiri bahwa madu yang tercecer dan baru saja dipanen langsung dikunjungi semut. Pada kesempatan lain kami melakukan kegiatan serupa ke daerah Pandeglang, dan kami pun menyaksikan hal yang sama.

Pada lain kesempatan, kami coba mengambil madu yang masih utuh bersama sarangnya. Kami memastikan betul bahwa madu di dalam sarang tersebut bukanlah madu yang bersumber dari larutan gula. Kemudian kami potong dua, lalu kami biarkan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama semut pun berbaris rapi menghampiri.

Selain itu, bagi lebah jenis Apis mellifera atau Apis cerana juga genus Trigona, semut merupakan salah satu hama yang sangat mengganggu. Semut yang berjumlah banyak dapat merusak sel-sel madu. Apabila tidak ditanggulangi semut bisa menghancurkan koloni lebah atau menyebabkan koloni lebah pergi mencari tempat yang lebih aman. Jadi, semut bukan penentu keaslian madu.


Terbakar

Ada cara lain yang dipercaya dapat menunjukkan apakah madu itu asli atau tidak. Yaitu tes tentang apakah mudah atau tidaknya cairan tersebut terbakar. Caranya dengan menyalakan kapas putih (cotton buds) yang sudah dicelupkan ke dalam madu dengan korek api. Jika terbakar maka madu tersebut dinyatakan asli atau murni. Apakah betul demikian?

Kami melakukan beberapa kali percobaan dengan cara tersebut. Kami menggunakan berbagai jenis madu, beberapa di antaranya madu yang kami ambil langsung dari sarang lebah, berupa madu sarang. Hasilnya, ada yang terbakar, banyak juga yang tidak. Cara ini ternyata tidak konsisten.

Tampaknya teknik ini sangat dipengaruhi oleh berapa banyak madu yang dicelupkan dan berapa lama api mengekspos madu. Apa yang kami alami juga disepakati oleh beberapa orang peternak lebah yang kami temui. Kalau begitu, cara ini tidak bisa dijadikan acuan dalam menetapkan apakah satu madu asli atau tidak.


Bagaimana Mengetahui Madu Aspal?

Selain cara yang telah kami sampaikan di atas, ada juga teknik lain yang dianggap tepat namun sederhana untuk menentukan keaslian madu. Dengan cara bagaimana?

Menguji kemurnian madu dengan mengamati bagaimana madu larut dalam segelas air. Madu murni tidak akan cepat larut di dalam air. Bila madu diaduk di dalam air, akan diperlukan waktu lebih lama untuk melarutkan butiran-butirannya yang padat, berbeda dengan gula yang cenderung larut lebih mudah.

Ringkasnya, bila madu yang dicampur ke dalam segelas air larut dengan cepat, maka madu tersebut adalah palsu. Betulkah begitu? Pertanyaannya adalah: apakah setiap cairan yang larut di dalam segelas air lebih lama bisa disimpulkan sebagai madu yang asli?

DISCLAIMER. Hasil yang diperoleh untuk setiap individu berbeda-beda, dipengaruhi oleh banyak faktor, Informasi di atas merupakan referensi semata.

Jenis madu yang berbeda tentu memunculkan hasil yang berbeda pula. Ada madu yang encer karena kadar airnya cukup tinggi, ada madu yang kadar airnya rendah (kental), bahkan ada madu yang berbentuk krim. Madu yang encer tentu lebih cepat larut di dalam air dibanding madu yang kental apalagi yang berbentuk krim. Lantas bisakah disimpulkan madu yang encer adalah madu palsu hanya karena larut lebih cepat dan lebih mudah?

Madu yang tidak murni lagi karena sudah ditambahkan bahan lain pun tidak akan mudah larut semudah madu cair di dalam air. Kalau begitu, cara ini tidak dapat dijadikan acuan juga.

Kami pernah mencoba menuangkan sedikit madu ke dalam piring berwarna putih, kemudian kami tambahkan beberapa tetes air. Piring itu kemudian kami goyang dengan gerakan berputar, perlahan. Hasilnya, muncul serat-serat halus yang membentuk formasi segi enam, mirip sarang lebah genus Apis. Bagi kami ini hal yang menarik! Kami berharap bahwa inilah salah satu cara sederhana yang praktis untuk menentukan keaslian madu.

