Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 20 Oktober 2014

Sahabat Kita Yang Baik Akan Menolong Kita Di Akhirat



Imam Syafi'i berkata:
"Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dlm rangka ketaatan kepada Allah maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman "baik" itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali"
Sahabat fillah luangkanlah waktu sejenak untuk membaca hadits yg mulia berikut ini....!!!

Diriwayatkan bahwa :
Apabila penghuni Syurga telah masuk ke dalam Syurga, lalu mereka tidak menemukan Sahabat2 mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia.

Mereka bertanya tentang Sahabat mereka kepada اللّهُ سبحانه و تعالى ...

"Yaa Rabb...
Kami tidak melihat Sahabat2 kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami...??

"Maka اللّهُ سبحانه و تعالى berfirman:
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabat2mu yg di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar zarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Perbanyaklah sahabat2 mukminmu, karena mereka memiliki syafa'at pada hari kiamat".

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat2nya sambil menangis:

"Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada اللّهُ تعالى tentang aku:

"Wahai Rabb Kami...
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU...
Maka masukkanlah dia bersama kami di surga-Mu"

Sahabat fillah,
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu tentang اللّهُ تعالى ...
Agar aku dapat besertamu kelak di surga & ridho-Nya..

Yaa Rabb...
ْAku Memohon kepada-Mu... Karuniakanlah kepadaku
Sahabat2 yang selalu mengajakku untuk Tunduk Patuh & Taat Kepada Syariat-Mu...

Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di Akhirat dengan-Mu...

آمِيْن يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ

Semoga kita bisa mencari dan bersahabat dengan orang2 sholeh.آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


======================
Dari Grup Pengurus LMI. Posting oleh Handri.

Image :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMCUvnIgCiTOh6SOPVIXeP91rVOM_cazCBkatAaBb77ddljmZyTtq4jzwZVCI4nUn4j642xorYVSxPmxPrsntWGhwv1GSeKw9UTSWzpv7jlDi3ukguxa9FRpXXRw75nT_xdp5jUpvJAHb0/s1600/2_akhwat.jpg

Kisah Kakek Mencintai Istrinya Yang Tak Lagi Mengenalinya



🌿 Taushiah of the Day 
 💖💖KISAH CINTA Sejati # seorg KAKEK KEPADA ISTRI yg tak lg mengenalnya..💫💫

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar pukul 9:30, seorang kakek berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, karena semua dokter masih sibuk dan mungkin kakek itu baru dapat ditangani sekitar satu jam lagi.

Sewaktu menunggu, kakek itu tampak gelisah. Berkali-kali ia melirik jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang, aku sempatkan untuk memeriksa lukanya. Nampaknya cukup baik, sudah kering dan tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk menanganinya sendiri.

Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru.

“Tidak. Hanya saja, seperti kebiasaanku sehari-hari, aku akan pergi ke rumah jompo untuk makan siang bersama istriku.” Kakek itu menceritakan bahwa istrinya mengidap penyakit Alzheimer dan sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu.

“Apakah istri Kakek akan marah kalau Kakek terlambat?”

“Tidak… Sebenarnya istriku sudah tidak lagi mengenaliku sejak lima tahun yang lalu” jawaban itu membuatku tersentak.

“Kakek masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Kakek tidak kenal lagi?”

Pria tua itu tersenyum sambil tangannya menepuk tanganku dan berkata, “Dia memang tidak lagi mengenaliku, tetapi aku masih mengenalinya, kan..?”

Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi…

-------------------------------------------------------------------------

Lepas dari siapa penulisnya, kisah ini mengajarkan tentang arti cinta dan kesetiaan. Seperti kata penulisnya, cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Dalam Islam, cinta pasangan suami istri terdiri dari dua aspek; mawaddah dan rahmah.

Mawaddah adalah cinta yang terkait dengan faktor fisik; kecantikan, ketampanan, ketertarikan terhadap pasangan yang dengannya mereka saling memberikan hak biologisnya.

Sedangkah rahmah adalah kasih sayang yang lebih dekat pada faktor non fisik dan immateri. Ia tumbuh dan hadir dalam jiwa tanpa mempedulikan kecantikan dan ketampanan pasangannya. Ia bahkan tak mempedulikan apakan belahan jiwanya sakit atau bahkan tak lagi mengenalnya. Ia lahir dari komitmen pernikahan, yang dengan tulus mencintai pasangannya meski fisik telah berubah.

Inilah cinta yang terus bertahan hingga tua, sepanjang usia. Dan karenanya kita berdoa, agar keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

~tulisan ini diambil dari kisahikmah.com~

Postingan Juli Susanti pada grup Pengurus LMI

Image :
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/20/b0/5d/20b05d7c59eb2dffebe19d1c22378fab.jpg

Asuransi Terbaik, Bukan Harta

Sebuah tulisan yang mengingatkan kita, bahwa hanya kepada Allah lah hendaknya kita bertawakal.

Ketika rasa takut miskin menghimpit kita. Ketika hitungan-hitungan nominal rupiah membius kita. Ketika kekhawatiran akan nasib anak cucu kita melupakan kita. Hendaklah kita tidak lupa, bahwa hanya kepada Allah lah kita harusnya bertawakal. Mari kita simak tulisan Budi Ashari, Lc berikut, Asuransi Terbaik

----------------------------------------------------------------------------------------------

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.
Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.

Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.

Lihatlah kisah berikut ini:

Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan penunggang kuda.

Apa yang membedakan keduanya? Keberkahan.

Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.

Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.

Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.

Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,
Ayat yang pertama,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,

“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,

“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”

Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,
“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)

Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.
Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”

Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”

Mereka pun mendudukkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka.

Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.

Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.

Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:

Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.

Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.

Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah.


