Rabu, 22 Oktober 2014
10 Sebab Agar Dicintai Allah
10 SEBAB AGAR DICINTAI ALLAH
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
”Sesungguhnya sebab-sebab yang dapat mendatangkan kecintaan dari ALLAH ada sepuluh (yaitu):
Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an serta memahami makna-maknanya dan maksud yang terkandung didalamnya.
Mendekatkan diri kepada ALLAH dengan menjalankan amalan-amalan yang sunnah sesudah amalan-amalan yang wajib.
Terus-menerus berdzikir kepada ALLAH dalam setiap kondisi, baik dengan lisan, hati, perbuatan maupun keadaan, karena kadar kecintaan tergantung pada dzikirnya. (Semakin cinta berarti semakin banyak dzikr/ingat kepada yang dicintai -pent).
Mengutamakan apa-apa yang ALLAH cintai daripada apa yang engkau cintai ketika hawa nafsu berkuasa.
Hati senantiasa menela’ah serta memperhatikan nama-nama ALLAH dan sifat-sifat-NYA, dan mendalaminya di taman dan medan ilmu pengetahuan ini.
Menyaksikan berbagai kebaikan dan nikmat ALLAH yang lahir dan batin.
Merasa rendah dan tunduk hatinya di hadapan ALLAH, dan ini merupakan sebab yang sangat menakjubkan.
Menyendiri untuk beribadah pada sepertiga terakhir dari waktu malam dan membaca kitabNYA (Al-Quran Al-Karim), lalu menutup (bacaan)nya dengan istighfar dan taubat.
Bermajelis dengan orang-orang yang mencintai ALLAH dengan jujur, mengambil buah yang baik dari perkataan mereka, dan engkau tidak berbicara kecuali tampak kuat adanya maslahat dalam berbicara, serta engkau tahu akan manfaat bagi dirimu dan orang lain.
🔟 Menjauhi setiap sebab yang menjadi penghalang antara hati dengan ALLAH. Dan dari sepuluh sebab inilah, orang-orang yang mencintai (ALLAH) telah sampai pada kedudukan kecintaan (dari ALLAH yang sangat tinggi).
🌿 (Lihat kitab Madarijus Salikin, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah III/17-18).
Demikian Faedah ilmiyah yg dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wabillahi at-Taufiq.
====================
Dari Grup WA
Image :
https://ajaranislamyanghaq.files.wordpress.com/2013/02/setiap-tengah-malam-allah-swt-selalu-turun-dari-atas-arsy-nya-ke-langit-dunya.jpg
Menakar Keimanan
Iman adalah rasa percaya dan keyakinan hati terhadap wujud dan kebenaran (haq) serta eksisitensinya suatu Dzat yaitu Alah swt. Keimanan ini tidak hanya sebatas mempercayai dan menyakini adanya dzat Allah saja, tetapi mempercayai dan meyakini tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan Allah itu sendiri.
Misalnya tentang keberadaan Malaikat, tentang firman-firman yang diturunkan melalui wahyu kepada para Rasul, yang sudah terhimpun dalam kitab, tentang para Rasul atau orang-orang yang diutus untuk menyampaikan firman-firman yang telah turun kepada sekelompok kaum, tentang kebenaran akan datangnya hari kiamat atau hari penghisaban, yang terakhir tentang ketentuan dan ketetapan Allah yang dinamakan takdir.
Iman ini sendiri terbagi menjadi lapisan-lapisan yang relatif tipis atau tebalnya antara satu orang dengan orang yang lain, tetapi secara garis besar lapisan atau tingkatan iman itu terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu, Ilmul Yakin, ainul yakin dan haqqul yakin.
Ilmul Yakin adalah kesadaran untuk meyakini tentang segala sesuatu khususnya tentang ketauhidan Allah dan segala yang berkaitan dengan sifat-sifatNya melalui orang lain, misalnya guru di sekolah, kyai atau para ustadz bahkan mungkin orang-orang yang dekat dengan kita yang bersedia untuk memberikan masukan tentang berbagai hal. Khususnya mengenai ilmu agama.