Kemudian kami ambil madu yang sebelumnya sengaja kami panaskan. Kami lakukan pengujian dengan cara yang sama, dan ternyata hasilnya sama: terlihat serat-serat halus yang membentuk formasi segi enam. Menurut kami, cara ini tidak dapat membuktikan kualitas madu. Beberapa pedagang mengentalkan madu melalui proses pemanasan. Teknik tersebut dapat merusak kandungan madu.

Berikutnya, kami mencampur madu murni dengan sirup fruktosa buatan pabrik. Kami lakukan percobaan dengan cara yang sama, dan ternyata hasilnya tetap sama: terlihat serat-serat halus yang membentuk formasi segi enam. Pendapat kami, cara ini tidak menjelaskan kemurnian madu. Teknik ini memang sederhana tetapi tidak dapat dijadikan acuan.


Kulkas

Pada umumnya, madu memang tidak membeku seperti es jika disimpan di kulkas. Madu akan semakin mengental saja, dan bertambah kental bila disimpan di dalam freezer. Lalu, apakah cairan yang seperti itu pasti merupakan madu yang asli?

Beberapa orang  peneliti juga peternak yang berpengalaman menceritakan kepada kami bahwa pada suhu yang rendah, madu mudah mengkristal atau mengendap, apalagi madu yang glukosa alaminya lebih tinggi dari dibanding kandungan fruktosa alaminya.

Secara sengaja kami mengunjungi supermarket untuk membeli sirup fruktosa buatan pabrik. Sirup fruktosa tersebut kami simpan di lemari es, lalu beberapa hari kemudian kami pindahkan ke dalam freezer. Dari apa yang kami lakukan, kami bisa memberi gambaran bahwa sirup fruktosa tersebut menjadi lebih kental selama disimpan di kulkas, lalu semakin bertambah kental setelah kami pindahkan ke dalam freezer, persis seperti madu.

Kami berpendapat, keaslian madu tidak bisa diuji menggunakan kulkas atau juga freezer. Kenapa? Karena ada cairan selain madu yang “berperilaku” seperti madu yang asli.

Madu asli yang dicampur sirup fruktosa juga akan menunjukkan gejala yang sama seperti madu murni tanpa campuran ketika disimpan di dalam kulkas atau di dalam freezer. Apa gunanya mencampur madu dengan cairan lain seperti sirup fruktosa?

Madu yang asli, murni, dengan mutu yang baik, memiliki harga jual yang relatif lebih tinggi. Tidak mudah menjual madu yang demikian. Mencampur madu dengan cairan lain yang lebih murah akan memudahkan pedagang menjual madunya. Pedagang yang demikian tentu berusaha menyediakan madu campuran dengan mendekatkan kepada sifat madu yang asli.

DISCLAIMER. Hasil yang diperoleh untuk setiap individu berbeda-beda, dipengaruhi oleh banyak faktor, Informasi di atas merupakan referensi semata.


Madu yang Meledak Pasti Asli?

Apakah madu yang meledak atau meletup itu merupakan madu yang asli? Jawabnya: mungkin asli, mungkin juga tidak. Madu yang kelebihan kadar air (di atas 20%) atau madu yang terlalu encer akan cepat mengalami proses fermentasi. Madu tersebut akan berwarna lebih gelap, berasa lebih asam, beraroma lebih tajam dari yang seharusnya. Madu yang telah mengalami proses fermentasi, kalau asli, kalaupun murni, mutunya sudah menurun.


Kalau Begitu, Pilih Madu yang Kental Aja?

Kadar air pada madu yang bermutu baik adalah 17% sampai 20%, standar madu nasional memberi toleransi hingga 22%. Madu yang dihasilkan di Indonesia rata-rata memiliki kandungan air di atas 18%. Sejumlah peternak atau pedagang madu menempuh jalan pintas. Mereka memanaskan atau memasak madu yang encer supaya kental. Kenapa dipanaskan? Cara tersebut relatif murah dan cepat sehingga madu yang dihasilkan bisa dijual dengan harga agak murah walaupun tampak bagus karena kental. Akan tetapi, pemanasan itu merusak kandungan madu. Enzim, misalnya, akan rusak bila kena panas, belum lagi vitamin dan kandungan bermanfaat lainnya. Di dalam laboratorium, madu yang angka HMF-nya tinggi patut diduga telah melalui serangakain proses pemanasan. Kalau untuk diminum sehari-hari, hindari saja madu yang demikian. Kecuali pemanasan madu dilakukan karena bertujuan untuk menggunakan madu sebagai pemanis alami atau pelembap yang melembutkan dalam resep makanan sehat.