===================
Dari Grup Pengurua LMI

Gagal Bunuh Diri, Masuk Islam

KISAH INSPIRATIF PAGI 💞

Setiap selesai sholat jum'at tiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yg berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku–buku islam, diantaranya buku at-thoriq ilal jannah (jalan menuju surga). Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran Kota Amsterdam.
***

Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin.

Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin. Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, aku telah siap" ayahnya menjawab : "Siap untuk apa?" , ia berkata: "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)", sang ayahpun berucap: "Suhu sangat dingin diluar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur", sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan : "akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju neraka diluar sana dibawah guyuran hujan".
Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata: "Namun ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini", akhirnya anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya memberikan izin. Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata: "terimakasih wahai ayahku".
***

Dibawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membawa buku-buku itu yang telah dibungkusnya oleh skantong plastik ukuran sedang agar tdk basah terkena air hujan, lalu ia membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.
***

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Namun sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah disebrang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.

Sesampainya di depan rumah, ia pun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. Sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut.

Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih. Nenek berkata: "ada yang bisa saya bantu nak?" Si anak berkata (dg mata yg berkilau dan senyuman yang menerangi dunia): "Saya minta maaf jika mengganggu, akan tetapi saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan nyonya. Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada nyonya, di dalam nya dijelaskan tentang Allah Ta'ala, kewajiban seorang hamba, dan beberapa cara agar dapat memperoleh keridhoannya."
***

Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah ia mempersilahkan jama'ah untuk berkonsultasi. Terdengar sayup – sayup dr shaf perempuan seorang perempuan tua berkata:"Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini".

Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu.
"Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sdh kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir :"paling sebentar lagi juga pergi".
Namun suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati: "siapa gerangan yang sudi mengunjungiku,… tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku".

Kulepaskan tali yang sdh siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian.
Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali. Ia berkata: "Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah Ta'ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya", lalu dia memberikan buku ini (buku jalan menuju surga) kepadaku.

Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari itu juga secara tiba2. Setelah menutup pintu aku langsung membaca buku dari malaikat kecilku itu sampai selesai. Seketika kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.
Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia karena aku telah mengenal Tuhanku yang sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterimakasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat. Hingga aku terbebas dari kekalnya api neraka."
***

Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung, masjid bergemuruh dengan isak tangis dan pekikan takbir… Allahu akbar…
***

Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah tak terbendung dihadapan para jamaah.
Sungguh mengharukan, mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.
***
Judul asli : قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة
Penerjemah : Shiddiq Al-Bonjowiy

____________________
Note: Mari terus sebarkan kebaikan. Kita tidak pernah tahu berapa banyak orang yg mendapatkan hidayah dengan sedikit langkah yg kita lakukan...
Niatkan hari ini ada kebaikan yang kita sebar... setidaknya "sedekah sendi" yang harus kita tunaikan...
#kisah ini sudah tersebar sebelumnya, namun barangkali ada yang belum tahu ataupun ingin mengingat kembali..

====================
Dari grup Pengurus LMI. Posting oleh Juli Susanti

Suamiku Malaikatku

SUAMIKU MALAIKATKU;

KISAH KESETIAAN SEORANG SUAMI KEPADA ISTERINYA

Nama lengkapnya Eko Pratomo Suyatno, tapi lebih sering disebut Suyatno saja. Usianya mungkin sudah menginjak 60 tahun. Dia merupakan pemilik sebuah perusahaan besar di bidang investasi reksadana yang cukup bagus reputasinya di negeri ini.

Sebagai seorang pengusaha sukses, dia dan keluarganya mempunyai kehidupan yang cukup baik. Perkawinannya dengan isteri tercinta lebih dari 30 tahun yang lalu juga sangat bahagia, dan telah mendapatkan 4 orang anak yang kini telah tumbuh dewasa semua.

Kehidupan rumah tangganya mendapatkan cobaan berat sesaat setelah isterinya melahirkan anak ke empatnya. Setelah melahirkan, tiba-tiba ke dua kakinya lumpuh tidak bisa digerakkan. Kondisi itu berlangsung hingga 2 tahun. Kondisinya kemudian bukannya membaik, pada tahun berikutnya justeru kelumpuhan itu terjadi pada seluruh tubuhnya. Lidahnya tidak bisa digerakkan, otomatis juga tidak bisa berbicara. Satu-satunya cara berkomunikasi dengan orang lain hanya dengan menggunakan bahasa isyarat mata.

Menghadapi kondisi isterinya yang seperti itu, Pak Suyatno tetap tabah dan dengan sabar merawat dan mengurusi segala keperluan isterinya. Dia ingin menunjukkan cinta yang sesungguhnya kepada isterinya yang sekarang lumpuh itu dengan cara mengurus langsung semua kebutuhan isterinya, walaupun sebenarnya dia bisa membayar seseorang untuk melakukan semua itu.

Namun kebesaran cinta pada isterinya membuat dia tetap kuat dan setia melayani isterinya. Sedangkan pembantu-pembantu yang ada ditugaskan untuk mengurus kebutuhan rumah tangga. Pak Suyatno juga otomatis berperan sebagai ibu bagi ke empat anaknya.Sebelum berangkat ke tempat usahanya setiap hari, Pak Suyatno selalu menyempatkan diri memandikan, membersihkan kotoran, menggantikan pakaian dan menyuapi isteri tercintanya.

Agar sang isteri tidak kesepian saat ditinggal, dia dekatkan sang isteri pada sebuah televise di ruangannya. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian.

Meski istrinya hanya bisa memandang tanpa bisa menanggapi, Pak Suyatno dengan setia mengajak istrinya duduk di belakang dia saat Pak Suyatno shalat, seperti sedang berjamaah. Ia-pun sering mengajak istrinya mengaji atau mendengarkan Pak Suyatno mengaji dan juga mengajak sang istri berzikir, meski hanya dalam hati.