Ainul Yakin adalah suatu keyakinan yang tidak hanya di dapat dari seseorang, tetapi keyakinan yang terbangun karena suatu pencarian tentang bukti-bukti keberadaan Allah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuasaan dan kemutlakan mengenai hukum-hukum alam yang telah di ciptakannya. Pada tahap ini seseorang akan melihat sendiri dan bahkan akan mengalaminya sendiri proses-proses dari pembuktian akan kebenaran yang awalnya hanya berupa informasi-informasi yang bersifat tekstual.
Haqqul Yakin adalah keyakinan yang mutlak dan tidak akan tergoyahkan dari seseorang yang merasa bahwa dirinya hanyalah bagian yang sangat kecil dari sesuatu yang sangat-sangat besar dan diluar kemampuan logika berpikir manusia. Disini bukan hanya mata yang bisa melihat tetapi ada keterlibatan hati yang sangat dominan dalam keyakinan akan dzat Allah. Inilah Iman dengan sebenar-benarnya Iman.
Pada tingkatan ini seorang hamba akan secara otomatis melakukan perintah-perintah dari Tuhannya tanpa ada rasa keterpaksaan. Pada tingkatan ini pula akan timbul rasa kebutuhan yang sangat besat dari seseorang pada Tuhannya dan ada rasa ketergantungan yang sangat kepadaNya. Sehingga menimbulkan efek untuk selalu bisa berinteraksi kapan saja dan dimana saja dia berada.
Ujung dari perilaku seseorang yang sampai pada tingkatan ini adalah rasa ikhlas akan tindakan dan tingkah lakunya. Semua yang di lakukan hanya karena Allah semata. Bukan karena yang lain yang hanya merupakan sesuatu yang di ciptakan. Yang tidak akan bisa mempunyai kekuatan yang paling lemah sekalipun tanpa adanya keterlibatan Tuhannya yaitu Allah swt.
Dari adanya tingkatan-tingkatan inilah seseorang yang mengatakan dirinya beriman masih belum bisa dikatakan sebagai seorang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman. Sehingga Allah perlu memperjelas memberikan informasi kepada kita,
QS. Al Anfaal : 2 – 3.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴿٢﴾
”“Innamal mu`minuunal ladziina idza dzukirallahu wa jilat quluubuhum wa idza tuliiyat alaihim ayaatuhu zadathum iimaanan wa alaa rabbihim yatawakkaluuna”
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴿٣﴾
“Alladziina yuqiimuunash shalaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquuna”
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
QS. An Naml : 3.
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ﴿٣﴾
“Alladziina yuqiimuunash shalata wa yu`tuunaz zakaata wa hum bil aakhiratihum yuuqinuuna”
(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
QS. Al Ankabuut : 59.
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴿٥٩﴾
”Alladziinash shabaruu wa `alaa rabbihim yatawakkaluuna”
(yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.
QS. Al Hujuraat : 15.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴿١٥﴾
“ Innamal mu`minuual ladziina amanuu billahi wa rasuulihi tsumma lam yartaabuu wa jaaahaduu bi `amwalihim wa `anfusihim fii sabiilillahi, ulaa`ika humush shaadiquuna”
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Iman yang sebenarnya adalah iman dengan amal shalih, yaitu Iman yang disertai dengan amal perbuatan seperti yang disebutkan di beberapa ayat dalam Al Qur`an. Amal perbuatan itu diantaranya adalah : yang mengerjakan shalat dengan ikhlas, yang menafkahkan hartanya yang telah di limpahkan kepadanya di jalan Allah yaitu memberikan kepada mereka yang berhak dan yang membutuhkan, yang bertawakal hanya kepada Allah, yang mampu bersabar meski dalam keadaan tertekan, yang begitu yakin akan kebenaran tentang kehidupan akhirat, yang jika di sebut nama Allah bergetar hatinya karena takut akan adzabnya, yang apabila di bacakan ayat-ayatnya imannya akan bertambah. Itulah orang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman, dan Allah menambahkan dalam satu Ayat,
QS. Al Anfaal : 4.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ﴿٤﴾
“Ulaa`ika humul mu`minuuna haqqan, lahum darajaatun inda rabbihim wa maghfiratun wa rizkun kariimun”
”Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”
Banyak dari diri kita yang menyatakan beriman tapi sedikit dari kita yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas keimanannya. Sebagian besar dari kita adalah beriman di level yang pertama, karena sesungguhnyalah keimanan yang kita akui itu tak lebih dari sekedar hanya pengakuan atas wujudnya Allah dan kebenaran agama saja. Bahwa Allah itu wujud memang benar adanya. Bahwa beragama itu suatu kewajiban yang harus menempel pada identitas kita, yang jika kita melalaikannya akan berakibat fatal, kita akan dituding sebagai pengikut aliran terlarang, akan dituding sebagai pengikut kepercayaan tertentu yang bukan merupakan suatu agama yang “resmi” dan diakui oleh penguasa atau pemerintah. Sehingga banyak pula dari kita yang beragama tanpa mengetahui apa makna dari beragama itu sendiri.
