Semoga yang belum menikah segera dipertemukan jodohnya.
Berikan istri yg shalihah, cuantiiiiik, hafidzah, istri luas rejekinya, istri yang bisa memberi banyak keturunan, lembut tutur katanya, baik budi pekertinya, penyabar, penyayang, yang menemani suami dikala senang, yang mensupport suami dikala lemah, membimbing suami dikala lelah, menghibur suami dikala susah.
Berikan kepada kami dan mereka yang belum menikah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.
Berikan anak2 yang berbakti pada orang tua, anak yang shalih, shalihah, ahli quran, ahli zakat, ahli infaq, ahli sedekah, ahli wakaf.
Jadikan anak2 mereka para penyeru, para pencerah, mengajak pada kebaikan, mencegah kemunkaran dengan cara2 yang ahsan.
Jadikan keluarga mereka, anak istri mereka hambaMu yang mulia di dunia, mulia di akhirat, dicinta penduduk bumi, dirindu penduduk langit.
Jadikan mereka pemimpin bagi orang2 shalih, pembimbing yang lemah, penolong yang membutuhkan pertolongan, mencintai ummat, dicintai ummat.
Jadikan mereka pecinta anak yatim, sandingkan mereka disisi manusia terkasihMu di jannatunnaim.
Kabulkan semua doa2 mereka, hamba turut mengaminkan semua doa terbaik sahabat hamba.
Amin
Minggu, 18 Oktober 2015
Jumat, 09 Oktober 2015
Akhirat Yang Dipilih
Imam Ibnul berkata: "Sesuai dengan tingkat kecendurungan hamba dan ridhanya kepada dunia, maka seperti itu pulalah tingkat malasnya dari melakukan ketaatan kepada Allah dan mencari akhirat."
Al-haq dan al bathil, kebaikan dan keburukan, belok kanan dan belok kiri, demikian dengan cinta dunia dan akhirat sudah hukum alam tidak pernah sejalan.
Orang yang memiliki kecintaan kepada dunia, maka akan sejauh cinta itu ia meninggalkan orientasi akhirat.
Dalan kehidupan, antara pecinta dunia dan pecinta akhirat mungkin tak tampak perbedaan, karena orientasi yg menggiring gerak mereka adalah niat di dalam hati.
Meskipun sama bekerja, mungkin di perusahaan yang sama, mungkin dengan level yang sama bahkan mungkin ruang kerja yang sama, makan bersama, pulang pergi bersama, tapi motivasi kerja tentu berbeda.
Orang-orang yang cinta dunia lebih besar peluang melakukan pelanggaran karena kerja bagi mereka = mencari uang. Kadang halal dan haram tidak diperhatikan, kecurangan, korupsi waktu tidak dianggap merugikan orang lain, atau tidak dianggap mengambil hak orang lain.
Bagi yang berorientasi akhirat tentu berbeda. Kerja adalah ibadah melaksanakan kewajiban yang dijanjikan pahala. Setiap hasil yang dibawa adalah barokah.
Ini seperti kita bicara timur dan barat, seperti bicara Sabang dan Merauke. Semakin kita ke barat maka akan semakin jauh meninggalkan timur. Seperti kita berlari dari Sabang ke Merauke. Semakin jauh kita lari ke Merauke. Maka sejauh itu kita meninggalkan sabang.
Sejauh apa kita cinta dunia, sejauh itu pula kita kita tinggalkan akhirat.
Satu yang butuh kita ingat, Akhiratlah hidup kita yang sesungguhnya. Dunia hanyalah sarana menggapai kebahagiaan hidup di akhirat.
Kehidupan kita arah larinya kemana.?
Butuh kejujuran diri kita.
Wallahu a'lam.
Gunung Kidul, 9 Oktober 2015
Al-haq dan al bathil, kebaikan dan keburukan, belok kanan dan belok kiri, demikian dengan cinta dunia dan akhirat sudah hukum alam tidak pernah sejalan.
Orang yang memiliki kecintaan kepada dunia, maka akan sejauh cinta itu ia meninggalkan orientasi akhirat.
Dalan kehidupan, antara pecinta dunia dan pecinta akhirat mungkin tak tampak perbedaan, karena orientasi yg menggiring gerak mereka adalah niat di dalam hati.
Meskipun sama bekerja, mungkin di perusahaan yang sama, mungkin dengan level yang sama bahkan mungkin ruang kerja yang sama, makan bersama, pulang pergi bersama, tapi motivasi kerja tentu berbeda.