Semuanya itu dijalani Pak Suyatno dengan ikhlas dan ia sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap hari, agar istrinya tersenyum.

Rutinitas ini sudah dilakukan pak Suyatno selama 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak Suyatno memutuskan untuk merawat sendiri ibu mereka. Yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya, “Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini? Terus terangi kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian kalau bapak menikah lagi”.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anak mereka, “Anak-anakku ………, terima kasih atas saran kalian. Hanya saja bapak punya prinsip yang tidak dapat ditawar lagi. Bagi bapak, jikalau perkawinan dan kehidupan di dunia ini hanya untuk memenuhi nafsu kita, terutama nafsu birahi mungkin bapak akan menikah lagi sudah sedari dulu……Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disamping bapak, bagi bapak itu sudah lebih dari cukup.

Dia telah melahirkan kalian.. “ Sejenak kerongkongannya tersekat,” Anakku, kalian yang selalu bapak dan ibu rindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menggantinyai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?.

Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang?

Kalianmenginginkan bapak yang masih diberi Allah swt kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yang masih sakit? Jujur saja nak, bapak tidak sampai hati, meninggalkan ibumu” kali ini ada tetesan air mata di sudut mata Pak Suyatno. Seketika meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno, kemudian merekapun melihat juga butiran-butiran bening jatuh dipelupuk mata ibunya, yang dengan pilu ditatapnya mata sang suami yang sangat setia dan sangat dicintainya itu..

Akibat kesetiannya selama puluhan tahun tersebut, sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh Metro TV untuk menjadi nara sumber pada acara Kick Andy. Di acara itu mereka mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno, bagaimana beliau mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa itu? Mengingat waktu tersebut bukan waktu yang pendek untuk menguji batas kesabaran dan ketabahan manusia biasa.

Pada saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio. Kalau boleh menebak, tangis Pak Suyatno bukanlah karena beban dia yang berat selama bertahun-tahun itu, melainkan karena membayangkan penderitaan isteri tercintanya yang tak kunjung berakhir setelah lebih dari seperempat abad berlalu.

Kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru, lalu disitulah Pak Suyatno bercerita.“Bagi saya, jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau berkorban dengan memberi ( memberi waktu, memberi tenaga, pikiran dan perhatian ) adalah hanya kesia-siaan belaka.

Sejak dulu saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dengan tekad kita akan bersama dalam suka maupun duka, hingga Allah swt memanggil kita. Saya tidak akan dapat melupakan jasa-jasa besar istri saya sewaktu dia sehat, diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya. Ia juga telah memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu, saleh dan pinter.

Di mata saya, ia sehat dan masih cantik seperti 30 tahun yang lalu. Saya tidak pernah menganggapnya lumpuh. Saat saya menyuapinya, saya rasakan sama seperti saat saya menyuapinya kala kita berbulan madu. Saat saya menggendongnya untuk naik dan turun dari tempat tidur, saya merasakan seperti saat kita masih berbulan madu. Setiap kali saya melihat wajahnya, sama seperti kala saya melihatnya di kala kami pacaran atau seperti saat saya memandangnya waktu kami berbulan madu".

Pak Suyatno kemudian melanjutkan,"Sekarang dia dalam kondisi sakit setelah melahirkan anak kami. Ia telah berkorban untuk cinta kami bersama. Bagi saya kondisi itu merupakan ujian dari Allah bagi saya atas cinta kami berdua. Apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya.

Dalam kondisi ia sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sedang dalam keadaan sakit. Tidak, tidak, bahkan berpikir untuk itupun saya tidak mau. Biarlah saya ikhlas menjalani takdir Allah ini, saya yakin "Gusti Allah ora sare", Tuhan tidak pernah tidur.

Sekecil apapun yang saya berikan kepada istri saya dan anak-anak, saya niatkan hanya untuk ibadah saya kepada Allah swt. Dan saya yakin Allah pasti akan memperhitungkan apapun yang kita perbuat, sekecil apapun. Saya berusaha mengikuti Rasulullah, tauladan saya yang mencintai dan melayani istrinya, bukan hanya dilayani.

Sekarang ini harapan saya hanya satu, ijinkan saya merawat istri saya yang sangat saya cintai hingga Allah memanggil salah satu diantara kita. Kalapun ia dipanggil lebih dulu, saya bertekad untuk tetap mencintainya dan tidak akan menikah lagi. Istri saya adalah cinta dunia dan akhirat saya. Kalau Allah mengizinkan kami masuk surga, Insya Allah, saya menginginkan ia jadi Bidadari saya di Surga”Kali ini Pak Suyatno sama sekali tidak menangis, justru penontonlah yang menangis.

====================
Dari Grup pengurus LMI. Posting oleh Juli Susanti

Musholla Kumuh Jorok di Bawah Lorong

Di era tahun 1930-an, dikisahkan ada seorang mahasiswa baru di fakultas pertanian di sebuah perguruan tinggi di Mesir. Ketika waktu sholat tiba, diceritakanjn bahwa mahasiswa itu mencari-cari tempat sholat. Setelah mencari-cari dengan susah payah, akhirnya ia tak mendapatkan apa yang ia cari. Akhirnya ia bertanya kepada mahasiswa-mahasiswa kampus.

“Di fakultas ini tidak ada mushola, yang ada hanya ruangan kecil dibawah lorong  sana,” jawab salah satu mahasiswa.

Si mahasiswa pun akhirnya berangkat menuju lokasi yang dimaksud di bawah lorong tersebut. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah tidak percaya atas apa yang ia lihat. Sebuah kamar kecil, kumuh, jorok dan tidak terawat, itulah yang ia dapatkan.

“Mereka yang ada di kampus ini, sholat apa tidak ya….,” Tanya mahasiswa ini dalam hatinya dengan terheran-heran. Karena melihat tempat sholat didepannya, tidak layak untuk disebut sebagai mushola.