Uji Kuantitas

Melalui uji kuantitas, madu dapat diperkirakan madu palsu atau sudah ditambahkan sesuatu apabila:

Kadar sukrosa madu naik;
Kadar enzim naik atau turun;
Kadar abu menjadi naik atau turun;
Daya hantar listrik naik;
Kandungan polen dalam sedimen turun;
Kandungan mineral turun;
Aroma dan rasa berubah;
Kandungan HMF (Hidroksi Metil Furfuraldehid) berubah;
Kadar protein turun;
Warna terang;
Madu mengandung timbal klorida;
Madu mengandung timbal sulfat;
Madu mengandung anion & kation. (Suranto, 2007).

Mengulang penjelasan sebelumnya, secara sederhana, madu asli dan palsu dapat dibedakan dengan melihat ciri khas fisik madu asli. Misalnya, meneteskan madu pada selembar kertas, mengocoknya, mencampur madu dengan telur, menyimpan madu di dalam lemari es, dan lain sebagainya. Karena teknik pemalsuan madu yang terus berkembang dan madu palsu yang dibuat semakin mendekatkan atau menyerupai madu yang asli maka berbagai cara sederhana tersebut tidak lagi dapat dijadikan pegangan.

Konsumen membeli madu pasti berharap supaya badannya bertambah sehat. Konsumen yang sedang sakit kemudian mengkonsumsi madu tentu berharap supaya memperoleh kesembuhan. Kami pun bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila madu yang dikonsumsi adalah palsu. Konsumen yang sehat tidak bertambah bugar, konsumen yang sedang sakit bisa bertambah sakit.

Produsen madu palsu termasuk pedagang yang menjualnya sebenarnya telah melakukan perbuatan jahat yang akan merugikan banyak orang. Bisnis tersebut merupakan perbuatan kriminal.

Untuk menekan praktik jahat seperti itu, semua pihak seharusnya menjalankan peran sesuai fungsinya masing-masing. Pemerintah melalui aparat penegak hukum bisa mengambil langkah tegas yang dibutuhkan. Melalui Kementerian terkait melakukan pembinaan terhadap produsen atau juga pedagang madu. Penyebarluasan informasi yang benar mengenai lebah dan madu juga sebaiknya dilakukan melalui berbagai saluran. Penetepan standar mutu madu yang diberlakukan harus dipastikan bahwa hal tersebut telah diterapkan oleh produsen atau pedagang dan berjalan dengan semestinya. Akhirnya, konsumen yang tercerahkan bisa mengakses produk lebah yang berkualitas dengan harga yang pantas.

Kalau penasaran? Menurut kami, lebih baik kita melakukan pembuktian di lapangan saja. Caranya bagaimana? Siapkan madu yang asli dan madu yang palsu. Madu yang asli yang bagaimana? Bagaimana tahunya kalau madu yang mau digunakan itu asli? Kunjungi beberapa peternakan, ambil madu yang masih utuh yang tersimpan di dalam sarang sehingga Anda bisa meyakini keasliannya, kemudian keluarkan madunya. Pastikan madu asli yang Anda gunakan tidak hanya satu jenis. Sediakan madu yang berasa manis, juga madu yang berasa asam atau bahkan pahit. Cara seperti inilah yang kami lakukan. Lalu bagaimana dengan madu palsunya? Anda bisa membeli madu palsu yang ada di pasaran atau membuat sendiri untuk keperluan pengujian.

DISCLAIMER. Hasil yang diperoleh untuk setiap individu berbeda-beda, dipengaruhi oleh banyak faktor, Informasi di atas merupakan referensi semata.

Lalu lakukan teknik pengujian yang selama ini dikenal luas. Misalnya menjajarkan madu asli dan madu palsu di lantai rumah Anda. Amatilah, apakah semut mendatangi semua sampel? Lakukan pengujian lain dengan membakar madu, menyimpan di kulkas, dan cara lainnya.