Dalam “diri” agama itu sendiri tersusun dari beberapa tingkatan. Dalam Agama Islam sebenarnya tingkatan itu tersusun menjadi 3 (tiga) level. Tingkatan yang pertama adalah Iman, yang kedua Taqwa dan yang ke tiga Islam.
Mungkin bagi sebagian orang susunan itu rancu atau kacau karena sebagian orang menempatkan taqwa sebagai tujuan terakhir dari tujuan beragama. Muttaqin menjadi tolok ukur diterima atau tidaknya diri kita oleh Allah untuk kembali kepadaNya. Hal ini memang benar adanya dan jangan pernah pula untuk dipungkiri. Tapi kalau di cermati susunan tingkatan diatas juga bisa diterima sepenuhnya oleh akal atau nalar kita.
Kata “Islam” jika di cermati dari arti kata-nya bisa berarti “Tunduk” atau“berserah diri” . Berserah diri disini tentunya hanya berserah diri kepada Allah. Itulah agama tauhid yang di bawa oleh Rasulullah saw. Muttaqiin yang sebenarnya bisa pula di identikkan dengan orang-orang yang “aslam” yang berarti tunduk, menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata.
QS. Ali Imraan 83.
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ﴿٨٣﴾
“Afaghaira diinillahi yabghuuna wa lahu aslama man fiissamaawaati wal ardhi thau`an wa karhaan wa ilaihi yurja`uuna”
”Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.
Jika Islam di maknai sebagai penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt, memang harusnya berada di tingkatan akhir dari suatu proses beragama, tetapi jika “Islam” dimaknai sebagai suatu nama dari sebuah agama, maka makna Islam yang sebenarnya akan berada di balik bayang-bayang kebesaran agama Islam.
Kita semua mengetahui dan menyadari bahwa berapa banyak orang yang mengaku beragama Islam tetapi pengetahuan tentang Islamnya begitu minim sekali. Mending kalau masih disertai dengan kemauan belajar, kalau tidak ? Betapa menyedihkan sekali ! Kita hanya akan berada dipinggiran inti dari sebuah agama yang lurus yang terbungkus oleh tebalnya “ilmu”.
Inti agama tauhid yang terbungkus oleh dalam dan tebalnya ilmu bagaikan biji dalam buah semangka tanpa biji. “Biji” yang sepertinya tidak ada tetapi sebenarnya ada, dalam arti, inti dari sebuah proses ber-agama itu sebenarnya ada dan nyata, yaitu “Iman”. Tetapi tidak akan pernah kita temukan jika kita tidak pernah mengusahakannya.
“Iman” itu bisa diminta kepada Allah. Asal kita mau sedikit bersusah payah, niscaya Allah akan menurunkan sebuah “petunjuk” Nya. Nah “petunjuk” itulah yang akan kita gunakan untuk menelusuri “peta” inti dari sebuah pentingnya agama bagi kita.