Iapun tidak pedulikan dengan pertanyaan-pertanyaan hatinya tersebut. Tanpa panjang kata, ia segera masuk ke ruangan kecil lagi kumuh tersebut. Ia dapatkan tikar lama dan kotor. Ia juga melihat ada satu orang yang sedang sholat.

Setelah selesai sholat, bertanyalah mahasiswa ini kepada orang yang sholat tadi, yang ternyata karyawan di kampus. “Maaf pak, apa bapak sholat disini?” “Iya, emang kenapa?” jawab karyawan penuh yakin.

 “Orang-orang yang diatas itu, tidak ada yang sholat dan tempat ini satu-satunya mushola yang ada di kampus,” tambah karyawan memberikan informasi kepada mahasiswa baru tersebut.

Dengan penuh yakin dan semangat yang tinggi, si mahasiswa berkata kepada karyawan, “Kalau saya, saya tidak akan sholat dibawah lorong ini.”

Bergegaslah ia keluar ke atas dan mencari-cari lapangan yang layak yang ada di kampus. Setelah menemukan tempat yang layak, ia melakukan hal-hal yang aneh, menurut mahasiswa-mahasiswa fakultas.

Ia mengumandangkan adzan dengan suara yang sanga t keras dan kencang.
Melihat apa yang dilakukan oleh yuniornya, para mahasiswa itu terkejut dengan kejadian yang mereka lihat.

 Sambil mengejek dan mengolok-olok mahasiswa baru, para senior dari mahasiwa baru ini menuding-nudingnya dan mengatakan, “Huuuuuu, kampungan, kuno ….”

Bahkan yang lebih menyakitkan hati adalah kata-kata mereka, “Gila kamu ya….!”

Namun mahasiwa baru tetap bertahan dan tak bergeming. Ia duduk sejenak kemudian bangkit dan mengumandangkan iqomat, “Allahu Akbar Allahu Akbar ……” dan tak satupun yang ikut sholat bersamanya.

 Sehari dua hari….. mahasiswa ini selalu diledek dan dicibiri oleh teman-teman mahasiswa lainnya.

Akhirnya, ledekan dan cibiran para mahasiswa itu menjadi pemandangan setiap hari. Tak ada hari selain menertawakan dan mengejek-ejek mahasiswa baru itu.

 Setelah beberapa hari, ada kejadian aneh. Karyawan yang biasa sholat di tempat yang kumuh dan jorok dibawah lorong itu, akhirnya ikut sholat berjamaah dengan mahasiswa.

Hari berikutnya, jamaah sholat bertambah menjadi empat termasuk sang mahasiswa. Tepat satu pekan, salah satu dosen kampus akhirnya ikut sholat berjamaah.

Berita tentang sholat berjamaah di tempat terbuka itu, kini tersebar di fakultas dan menjadi buah bibir para mahasiswa.

Dekan fakultas pun akhirnya memanggil mahasiswa tersebut. “Wahai anakku, apa yang terjadi itu seharusnya tidak boleh terjadi. Pemandangan yang tidak wajar, sholat di lapangan terbuka.”

 Tapi melihat kegigihan dari mahasiwa baru ini, pihak dekan memberikan aspirasinya dengan membangunkan sebuah mushola baru.

“Yang bersih dan layak untuk sholat berjamaah bagi siapa yang mau sholat di dalamnya,” kata dekan penuh ekspresi.  

Dan akhirnya…. Sebuah masjid pertama telah dibangun di fakultas perguruan tinggi di Mesir

Melihat kejadian itu, ternyata mahasiswa-mahasiswa lain dari fakultas-fakultas yang lain, ikut cemburu.

“Kenapa kok fakultas pertanian saja, fakultas kita tidak dibangun masjid….” Teriak mereka memprotes rektorat.

 Hingga hari ini, baik masih hidup atau sudah wafat, amal mahasiswa ini akan terus dikenang. Akibat kejadian di fakultas pertanian itu, semua kampus di Mesir dibangunkan masjid yang mengumandangkan kebesaran Allah ta’ala.

Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Lalu, tahukah Anda siapa gerangan mahasiswa itu…..?
Imam Hasan Al Banna.

=====================
Diambil dari Grup Pengurus LMI. Posting oleh Handri

Meski Kau Salahkan, Allah Tetap Menolongmu



Syahdan seorang pria berhasil selamat dalam sebuah kecelakaan kapal di tengah samudera yang luas. Dengan sebuah bongkahan kayu pecahan kapal dia berhasil menepi ke sebuah pulau kecil terasing yang tidak dihuni oleh satu orangpun.

Dalam keputusasaannya ia berdoa dengan sangat dan memohon kepada Allah untuk dapat menyelamatkannya dari pulau tersebut. Setiap hari dia memandangi cakrawala berharap ada sebuah kapal yang datang dan menyelamatkannya.

Lelah dan putus harapan, akhirnya ia mencoba untuk hidup dan mempertahankan diri dengan membuat gubuk dan pondok kecil untuk berlindung dan mulai mencoba bertahan hidup. Setelah beberapa lama ia mulai terbiasa hidup sendiri di pulau tersebut.

Suatu hari ia mencoba berburu di hutan di belakang pantai mencoba mencari hewan buruan yang sekiranya dapat dimakan. Setelah lelah seharian berburu, ia kembali ke pondok yang telah dihuninya selama beberapa waktu. Tapi alangkah terkejutnya ketia ia mendapati gubuknya telah rata dengan tanah, terbakar habis. yang tersisa hanyalah api dan asap pekat yang membubung tinggi. Apa yang telah diusahakannya selama terdampar dan tinggal di pulau tersebut habis tak bersisa. Alam hatinya ia mulai marah dan putus asa.