Untuk mengetahu kemurnian, keaslian dan kualitas madu, perlu dilakukan serangkaian pengujian yang dilakukan di dalam laboratorium. Untuk sementara, belum ada cara atau teknik pengujian yang sederhana, yang lebih cepat, yang lebih mudah dan lebih murah yang memberikan hasil akurat dan reliabel.


Jadi Bagaimana Donk?

Karena belum ditemukan cara sederhana yang akurat untuk mengetahui kemurnian dan kualitas madu, maka satu-satunya cara yang dapat dijadikan acuan adalah dengan menguji sampel madu ke dalam laboratorium. Akan tetapi langkah ini tentu sulit dilakukan oleh konsumen. Sebaiknya, produsen atau pengusaha yang melakukan pengujian secara berkala untuk memastikan kemurnian dan kualitas madu.

Bagi penikmat setia madu, apabila tidak memungkinkan untuk memanen madu ke hutan, tidak bisa beternak lebah madu sendiri, atau jarak ke peternakan lebah yang terlalu jauh, maka belilah madu dari pihak yang dapat dipercaya.


Sumber : http://gudangmadu.com/id/tanya-jawab/

Pesan Madu? Silakan hubungi saya :
085645200200;
083872200200;
081234200200.

yang diatas ini diposting ulang dari : https://miftahmadiun.blogspot.com/2017/05/pembuktian-madu-asli-atau-palsu.html 

Minggu, 03 November 2019

Manfaat Habbatussauda


Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membuktikan manfaat pengobatan yang dimiliki habbatussauda. Di antaranya untuk membantu pengobatan diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan kanker.

Selain itu, jintan hitam juga memiliki efek antibakteri, diuretik, antiperadangan, analgesik, memperkuat kekebalan tubuh, dan baik untuk kesehatan organ ginjal, lambung, serta hati. Manfaat tersebut berasal dari thymoquinone (TQ) yang terkandung dalam habbatussauda.
Dengan manfaatnya yang banyak ini, jintan hitam memberikan kesan sebagai obat herbal yang dapat mengobati berbagai penyakit. Namun, bagaimanakah khasiat tersebut dipandang dari sisi medis?

  • Mengobati darah tinggi (hipertensi)Dalam studi berskala kecil, habbatussauda nampak dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Pada studi tersebut, terlihat adanya penurunan tekanan darah pada subjek yang diteliti, setelah mengonsumsi ekstrak habbatussauda selama delapan minggu. Akan tetapi, efektivitas dan keamanan obat herba ini secara klinis belum diketahui.

  • Mengobati kolesterol tinggi
    Kolesterol memang dibutuhkan tubuh. Namun jika berlebihan, dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit, seperti stroke dan penyakit jantung. Beberapa studi menunjukkan bahwa jintan hitam dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida, serta meningkatkan kadar kolesterol baik.

  • Menjaga kadar gula darahGula darah tinggi merupakan salah satu tanda penyakit diabetes. Gejalanya bisa berupa sering haus, mudah lelah, dan kesulitan berkonsentrasi. Diabetes yang tidak diobati bahkan dapat mengakibatkan kerusakan saraf, gangguan penglihatan, serta melambatnya penyembuhan luka.
    Pada sebuah sudi, konsumsi jintan hitam selama beberapa minggu terlihat dapat mengurangi kadar gula darah dan resistensi insulin. Efek habbatussauda ini diduga baik untuk penyakit diabetes, akan tetapi data klinis yang didapat sejauh ini belum dapat memastikan hal tersebut.

  • Memiliki efek antiradang
    Salah satu efek habbatussauda yang diyakini baik untuk kesehatan adalah kemampuannya dalam mengurangi peradangan. Penelitian klinis skala kecil selama 3 bulan pada penderita asma menunjukkan bahwa habbatussauda dapat mengurangi keparahan dan frekuensi serangan asma.
    Studi lain juga menunjukkan bahwa obat herba ini mampu membantu mengatasi penyakit lain akibat peradangan, seperti sinusitis, alergi, dan radang sendi.

  • Melawan infeksi
    Habbatussauda memiliki sifat antibakteri dan antivirus. Hal ini dibuktikan dari suatu penelitian yang menunjukkan bahwa obat herba ini mampu membasmi virus penyebab hepatitis C, HIV, dan flu. Habbatussauda pun terlihat dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur, sehingga dianggap mampu melawan infeksi.