Orang-orang yang cinta dunia lebih besar peluang melakukan pelanggaran karena kerja bagi mereka = mencari uang. Kadang halal dan haram tidak diperhatikan, kecurangan, korupsi waktu tidak dianggap merugikan orang lain, atau tidak dianggap mengambil hak orang lain.
Bagi yang berorientasi akhirat tentu berbeda. Kerja adalah ibadah melaksanakan kewajiban yang dijanjikan pahala. Setiap hasil yang dibawa adalah barokah.
Ini seperti kita bicara timur dan barat, seperti bicara Sabang dan Merauke. Semakin kita ke barat maka akan semakin jauh meninggalkan timur. Seperti kita berlari dari Sabang ke Merauke. Semakin jauh kita lari ke Merauke. Maka sejauh itu kita meninggalkan sabang.
Sejauh apa kita cinta dunia, sejauh itu pula kita kita tinggalkan akhirat.
Satu yang butuh kita ingat, Akhiratlah hidup kita yang sesungguhnya. Dunia hanyalah sarana menggapai kebahagiaan hidup di akhirat.
Kehidupan kita arah larinya kemana.?
Butuh kejujuran diri kita.
Wallahu a'lam.
Gunung Kidul, 9 Oktober 2015
Kamis, 08 Oktober 2015
Kisah Nyata Si Cacat Penjual Koran
Wajahnya menghitam terhantam cahaya mentari setiap hari.
Wajah yang tegar menyiratkan tekad yang kuat.
Kaki yang cacat di kedua sisi. Teramat kecil dengan tungkai tertekuk membuatnya tak mungkin berdiri, berjalan atau berlari.
Badan gempal, dengan otot yang tampak kekar dan rambutnya yang panjang tak membuatnya terlihat garang.
Kursi roda yang menopang, mengantar pagi dan siang menyusuri perempatan ringroad Selatan Yogjakarta.
Cacat fisiknya tak membuatnya malu, atau memilih menengadahkan tangan sambil bernyanyi seperti pengamen yang secara fisik normal yang biasa mangkal di perempatan, lelaki satu ini memilih menjajakan koran dengan harga murah. 2.000 rupiah.
Ketegaran dan balutan fisik dalam pilihan nafkahnya, menyentuh setiap yang menyaksikan, sama sekali tanpa memasang tampang memelas.
*****
Saya hanya ingin menggambarkan bahwa hasil yang secara materi tidak berlimpah, kadang menjadikan kita bahagia.
Lakukan setiap pekerjaan kita jangan melulu karena harta benda. Kepuasan, cinta pekerjaan, pengabdian salah satu yang menjadikan rejeki kita barokah.
Wallahu a'lam
Ring Road Selatan Yogjakarta, 9 Oktober 2015
Selasa, 06 Oktober 2015
Pengorbanan Seorang Anak Yatim Yogyakarta
Waktu itu saya dalam perjalanan dari Jogya ke Jakarta naik pesawat.
Karena keberangkatan pesawat ditunda 1 jam saya menunggu di in HB kafetaria bandara Adisucipto sekedar minum kopi.
Di depan saya duduk seorang ibu sudah agak tua, memakai pakaian Jawa tradisional kain batik dan kebaya, wajahnya tampak tenang dan keibuan.
Sekedar mengisi waktu, saya mengajaknya bercakap-cakap.
"Badhe tindak Jakarta, Bu". (mau pergi ke Jkt, bu ?)
"Inggih nak, namung transit ing Cengkareng lajeng dhateng Singapura."
(Iya nak, hanya transit di cengkareng terus ke Singapura)
"Menawi kepareng nyuwun pirsa, kagungan perlu menapa ibu tindak Singapura ?"
(Kalau boleh, mau bertanya, ada keperluan apa ibu pergi ke Singapura ?)
"Tuwi anak kula ingkang nomer kalih Nak. Semahipun nglairaken wonten ngrika lajeng kula dipun kintuni tiket lan dipun urusaken paspor langkung Biro Perjalanan. Dados kula kantun mangkat boten sisah repot ngurus menapa-menapa".
(Menengok anak saya yang nomor dua nak, istrinya melahirkan di sana terus saya diberi tiket dan diuruskan paspor melalui biro perjalanan. Jadi saya tinggal berangkat tanpa susah mengurus apa-apa)
"Ingkang putra ngasta wonten pundi Bu ?"
(Puteranya kerja dimana, bu ?)
"Anak kula menika Insinyur Perminyakan, nyambut damel wonten Perusahaan Minyak Asing, samenika dados Kepala Kantor Cabang Singapura."