"Ya Allah, mengapa Engkau timpakan ini semua padaku!" jeritnya sambil menyalahkan Allah atas musibah tersebut. Dan malam itu ia lewatkan dengan tidur di alam terbuka dekat gubuk yang terbakar tersebut.

Hari berikutnya ia terbangun dari tidurnya oleh suara kapal yang perlahan mendekat ke pulau tersebut. Perahu tersebut menurunkan sebuah sekoci yang segera merapat ke pulau terpencil tersebut. Tampaknya perahu tersebut tahu bahwa ada orang di pulau tersebut.

"Bagaimana kau tahu di sini ada orang yang perlu pertolongan?" tanyanya pada penumpang sekoci tersebut.

"Kami melihat tanda asap yang engkau nyalakan", jawabnya.

Hikmah :
" Sangat mudah kita berputus harapan dan menyalahkan Allah atas semua hal buruk yang menimpa kita. Padahal sesungguhnya Allah bekerja dan memberi jalan terbaik, meskipun tampak menyakitkan dan menyedihkan. Ingatlah, suatu ketika engkau tertimpa hal buruk, mungkin menjadi tanda bahwa Allah sekali lagi akan menunjukkan kasih dan sayangnya ".

Selamat bekerja ......................!!!!!!!!!!!!!
Tetap semangat .......................!!!!!!!!!!!!!

=====================
Dari grup Pengurus LMI posting oleh Juli Susanti

Aku dan Mertuaku

Sabar dan selalu instropeksi akan lebih baik

Aku dan Mertua Ku

SEORANG lelaki yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya. Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibu mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, dan angkuh sekali. 

Setelah dua tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibu mertuanya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya. 

Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si mertua supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada mertuanya. 

Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni mertuanya, kelakuan mertua ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu. Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal. Mendekati hari ke-40 sikap mertua semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku mertua yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.

Puncaknya pada hari ke-50 mertua memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si mertua. Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada hari ke-55, sudah tak terbendunglagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu mertua yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya. 

Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata “Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap mertuamu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena SIKAP DIRIMU YANG TERLEBIH DAHULU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU SENYUM PADANYA.” 

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Pertama, sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah sebagai akibat/reaksi atas sikap buruk kita padanya. Kedua, kalau mau mengubah orang lain, kitalah yang berubah dahulu. Ketiga, tidak semua ‘dukun’ salah. Kita juga harus jadi ‘dukun’ kalau sukses belajar yakni ‘duduk dengan tekun’. Keempat: Selamat mencoba! 

sumber : Islampos

================
Dari Grup Pengurus LMI madiun, posting oleh Puji Rianto

Percik-Percik Taubat




Adalah *Syaikh Mahmud al-Misri* yang menuturkan dalam ""Sa'atan Sa'atan""...


Seorang lelaki dari Riyadh, yang telah beristri dan memiliki seorang putri kecil, beberapa tahun terakhir terjerembab dalam kemaksiatan. Ia sering begadang hingga pagi di tempat-tempat hiburan. Ia tak lagi ke masjid, tidak pernah pula bersujud pada Allah. Nasihat dari sang istri diabaikannya.

Suatu hari, ketika jam dinding menunjuk angka tiga dini hari, ia pulang. Didapatinya sang istri dan putri kecilnya telah tertidur lelap. Lelaki itu menuju kamar sebelah dan menghabiskan sisa malam dengan menonton film porno. Ditutupnya pintu rapat-rapat. Jam tiga dini hari, waktu yang Allah janjikan akan diperkenankan segala pinta dan ampunan, oleh lelaki itu diisinya dengan kemaksiatan.

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Putri kecilnya, yang belum genap lima tahun itu masuk. Ia pandangi wajah sang ayah. "Ayah," katanya pelan, tapi penuh harap, "jangan lakukan itu. Bertakwalah kepada Allah." Diulanginya kalimat sederhana itu tiga kali. "Ayah, jangan lakukan itu. Bertakwalah kepada Allah." Lelaki itu linglung. Kata-kata sang putri terus berulang dalam ingatannya. Bergegas ia susul sang putri, tapi ia dapati sang anak telah kembali tertidur.

Tak selang beberapa lama, adzan Subuh berkumandang. Entah apa yang menggerakkan, kaki lelaki itu melangkah ke tempat wudlu, lalu bergegas menuju masjid. Setelah shalat ia menangis. Itulah tangis pertama setelah tujuh tahun ia meninggalkan shalat. "Ayah, jangan lakukan itu. Bertakwalah kepada Allah." Kata-kata putri kecilnya kembali berulang. Ia kembali menangis.

Ia kembali pulang ke rumah, berkemas, lalu berangkat kerja. Ia sampai di kantor lebih awal dari teman-temannya. Semua orang heran dan bertanya-tanya, sebab biasanya, ia datang terlambat. Lelaki itu pun berkisah tentang kejadian semalam. "Alhamdulillah," kata teman-temannya, "Allah menundukanmu dengan putri kecilmu, bukan mengutus malaikat maut untukmu."

Ketika dhuhur tiba, lelaki itu menghabiskan waktu di masjid kantor. Lama sekali ia berdiam diri di sana. Setelah itu ia minta izin pada teman-temannya untuk pulang lebih awal. Ia rindu sekali pada istri dan putri kecilnya. Sesampai di rumah, sang istri telah berdiri di depan pintu. Matanya sembab, "Kamu dari mana saja?" tanya sang istri setengah berteriak. "Aku dari kantor saja," jawabnya.

"Kami terus menghubungimu, tapi tak pernah tersambung. Kamu dari mana saja?"

"Aku di masjid kantor," jawabnya penuh keheranan, "apa yang telah terjadi, istriku? Ada apa?"