  • Melindungi hati
    Beberapa penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa jintan hitam dapat mencegah kerusakan organ hati. Manfaat ini terkait dengan kandungan antioksidan pada jintan hitam yang memiliki fungsi antiperadangan.

  • Mencegah kankerThymoquinone merupakan senyawa aktif yang terkandung di dalam biji jintan hitam. Senyawa ini dikatakan mempunyai efek antikanker. Pada beberapa penelitian terhadap hewan, thymoquinone dapat mengurangi ukuran tumor ganas. Selain itu, uji laboratorium menunjukkan bahwa thymoquinone secara efektif dapat menghambat pertumbuhan sel kanker.

Selasa, 01 Mei 2018

Konsep Pendidikan Dalam Al-Quran


Allah telah menurunkan risalah terakhirnya berupa Al-Quran kepada rasul terakhir pilihannya, Muhammad saw. Sebagai kitab penutup dan juga rasul penutup, maka Allah memberikan nikmat yang tidak diberikan oleh-Nya kepada para rasul dan umat-umat yang terdahulu, nikmat tersebut adalah risalah Islam yang lengkap dan integral berupa Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya.

Sebagai risalah yang lengkap, berarti risalah Muhammadiyah mencakup semua lini kehidupan manusia,  tidak ada satu lini kehidupan pun yang luput dari risalah ini. Maka dari itulah Allah menegaskan dalam firman-Nya:

“…Tidak kami luputkan dalam Al-Quran sesuatu apa pun….” (Al-An’am: 38)

Dari ayat tersebut maka kita akan jumpai dalam Al-Quran berbagai pembahasan mengenai kehidupan manusia; hukum, sosial, budaya, politik, ekonomi, peradaban, dan yang terpenting adalah pendidikan.

Pendidikan merupakan satu dari pembahasan-pembahasan yang ada pada Al-Quran. Maka pas jika ayat yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. Adalah perintah untuk membaca. Di samping itu, dalam Al-Quran juga banyak sekali kisah tentang para nabi yang mendidik kaumnya, juga para ayah mendidik anak-anaknya sebagaimana Ibrahim mendidik Ismail, Ibrahim mendidik Ishaq, Ishaq mendidik Ya’kub, Ya’kub mendidik kedua belas anaknya termasuk di antaranya Yusuf AS. Tak luput pula, bagaimana Allah menerangkan tentang pendidikan yang diberikan oleh Maryam kepada anaknya Isa as. Juga Hajar kepada anaknya Ismail as.

Dari kisah-kisah yang ada pada Al-Quran tersebut, kita bisa mengambil sebuah hikmah, ibrah, sekaligus metode dalam pendidikan untuk anak, keluarga, masyarakat, bangsa, dan juga negara.


Pengertian Pendidikan

Sebelum membahas lebih lanjut, pengetahuan terhadap pengertian pendidikan merupakan hal yang penting. Sebab jika terjadi perbedaan pengertian dalam hal pengertian pendidikan, nantinya akan muncul kesalahan persepsi dan pemahaman.

Secara bahasa pendidikan yang dalam bahasa Arab disebut “tarbiyah” memiliki tiga asal makna. Makna pertama tarbiyah bermakna az-ziyadah dan an-namâ` yang berarti bertambah atau tumbuh. Makna kedua tarbiyah adalah nasya`a dan tara’ra’ah yang bermakna tumbuh dan berkembang. Dan makna ketiga, tarbiyah bermakna aslaha yang berarti memperbaiki.

Sedangkan secara umum pendidikan atau tarbiyah adalah sebuah amal yang memiliki tujuan dan sebuah seni yang fleksibel dan selalu berkembang. Adapun tujuannya adalah membentuk karakter kebaikan sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri.

Dengan begitu maka pendidikan atau tarbiyah adalah menjaga supaya manusia tetap dalam fitrahnya sebagaimana ia dilahirkan supaya tidak tersusupi oleh hawa nafsu yang dihembuskan setan.


Tujuan Pendidikan dalam Islam

Rasulullah saw. bersabda bahwa “Semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau majusi. (HR. Bukhari)

Maka untuk menjaga fitrah manusia tetap dalam tauhid dan karakter kebaikan maka Allah menurunkan risalahnya berupa Al-Quran dan juga Sunnah Rasul-Nya sebagai buku panduan untuk menjaga fitrah tersebut sekaligus mendidiknya dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan yang sempurna.