Sebenarnya petunjuk itu sudah ada, yaitu Al Qur`an dan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang ada di alam semesta. Tetapi jika seseorang bersikat apatis terhadap Iman dan tauhid dia tidak akan pernah menghiraukan keduanya. Bahkan bersikap menjauhi keduanya. Sampai datangnya kesadaran spritual dalam qalbu atau hatinya. Pada saat datang kesadaran akan kebutuhan dan ketergantungan kepada Allah itulah seseorang akan mulai berpaling kepada “petunjuk” Allah tersebut.
Jika komitmennya kuat dan konsisten dalam memahaminya orang tersebut akan mendapat suatu pencerahan batin. Dimana akan timbul sikap untuk taat dalam menjalankan perintah-perintah agamanya.
QS. Al Israa` : 36.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴿٣٦﴾
“Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ilmun, innas sam`a wal abshara wal fu`aada kullu ulaa`ika kaana `anhu mas`uulan”
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Allah memberikan kan kita pendengaran, penglihatan dan hati tak lain karena Allah menginginkan manusia memahami keberadaan Allah dengan segala sifat-sifatnya melalui ketiganya. Jika tidak, Allah sudah mempersiapkan diri dan jiwa kita untuk berhadapan dengan hukum Allah di akhirat yang pedihnya jauh melebihi siksa di dunia.
Uraian di atas untuk mengulas sedikit dari tingkatan iman. Sekarang kita coba untuk mengetahui sedikit tentang tingkatan dalam “ber-agama”. Yang pertama adalah komitmen ber-agama, yang kedua adalah buah dari komitmen beragama yaitu Iman, yang ketiga adalah taqwa, hasil dari masuknya Iman ke dalam hati yang disertai dengan amalan atau perbuatan-perbuatan yang baik, yang merupakan perwujudan dari iman itu sendiri.
Jika kita bisa melalui ketiga fase atau tingkatan tersebut, maka kita akan sampai pada esensi beragama yaitu “Islam” atau “penyerahan diri” sepenuhnya hanya kepada Allah. Dan itu semua adalah buah dari jerih payah atau usaha pencarian makna hidup dari keber-agama-an kita.
Komitmen beragama tidak boleh berhenti hanya sebatas persaksian melalui ucapan dua kalimat syahadat. Komitmen ber-agama harus berefek pada ketebalan Iman. Dengan apa ? Tentunya dengan “Ilmu” . Ilmu itulah nanti yang akan memberikan kita pemahaman akan arti pentingnya seseorang harus berkomitmen untuk ber-agama. Hanya dengan pemahaman tentang ayat-ayat Allah saja seseorang bisa menemukan sebuah contoh kebenaran. Baik itu ayat-ayat yang ada dalam Al Qur`an yang disebut ayat qauliyah maupun ayat-ayat yang ada di alam yang biasa disebut ayat kauniyah.
Kedua ayat tersebut hendaknya dipahami secara bersamaan, karena salah satunya merupakan penjelasan atau bukti dari yang lain, yaitu ayat-ayat Al Qur`an. khususnya untuk ayat-ayat yang berkaitan dengan peristiwa alam. Misalnya bergantinya siang dan malam, tentang turunnya hujan, tentang tanaman yang berbuah, semua itu adalah bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan Allah swt.
Iman yang semakin “menebal” dikarenakan pemahaman akan lebih kuat melekatnya dari pada iman yang hanya sekedar “katanya”. Karena iman yang di dapat dari pemahaman ini akan berefek pada pembentukan karakter diri dengan keinginan yang datangnya dari hati untuk segera merealisasi perwujudan dari pada iman itu sendiri. Yaitu berupa amalan atau pembiasaan diri dalam tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku Rasulullah yang telah memberi contoh atau teladan yang baik.
Pembiasaan diri dalam bertingkah laku yang baik berdasarkan iman ini akan berefek pada taqwa. Dimana kata “taat” akan secara perlahan namun pasti akan melekat pada dirinya. Pada kondisi ini seseorang tidak boleh berhenti untuk selalu melakukan eksplorasi terhadap ayat-ayat Allah untuk mengasah kemampuan dalam memahaminya. Ayat-ayat Allah tersebar di seantero jagat raya, yang jika kita gunakan seluruh umur kita untuk mencoba memahaminya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah.