Istrinya terdiam. Tangisnya membuncah. "Allah telah memanggil putri kita," jawab sang istri dengan terbata. Lelaki itu tak bisa menguasai dirinya. Ia menangis keras. Di depan jenazah putri kecilnya, ia tak bisa mengingat apa-apa, kecuali kata-kata sang putri semalam. "Ayah, jangan lakukan itu. Bertakwalah kepada Allah. Ayah, jangan lakukan itu. Bertakwalah kepada Allah."

Ketika jenazah kecil itu hendak dimakamkan, sang ayah turun ke liang. Direngkuhnya jasad putri kecilnya. "Hari ini," katanya, "aku tidak sedang mengubur putriku. Aku hanya mengubur cahaya yang telah menunjukkan jalan menuju Allah. Inilah putriku, inilah putriku, inilah putriku yang telah menjadi perantara hidayah Allah bagiku." Ia terdiam sesaat. Diletakkanlah putri kecilnya.

"Ya Allah, pertemukan kelak kami di surga. Pertemukan kelak kami di surga..."

***

Dari kisah di atas kita belajar satu hal; beruntunglah seseorang yang dosanya telah mengantarkan kepada Allah dengan jalan pertaubatan. Kerugian terberat bukanlah karena berkurangnya rezki; tapi beratnya seseorang dari beristighfar.

Beruntung pulalah bagi seseorang yang Allah masih menyayanginya dengan menutup banyak aibnya, lalu membuka pintu hidayah selebar-lebarnya bagi dirinya. Dengan jalan itu pulalah pintu surga dibentangkan untuknya. Semoga Allah memudahkan kita bertaubat.

Daarusalam,
Pojok Arafah 9

==========================
Dikirim via WA oleh : Handri Staf LMI

6 Langkah Raih Keberkahan Hidup

Banyak kita lihat orang yang mengeluh dalam kehidupan, sekalipun secara zahir kita saksikan mereka semakin membaik dalam taraf kehidupan dan perekonomian.

Punya kekayaan tapi tidak merasa cukup, jauh dari kebahagiaan.

Punya istri, tapi tidak rukun.

Punya anak, tapi selalu mendatangkan masalah.

Perasaan sibuk sekali bekerja, tapi tidak kelihatan hasil atau minim pendapatan.

Punya ilmu, tapi tidak kelihatan amal atau bingung harus berbuat apa.

Luas pergaulan, tapi sering cek-cok dengan orang lain.

Badan sehat, tapi selalu gelisah tidak menentu.

Ada pekerjaan, tapi tidak menjadikan perasaan tenang menghadapinya.

Itu semua menunjukkan tidak adanya keberkahan dalam hidup.

Padahal keberkahan itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Dia bisa merubah yang sedikit jadi banyak, yang sempit menjadi luas, yang kurang menjadi cukup, yang susah menjadi mudah, yang pahit menjadi lezat.



Untuk mendapatkan keberkahan itu bisa dengan enam hal berikut:

1. Redha terhadap apa yang dikaruniakan Allah.

2. Shalat subuh berjama'ah

3. Hidupkan sunnah Rasulullah dalam rumah tangga, terutama dalam tiga hal: makan bersama, ucapkan salam sebelum masuk rumah dan perbanyak tilawah al Qur'an.

4. Sederhana dalam belanja rumah tangga, jauhi berlebih-lebihan dan mubazir.

5. Hubungkan silaturrahim dan berbuat baik kepada kedua orang tua.

6. Sedekahkan sebagian rezki yang diberikan Allah.

(Ringkasan khutbah Jum'at di mesjid As Salam Hay 'Asyir Nasr City Cairo, oleh Syekh Muhammad Makky, 10 Oktober 2014)

Sumber: fb Zulfi Akmal


Allahumma A-'innii'alaa dzik-rika wa suk-rika wa husni 'ibaa-datika...

amin


=====================
Dikirim via WA oleh : Handri Staf LMI

Merenungkan Arafah

Renungan Kecil di Hari Arafah

Haji adalah Arafah...
Arafah adalah Hari Perenungan...
Sebuah perenungan tentang Sang Khalik...
Sebuah perenungan tentang untuk apa kita diciptakan...

Arafah adalah sebuah potret kecil tentang Mahsyar...
Mahsyar adalah sebuah hari dimana manusia akan ditimbang kadar Al-Haq dalam dirinya...
Mahsyar adalah sebuah hari yang sangat terik yang tidak ada penghalang atasnya...
Mahsyar adalah sebuah hari yang mencekam dimana manusia ditimpa resah dan gelisah...
Kegelisahan yang teramat sangat karena Mahsyar adalah hari penantian tentang nasib manusia apakah ia akan masuk surga atau neraka...

Mahsyar adalah sebuah hari penyesalan...
Sebuah penyesalan karena manusia telah lalai menunaikan dharma untuk apa ia dicipta...
Sebuah penyesalan karena manusia lalai untuk beramal shaleh semasa hidup di alam dunia...
Sedemikian dahsyatnya Mahsyar, sehingga manusia kelak akan mencari perlindungan walau hanya pada sebutir kurma yang pernah ia sedekahkan...

Maka, beruntunglah mereka yang Allah beri naungan dari dahsyatnya alam Mahsyar...

Mereka adalah pemimpin yang adil...
Para pemuda yang hatinya tertambat kepada masjid...
Manusia yang bersahabat karena Allah... Manusia yang bersedekah dengan tangan kanannya tanpa harus diketahui oleh tangan kirinya...
Manusia yang menolak perbuatan keji karena takut akan Tuhannya...
Manusia yang tekun ibadahnya seraya berlinang air mata ketika ia berdzikir semata karena takut akan Tuhannya...

Selamat Hari Arafah sahabat-sahabatku...
Semoga Allah mengampuni kehinaan dan kebodohan kita...
Semoga Allah selalu menjadikan kita orang yang rendah hati di setiap langkah kaki di bumi ini...
Semoga Allah meneguhkan iman dan Islam kita...
Mengganti tangisan kita dengan senyuman...
Luka derita dengan kebahagiaan... Kesempitan rezeki dengan kelapangan... Kesesatan dengan petunjuk...
Penyakit dengan kesembuhan...
Kesulitan dengan kemudahan...
Dan keputusasaan dengan harapan..