Jika Al-Quran dan juga sunnah sudah dijadikan pedoman dalam mendidik, tidak diragukan lagi hasil didikan tersebut akan menuai kesuksesan sebagaimana kesuksesan Lukman dalam mendidik anak-anaknya yang secara gamblang Allah tegaskan dalam surat-Nya, surat Lukman.

Ustadz ‘Atif as-Sayid dalam bukunya at-Tarbiyah al-Islamiyah Ushuluha wa manhajuha wa mualimuha menerangkan bahwa pendidikan dalam pandangan Islam adalah pembentukan karakter sehingga menjadi insan yang sempurna dari segi jasad, ruh, dan akhlaq berdasarkan apa yang menjadi misi Islam.

Singkatnya, pendidikan dalam Islam bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai insan yang bertakwa. Sebab takwa merupakan sebaik-baik bekal untuk menghadapi hari esok. Tanpa takwa manusia akan merasakan kesengsaraan yang amat pada hari mendatang.

Inilah output sesungguhnya dari pendidikan dalam Islam. Takwa yang memiliki maka berusaha untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sekuat tenaga inilah tujuan utama. Sebab, jika seseorang sudah memiliki sifat taqwa, berarti pendidikan terhadapnya telah berhasil.


Tiga Objek Pendidikan Dalam Al-Quran

Al-Quran membagi objek pendidikan menjadi tiga objek. Yang pertama adalah objek individual. Kedua adalah objek keluarga dan orang-orang dekat, dan ketiga adalah objek masyarakat.

Objek individual.  Maksud dari objek individual adalah bahwa objek pendidikan tersebut adalah dirinya sendiri. Yakni seseorang mendakwahi dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. sebelum Allah menurunkan wahyu kepada beliau saw. Allah memberikan beliau semacam wahyu untuk menyendiri di dalam gua Hira. Tak lain tujuannya adalah untuk mendakwahi diri sendiri dengan mentadaburi alam dan melihat keadaan sekitar berupa masyarakat Makah yang sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Objek dakwah individual inilah yang Allah singgung dalam Al-Quran surat at-Tahrim ayat keenam. Allah berfirman yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (At-Tahrim: 6)

Dalam ayat yang lainnya, bahkan Allah memperingatkan orang yang gemar berdakwah kepada orang lain, tapi dirinya sendiri tidak ia dakwahi, dalam artian dia tidak melaksanakan apa yang ia sampaikan kepada orang lain. Allah berfirman yang artinya:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shaf: 3)

Ayat ketiga dari surat ash-shaf tersebut memberikan kita sinyal bahwa individu kita perlu kita perbaiki, maka dari itulah objek pertama adalah individu bukan yang lainnya. Di samping itu, ketika kita memberikan sebuah pengajaran kepada orang lain, atau orang dekat semisal anak sendiri, namun ternyata apa yang kita perintahkan kepada orang lain tersebut tidak kita kerjakan, kemudian apa yang akan mereka katakan tentang diri kita? pastinya adalah cemoohan.

Selanjutnya yang kedua adalah objek keluarga dan orang-orang yang dekat dengan kita. Ini adalah sasaran kedua setelah individu. Sebagaimana firman Allah di atas, Allah menyebutkan “Jagalah dirimu” setelah itu Allah melanjutkan “dan keluargamu”. Ibarat penjagaan polisi dari terorisme, individu ada di ring pertama dan keluarga ada di ring kedua.

Dakwa seseorang kepada keluarga dekatnya dan juga kepada orang-orang yang hidup bersamanya, mulai dari teman dan kolega, merupakan dakwah yang dilakukan oleh para nabi termasuk Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw. ketika selesai mendapat perintah untuk berdakwah, beliau tidak langsung menuju ke Ka’bah di mana Ka’bah adalah tempat berkumpulnya masyarakat Makah waktu itu, tetapi beliau berdakwah kepada keluarganya terlebih dahulu. Hal ini juga atas petunjuk dari Allah langsung sebagaimana firmannya:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.” (Asy-Syu’arâ’: 214)

Sebab itulah mengapa orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan wanita adalah Khadijah, siapa beliau? Istri Nabi. Dari golongan anak kecil Ali bin Abi Thalib, siapa beliau? Sepupu sekaligus anak asuh Nabi. Dari kalangan orang dewasa Abu Bakar, siapa beliau? kolega bisnis Nabi sekaligus sahabat karibnya.