(Anak saya ini insinyur perminyakan, kerja di perusahaan minyak asing, sekarang kadi kepala kantor cabang Singapura)
"Putra sedaya pinten, Bu ?"
(Berapa anak ibu semuanya?)
"Anak kula sekawan Nak, jaler tiga, estri setunggal. Menika wau anak kula nomer kalih. Ingkang nomer tiga ugi jaler, Dosen Fakultas Ekonomi Gadjah Mada, samenika saweg mendhet Program Doktor wonten Amerika. Ingkang ragil estri, dados dokter spesialis. Anak, semahipun ugi dokter Ahli Bedah lan dosen wonten Fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya."
(Anak saya ada 4 nak, 3 laki2, 1 perempuan. Yang ini tadi anak nomer 2. Yang nomer 3 juga laki2, dosen fakultas ekonomi UGM, sekarang lagi ambil program doktor di Amerika. Yang bungsu perempuan jadi dokter spesialis anak. Suaminya juga dokter, ahli bedah dan dosen di universitas Airlangga Surabaya)
"Menawi putra mbajeng.?"
(Kalau anak sulung?)
"Piyambakipun tani, Nak. Manggen ing Godean nggarap sabin tilaranipun swargi bapakipun".
(Dia petani, Nak. Tinggal di Godean, menggarap sawah warisan almarhum bapaknya).
Saya tertegun sejenak lalu dengan hati-hati saya bertanya ;
"Temtunipun Ibu kuciwa kaliyan putra mbajeng nggih Bu. Kok boten sarjana kados rayi-rayinipun."
(Tentunya ibu kecewa kepada anak sulung ya bu. Kok tidak sarjana spt adik-adiknya).
"Babarpisan boten,Nak. Kita sedaya malah ngurmati piyambakipun. Kanthi kasil saking sawahipun, piyambakipun ngragadi gesang kita sakulawarga lan nyekolahaken rayi-rayinipun sedaya ngantos rampung sarjana".
(Sama sekali tidak, nak. Malahan kami sekeluarga semuanya hormat kepada dia. Dari hasil sawahnya dia membiayai hidup kami dan menyekolahkan semua adik-adiknya sampai selesai jadi sarjana)
Saya merenung :
"Ternyata yang penting bukan Apa atau Siapa kita, tetapi apa yang telah kita perbuat".
Allah tidak akan menilai apa dan siapa kita tetapi apa "amal-ibadah" kita.
Tanpa terasa air mata mengalir di pipiku...
Catatan :
Mohon maaf untuk yang tidak mengerti bahasa Jawa, dialog dalam kisah diatas saya tulis apa adanya.
*) Cerita Prof Dr Ravik Karsidi Rektor UNS.
*) Dikisahkan oleh Muhidin di grup WA SMPIT BAKTI IBU Madiun dan saya posting di blog saya dalam perjalanan Yogyakarta - Magelang
Yogyakarta, 7 Oktober 2015
😊🙏
Keyakinan yang Menyembuhkan-Belajar Dari Pengalaman Ummi Sabil
Pertama melihat Ummi Sabil, (saya lebih senang menyebut Ummu Sabil) saya melhat seorang wanita yang sangat biasa. Kecil, saya lebih suka menyebut IMUT, gelap seperti kebanyakan wanita di kampung saya yang setiap hari pekerjaannya ke sawah dari pagi hingga petang dan merelakan kulit yang memang sejak lahir sudah bawaan gelap menjadi semakin gelap karena tuntutan pekerjaan.
Tentu saya tidak boleh hanya melihat dari sisi fisik yang imut dan cenderung berkulit gelap. Sisi lain dari tampilan fisik beliau, beliau terlihat sebagai seorang yang memiliki visi yang kuat, pendirian yang teguh, tapi dalam balutan sosok wanita yang keibuan dan teduh.
Lebih jauh dari itu, ada keheranan saya pada beliau, orang-orang yang di dekat beliau tampak sangat mencintai dan terlihat tak ada jarak. Pikir saya, tak mungkin kalau beliau bukan orang baik sampai begitu dicintai orang di sekitarnya.
Yang lebih luar biasa bagi saya dengan profesi beliau sebagai herbalis adalah kekuatan beliau menyandarkan penyembuhan pasien kepada Rabbnya.
Kekuatan keyakinan bahwa Allah yang memberi penyakit dan Allahlah yang menyembuhkan, semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin memungkinkan dia untuk disembuhkan.
Inilah kekuatan yang mesti dimiliki seorang muslim keyakinan bahwa Allah akan mewujudkan apa yang kita yakini, Allah akan mengabulkan apa yang betul-betul kita inginkan.