Ya Allah tidak ada henti air mata ini mengalir memohon

===================
Yg kirim tulisan : Handri Staf LMI

Coretan Terakhir

Renungan Indah – W.S. Rendra (yang terakhir)

Seringkali aku berkata..
Ketika semua orang memuji milik-ku....
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi... mengapa aku tak pernah bertanya :
Mengapa Dia menitipkannya padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah...
Kusebut itu sebagai ujian...
Kusebut itu sebagai petaka...
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika.

Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih,
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.

Ya Allah.....
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah. “Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….

(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas tempat tidur RS)

Yang kirim ke WA : Handri Staf LMI Madiun

Bau Wangi Korban Tsunami

Copy dari grup WA

Bau yang istimewa itu ternyata dari salah seorang korban tsunami.

Tapi mayat ini amat istimewa,selain mengeluarkan bau yang wangi,jasadnya tidak rusak sedikitpun.Bahkan wajahnya dihiasi dengan senyuman kebahagiaan.Karena istimewanya mayat ini,para relawan memutuskan untuk tidak menguburkan jenazahnya di kuburan massal seperti mayat-mayat yang lain.Mereka berusaha mencari identitas korban dengan mengumumkan penemuan jenazah tersebut kepada masyarakat.

Ternyata ada anggota keluarga yang mengenali jenazah tersebut dan membawa pulang jenazahnya untuk dikuburkan secara layak. Sebelum anggota keluarga membawa pulang jenazah tersebut,relawan-relawan yang penasaran bertanya,apa yang telah dilakukan oleh jenazah tersebut selama hidup didunia”?.

Anggota keluarganya menjelaskan,bahwa jenazah tersebut adalah seorang hafidzah yang istiqomah menjaga hafalannya. Memuraja’ah hafalannya setiap hari.

Belajar dari beberapa cerita diatas,hendaknya kita juga memiliki amalan istimewa yang konsisiten kita lakukan setiap harinya.Kemuliaan mereka terlihat dari konsistennya mereka menjaga amalnya.Meskipun terkesan sederhana,tapi tidak banyak orang yang konsisten dan mampu melaksanakannya.Merekakalah orang-orang pilihan yang memiliki keunikan dan keunggulan dibandingkan yang lain.

Sesungguhnya surga itu memiliki banyak pintu,dan setiap orang akan memasuki pintu-pintu tersebut sesuai amal terbaiknya atau amal unggulannya selama hidup.Meskipun kita juga memiliki kesempatan memasuki surga melalui semua pintu seperti Abu Bakar As Shiddiq,tapi yang paling penting adalah kita harus mempersiapkan amal terbaik kita dihadapan Allah SWT,untuk selanjutnya kita serahkan kepada Allah untuk menilainya sembari kita memohon keapada Allah agar memasukkan kita kebarisan orang-orang yang mendapatkan kemulian JannahNya.

🌎Dalam 24 jam waktu kita,begitu banyak ibadah yang bisa menjadi amalan unggulan kita.

Kamis, 09 Oktober 2014

Menjemput Rezeki dan Memancing Ikan



Filosofi Mancing


Suatu hari, tiba-tiba saja saya terjebak dalam sebuah tontonan televisi. Sebuah acara yang menurutku hanya membuang-buang waktu saja bila ditonton. Memancing. Ya, sepintas bukanlah sebuah acara yang memiliki nilai edukasi. Tapi entah kenapa, saya membiarkannya tayang dan kutonton begitu saja.

Saya bukanlah orang yang suka dengan kegiatan memancing. Seperti pekerjaan yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang malas saja. Bayangkan saja, seseorang harus diam sambil memegang sebuah alat pancing, kemudian menunggu ikan-ikan di sanau/laut untuk datang dan menghampiri. Jikamembandingkan dengan luas danau/laut dengan umpan, maka kemungkinan untuk mendaptkan seekor ikan itu sangat kecil.

Sementara, jika kita menginginkan ikan-ikan tersebut untuk disantap, kenapa tidak menggunakan jaring saja? Tentunya akan mendapatkan banyak ikan dan tak perlu menunggu lama.

Akan tetapi, semua ini hanya buah pikir dari sudut pandang saya seorang yang tentu tak memiliki hobi memancing. Tentunya, akan menjadi beda jika orang yang memiliki hobi memancinglah yang berbicara. Tak perlu saya jelaskan panjang lebar. Karena yang akan saya bahas adalah sebuah filosofi memancing sendiri yang tanpa sengaja saya temukan ketika usai menonton acara tersebut.

Tanpa kita sadari, memancing telah menjadi peta kecil dalam hidup kita dalam menjemput rezeki. Tiga hal yang bisa menentukan keberhasilan seseorang memancing adalah, umpan, alat dan kesabaran.


Umpan

Umpan yang bagus, tentunya akan membuat ikan tertarik dan ingin memakannya. Semakin bagus kualitasnya, tentu semakin mahal umpan tersebut. Artinya, jika ingin mendapatkan ikan tersebut harus berani mengeluarkan kocek lebih banyak lagi.

Begitupun dalam menjemput rezeki. Sedekah adalah sebuah pintu rezeki yang sangat ampuh. Sesuai janji Allah, bahwa sedekah kita akan diganti dengan 3 bahkan 10 kali lipat. Sedekah adalah umpan untuk menjemput rezeki-rezeki lainnya yang lebih banyak lagi. Berani bersedakah, maka sesungguhnya kita sedang menjemput rezeki.