Lihatlah, orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah keluarga dan orang-orang dekat beliau. Mengapa? karena objek tarbiyah beliau memang orang-orang terdekat pada mulanya.
Kita juga bisa melihat bagaimana Nabi Ibrahim mendidik Ismail. Dari hasil didikan beliau, muncul sosok Ismail yang sangat taat dengan perintah Allah juga perintah bapaknya, meskipun lehernya harus dipertaruhkan. Lihatlah juga bagaimana Nabi Ya’kub mendidik Yusuf. Hasil didikan beliau memunculkan sosok Yusuf yang pemurah, penyabar, dan pemaaf. Padahal jika mau, Yusuf bisa saja membalas kelakuan buruk kakak-kakaknya ketika beliau menjadi menteri ekonomi di Mesir kala musim paceklik datang.

Selanjutnya, objek ketiga berupa masyarakat. Tentu Islam hadir tidak hanya untuk menshalihkan individu tertentu dan atau keluarga tertentu, melainkan untuk menshalihkan semua orang yang menginginkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Secara tegas Allah memperingatkan kepada kita agar kita tidak tiga egois dengan keadaan orang lain. Allah berfirman yang artinya:

“Dan takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak ditimpakan hanya untuk orang-orang yang zhalim saja dan ketahuilah bahwasanya azab Allah amatlah keras.”

Ayat ini memberikan indikasi bahwa kita jangan merasa aman ketika kita sudah shalih. Padahal di samping kanan dan kiri kita masih  banyak orang yang berbuat kezhaliman. Maka dari sini kita paham bahwa objek ketiga dari pendidikan adalah masyarakat umum.

Namun, apakah seseorang harus shalih individunya dahulu sebelum mendidik keluarga dan masyarakat? Tentu tidak. Yang diperlukan adalah sikap tawazun atau keseimbangan antara menshalihkan diri sendiri dengan menshalihkan keluarga dan menshalihkan masyarakat. Sebab itulah Rasulullah menyampaikan, “Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat.” Artinya apa yang kita sampaikan adalah apa yang kita ketahui.

Rasulullah dalam mendidik masyarakat pun tidak menunggu keluarganya shalih semua. Kita lihat paman beliau, Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil, keduanya adalah keluarga dekat Nabi saw. namun mereka tetap ingkar dan Rasul pun tetap melanjutkan tugasnya mendidik masyarakat Makah.


Prioritas pendidikan dalam Al-Quran

Dalam kajian fiqih kita akan menemukan apa yang oleh para ulama dinamakan dengan fiqih urutan masalah atau fiqih prioritas. Fiqih prioritas adalah cabang ilmu fiqih yang membahas amalan apa yang sebaiknya didahulukan atas amalan-amalan lainnya. Fiqih prioritas ini membahas mana yang baik dan mana yang lebih baik. Mana yang buruk dan mana yang lebih buruk. Dengan fiqih prioritas, umat muslim akan dapat mengamalkan ajaran Islam dengan cermat dan efektif.

Begitu pula dalam hal pendidikan. Ada pendidikan yang sedini mungkin harus diajarkan dan ada pendidikan yang harus menunggu waktu-waktu tertentu untuk diajarkan. Orang tua dan juga pendidik semisal guru, ustadz, dan pendidik lainnya, harus memahami hal ini. Sehingga pendidikan yang diberikan lebih efektif dan mengena. Banyak terjadi, karena kecakapan yang kurang dalam masalah prioritas, guru mengajarkan hal-hal yang tidak penting dan meninggalkan hal-hal yang penting. Atau juga mengajarkan hal yang penting namun meninggalkan hal yang lebih penting.


Hal-Hal yang Menjadi Prioritas Pengajaran

Yusuf al-Qardhawi menyebutkan bahwa misi para nabi adalah mengajarkan tiga hal penting. Ketiga hal ini harus diprioritaskan atas hal-hal yang lainnya dan hendaknya ketiga hal tersebut adalah pelajaran pertama yang diterima oleh anak didik. Ketiga hal tersebut merupakan intisari dari risalah para nabi. Ketiganya adalah: dakwah tauhid, dakwah iman kepada hari akhir, dan dakwah menyeru kebaikan.