Allah memiliki kekuasaan penuh untuk mewujudkan kehendakNya. Yang paling penting diingat adalah bahwa Allah bersama prasangka hambaNya.
Sekuat apa seorang mukmin meyakini kehendaknya adalah kehendak Allah, maka sekuat itulah kemungkinan yang akan terwujud. Kekuatan pokoknya bukan pada kekuatan seorang mukmin akan keyakinannya, tetapi lebih mutlak pada tingkat bersandarnya seorang mukmin akan kehendak Allah Sang Khaliq.
Kekuatan keyakinan Allah akan menyembuhkan karena kepasrahan mutlak inilah yang akan menyembuhkan.
Kekuatan keyakinan Allah akan mengabulkan keinginan kita karena kepasrahan mutlak inilah yang akan menjadi kunci terkabulnya keinginan kita.
Wallahua'lam
Surakarta, 6 Oktober 2015
Pemulung dan Dua Anaknya
Sragen kembali memberi pelajaran melalui penglihatan mata saya. Dari bus eksekutif yang membawa ke Magelang sore ini, saya lihat seorang ayah dengan raut wajah menyiratkan beratnya kehidupan yang dijalani sedang menyeberang jalan utama kota Sragen bersama dua orang anaknya.
Anak pertama terlihat seperti usia 3 tahunan dalam gendongan samping kanan sang ayah. Di tangan kiri sang ayah bergelayut tangan anak yang lebih besar kira-kira usia 6 tahun. Di tangan kiri sang kakak mendadak terjatuh kantong plastik bening berisi banyak kardus bekas.
Tak sampai berserakan kardus dari kantong plastik, dengan sigap sang kakak menyambar kantong itu agar tidak tertabrak kendaraan yang lalu lalang dengan kencang. Tampak sang ayah hanya memandang dengan sedikit tersenyum. Barangkali terbersit rasa bangga pada anaknya yang sudah berpikir menyelamatkan sedikit rejeki yang mungkin menutup biaya makan malam mereka bertiga.
Bertiga? Bisa jadi dirumah istrinya sedang menunggu anaknya yang paling kecil.
_____
Tertarik saya melihat mereka bertiga, meski rasa kasihan saya lebih dominan, tapi saya melihat bagaimana perjuangan seorang ayah memenuhi kebutuhan keluarganya. Dan anak-anak yang jauh dari rasa malu untuk membantu orangtuanya membawa kardus bekas di tengah keramaian kota.
Saya mengajak kepada bapak-bapak pembaca, berjuanglah memenuhi kebutuhan keluarga, karena Allah lewat Rasul-Nya menghibur kita, jika kita berjuang dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga maka akan dihapusNya dosa-dosa kita sore harinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Kategori Tulisan
Anak
(21)
Ceramah
(25)
Doaku
(3)
Gallery
(68)
Hadits
(20)
Herbal
(3)
Hikmah
(258)
I'tikaf
(5)
Idul Fitri
(27)
Inspirasi
(149)
Jualan
(3)
Kesehatan
(43)
Keuangan
(12)
Kisahnyata
(43)
Kultum
(147)
Lailatul Qadar
(2)
Lain-lain
(49)
management
(4)
Nisa'
(1)
ODOJ
(2)
Progress
(54)
prowakaf
(2)
Puasa
(182)
Quran
(17)
Qurban
(40)
Ramadhan
(322)
Renungan
(17)
Rumahkreatif
(6)
Rumahpintar
(8)
Rumahtahfidz
(18)
Rumahyatim
(6)
Sedekah
(47)
Share
(104)
Syawal
(5)
Tanya jawab
(2)
Tarawih
(4)
Tarbiyah
(166)
Umroh
(19)
Wakaf
(8)
Yatim
(7)
Zakat
(22)
Sering dibaca
- Obat Kanker yang 10.000X Lebih Kuat dari KemoTerapi
- Daftar Tempat Makan Di Madiun
- Apa Arti Kata "Dancuk"...
- Kisah Nyata : Hati-hati Ajarkan Motor-Mobil Pada Anak di Bawah Umur
- Sahabat Kita Yang Baik Akan Menolong Kita Di Akhirat
- 10 Amal yang Pahalanya Takkan Pernah Putus
- Kepada Donatur : Kisah Nyata - Kesalahan Kecil yang Dahsyat Akibatnya
- Kadal dan Sedekah
- Kepada Donatur : Mengintip Akheratmu Dengan Melihat Kehidupan Duniamu
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!