Alat Pancing

Untuk lebih berhasil lagi dalam memancing, maka alat yang digunakan pun haruslah berkualitas baik. Jika hanya sebuah alat pancing biasa, maka tak akan mampu mengangkat ikan yang besar. Karenanya, lagi-lagi kita harus berkorban untuk mempunyai sebuah alat pancing yang berkualitas baik tentunya dengan harga yang tak bisa.

Demikan pula dalam bersedekah. Semakin baik/banyak sedekah kita, maka akan semakin baik/banyak pula balasan yang akan kita perolah. Untuk tahap ini, bukan lagi sedekah biasa tetapi mengorbankan sesuatu yang jauh lebih berharga.


Sabar

Inilah kunci keberhasilan dalam memancing. Untuk mendapatkan seekor ikan, diperlukan kesabaran yang tinggi sekalipun kita sudah menggunakan umpan dan alat terbaik. Bahkan, kita harus berlapang dada jika pada akhirnya kita tidak mendapat seekor ikanpun.

Terkadang, rezeki tidak bisa se-idealis yang kita harapkan. Sekalipun sudah berikhtiar dengan sangat baik, ada hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Qadha dan Qadar.

Dialah ar-Razaq dan al-Ghani, yang Maha Pemberi Rezeki dan Maha Kaya. Jika kita sadar bahwa hanya Allah satu-satunya pemberi rezeki tentu tidak ada rasa kecewa jika usaha yang sudah kita tempuh belum juga menuai hasil. Dan jangan khawatir, karena usaha kita tidak pernah sia-sia. Allah Yang Maha Melihat akan membalasnya walau tidak saat itu juga. Dan bersabarlah!

Sesungguhnya, setiap kita sedang memancing. Entah itu memancing rezeki, atau surga dengan ibadah dan amal kita. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk renungan di malam idul adha yang mulia ini.

Dari Whatsapp teman.

Tebar Qurban LMI 2014




Tebar Kebahagiaan Daging Qurban ke Pelosok Desa. Dengan program kelana qurban LMI mengajak masyarakat peduli dan berbagi kepada sesama di hari Raya nan bahagia. Puluhan bahkan ratusan orang2 tulus bergerak bersama dalam menyukseskan program Kelana Qurban LMI.

Orang2 luarbiasa yg menjadi aktornya seperti pak Wagiyo salah satu relawan LMI di desa Mbaosan Kidul kec. Ngrayun Ponorogo menjadi panitia qurban. Beliau memastikan ketersediaan qurban dan terdistribusinya dg tepat menjadi tanggungjawabnya. Ini beliau jalani untuk berdakwah.

Mbaosan Kidul bukanlah daerah yg mudah diakses kendaraan layaknya jalanan metropolitan. Demikian jg utk sampai di desa Sambi kec. Ngrayun tim kelana qurban hrs melewati jalan bebatuan yg sempit hingga menerobos hutan. Di dua desa ini tim lmi menggelar acara Peduli Gizi Anak Negeri. Tiga ekor kambing kita sembelih dan dijadikan gule dan sate, lalu kita distribusikan di SDN Mbaosan Kidul 2 dan SDN Ngrayun 1 dalam acara makan bersama.

Di tempat ini juga tim lmi membagikan bingkisan titipan donatur. Pemerataan daging qurban juga kami berikan utk masyarakat desa gajah kec. Sambit Ponorogo, mereka tinggal di lereng gunung gajah. Seremonial penyembelihan qurban kami lakukan di puncak gunung gajah.

Rasa terimakasih tak terhingga tentu terucapkan kepada Alloh dan seluruh pequrban, mitra, relawan serta semua pihak yg telah membantu suksesnya gelaran kelana qurban LMI tahun ini. Sekitar 145 kambing dan 13 sapi terdistribusikan hingga pelosok desa di ponorogo, ngawi, magetan, madiun, trenggalek, blitar, tulungagung, sumenep, tuban, bojonegoro.

Rabu, 08 Oktober 2014

Peluang Usaha Luar Biasa



PELUANG USAHA LUAR BIASA (pelajar-mhs bisa bangetttttttttttt) lulus jadi milyarder

Bagi temen2 yg mau buka perwakilan Arminareka bisa daftar lewat saya.

Setiap ada yg Daftar lewat Anda, Anda akan diberikan komisi 1,5juta

Rekrutmen calon jamaah akan kami fasilitasi. Akan kami fasilitasi....

Utk buka kantor perwakilan, Anda hanya butuh dana 19,5 juta.
Kalau Anda buka toko kelontong tidak akan cukup dengan dana segitu.

Tapi dengan 19.5 juta, Anda sudah punya Kantor perwakilan Biro Perjalanan Umroh dan Haji Plus. Terbesar di indonesia, tak pernah ada masalah, jamaah dicover asuransi sejak bayar DP sampai pulang umroh, sampai usia 65 th. Stlh itu bisa diperpanjang dg membayar 100rb/th.

Dana 19.5 ini adalah dana memborong 13 pendaftaran jamaah.
Jika mendaftar pribadi 13 calon jamaah butuh dana 45.5 (13X3,5jt)
Tapi dengan mendaftar sebagai perwakilan, Anda mendapat diskon. Cukup membayar 19.5 jt.

Nanti kalau ada yang mendaftar melalui Anda 13 orang.... Anda tetap menerima @3,5juta. Total Anda akan menerima 45.5 jt. Keuntungan 26jt....

Jadi uang 19.5 juta yg Anda bayarkan bukan membeli lisensi. Tapi memborong pendaftaran 13 jamaah.

Jika Anda menginginkan keuntungan lebih besar, Tersedia paket Perwakilan 22 jamaah dan 40 jamaah

Paket 22 jamaah (29,85jt, beli eceran 77jt, dijual untung 47.15jt)

paket 40 (44,25jt, beli eceran 140 jt, dijual untung 95.75jt)

Yg berminat, boleh hubungi sy....


Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com