Pertama, Tauhid. Inilah yang pertama kali harus diajarkan kepada siapa pun. Termasuk anak-anak. Tauhid merupakan kunci dari semua kunci. Puncak ilmu dari semua ilmu. Ibarat rumah, maka tauhid adalah dasar bangunan. Jika dasar rapuh, rumah akan rapuh. Jika kuat, rumah akan kuat.

Tauhid adalah dakwah para nabi dan rasul. Semenjak Allah mengangkat Nuh alaihi salam sebagai rasul sampai Allah mengutus Muhammad saw. sebagai penutup nabi dan rasul, kesemuanya membawa satu risalah, yaitu risalah tauhid. Dalam banyak ayat Allah menerangkan akan esensi dakwah tauhid para nabi dan rasul.

Dalam surat Hud, Nuh as. menyeru kepada kaumnya “Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.” Begitu pula nabi-nabi setelahnya. Menyerukan hal yang sama yakni tauhid. Sebagaimana ayat yang sering dijadikan Rasulullah hujjah ketika beliau menyurati para penguasa Timur Tengah:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Ali-Imran: 64)

Inilah dakwah para rasul yang utama. Maka seyogianya, setiap pendidik muslim, yang diajarkan kepada anak didiknya adalah ketauhidan. Sebab tauhid adalah kunci dari surga. Siapa yang tidak mendapatkan tauhid, tidak akan pernah mencicipi bau harum surga.

Kedua, Iman kepada hari akhir. Setalah mengetahui hakikat tauhid, maka pelajaran kedua yang diprioritaskan atas yang lainnya adalah keimanan kepada hari akhir. Mengapa demikian? sebab dengan keimanan kepada hari akhir, seseorang akan mengetahui kenapa dia harus dilahirkan ke dunia, dan kenapa diperintahkan ini dan itu di dunia.

Manusia harus paham akan hari akhir. Mengimani bahwa setelah hari akhir ada kehidupan yang lebih abadi dan lebih baik dari pada kehidupan di dunia. yang mana kehidupan yang lebih baik tersebut tidak akan didapat kecuali dengan kebaikan di alam dunia.

Dengan kesadaran bahwa suatu saat dia akan mati, maka seseorang akan sadar bahwa hidup aslinya bukan di dunia melainkan di akhirat. Dia juga akan sadar dengan pendidikan para guru bahwa di akhirat hanya ada dua tempat; surga dan neraka. Jika ia tidak di surga maka ia di neraka. Jika ia tidak di neraka berarti ia di surga. Insan mana yang tidak menginginkan surga?

Dengan pemahaman bahwa akan ada kehidupan setelah kematian, dan kehidupan tersebut lebih nikmat dari kenikmatan dunia dan lebih sengsara dari kesengsaraan dunia, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kenikmatan hari akhir.

Yang ketiga, adalah pendidikan untuk beramal kebaikan. Baik dan berbuat baik adalah fitrah manusia. Maka pendidikan berfungsi untuk menjaga kebaikan tersebut dan jangan sampai ternodai oleh kesyirikan dan kezhaliman. Semua nabi dan semua rasul dalam berbagai risalah langitnya telah memerintahkan para kaumnya untuk berbuat baik. Misalnya kaum Madyan. Kaum Madyan adalah kaumnya Nabi Syu’aib. Nabi Syu’aib memerintahkan kaumnya untuk tidak berlaku curang dalam timbangan dan takaran. Nabi Luth memerintahkan kaumnya untuk tidak bersyahwat terhadap satu jenis. Dan juga Nabi Muhammad yang dalam Al-Quran menganjurkan bahkan memerintahkan kita semua untuk melakukan kebaikan dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi keburukan dan kezhaliman.

Tiga hal tersebutlah yang harus diutamakan untuk diajarkan oleh seorang pendidik atau murabbi sebelum mengajarkan hal-hal yang lainnya. Tidak akan ada manfaatnya jika seorang pendidik mampu mendidik anaknya menjadi ahli kimia, ahli fisika, dan lain-lain, namun dia gagal mengajarkan ketauhidan, akhirnya anaknya bermain syirik. Dia juga gagal mengajarkan sopan santun, sehingga akhlak pergaulannya dengan sesama sangat buruk. Semoga Allah mengaruniai kita kekuatan dalam mendidik hawa nafsu kita dan anak-anak didik kita. Amin



Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com