Pemahaman harus selalu bertambah, kehidupan beragama kita harus dinamis. Hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Iman haruslah selalu bertambah selaras dengan pemahaman. Jika tidak berarti kita termasuk dalam kelompok orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu. Dan kita semua tahu bahwa waktu tidak akan berjalan mundur. Waktu akan terus berlalu seiring dengan bergesernya bumi yang kita tempati. Dan umur manusia akan selalu berkurang dari waktu ke waktu, sampai tiba waktu ajal yang telah di tentukan.
Lantas bagaimanakah dengan orang yang beriman tetapi tidak beramal shalih ? Allah berfirman :
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴿٢٥٦﴾
“Laa ikraaha fiiddiini, qad tabaiyanar rusydu minal ghaiyi, faman yakfur bith thaghuuti wa yu`min billahi faqadistamsaka bil`urwatil wusyqaa lan fishaama lahaa. Wallahu samii`un `aliimun”
”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
dijelaskan di ayat tersebut bahwa mereka yang “ber-iman” mereka itu sudah berpegangan kepada buhul tali Allah yang sangat kuat dan tidak akan pernah putus. Buhul tali atau simpul tali atau ikatan tali yang kuat, lebih memberikan penjelasan tentang “tali” yang merupakan kabel atau penghubung atau jalan yang menghubungkan seorang hamba kepada Tuhannya. Iman yang diumpamakan tali tersebut tidak lain karena Iman adalah modal atau merupakan modal dalam menjalani amal perbuatan selanjutnya.
Ibarat sebuah bangunan “Iman” adalah pondasi. Tanpa pondasi akan sia-sia keberadaan sebuah bangunan, bahkan kemungkinan besar akan mencelakan bagian-bagian lain dari bangunan itu sendiri. Tetapi pondasi yang kuat akan mempertahankan sebuah bangunan sampai semua bagian dari bangunan itu perlahan lapuk atau dimakan usia. Dan pondasi saja masih belum cukup untuk menjadikan diri kita bagai sebuah bangunan yang sempurna. Kesempurnaan diri dan jiwa kita bisa terbangun apabila kita bisa membangun Amalan yang baik di atas pondasi iman kita.
Di ayat lain Allah juga menegaskan kalau amal perbuatan yang tidak dilandasi oleh iman adalah sesuatu yang sia-sia. Iman menjadi sesuatu yang paling utama dalam hidup. Tanpa Iman otomatis kita termasuk dalam golongan orang-orang yang ingkar kepada Allah. Padahal segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit dan di antara keduanya ini hanyalah milik Allah. Maka menjadi masuk akal jika seseorang yang melakukan segala aktifitas perbuatan yang menurut dirinya paling baik sekalipun akan sia-sia karena tertolak dikarenakan ke-kafiran-an yang melekat pada dirinya.
QS. An Nuur : 39.
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴿٣٩﴾
“Walladziina kafaruu a`maaluhum kasaraabin biqii`atin yahsabuhuzh zhamnu maa`an hattaa `idzaa jaa`ahu lam yajidhu syaian wa wajadallaha `indahu fawaffaahu hisaabahu, wallahu sarii`ul hisaabi”
”Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.”
QS. An Nuur : 40.
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ﴿٤٠﴾
“Au kazhulumaatin fii bahrin lujiiyin yaghsyaahu maujun min fauqihi maujun min fauqihi sahaabun, zhulumaatun ba`dhuhaa fauqa ba`dhin `idzaa akhraja yadahu lam yakad yaraahaa, wa man lam yaj`alillahu lahu nuuran famaa lahu min nuurin”
”Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”
Untuk itulah kita harus “Istiqomah” dalam pemahaman tanda-tanda atau ayat-ayat Allah ini. Hingga semakin hari semakin bertambah Iman kita. Sejalan dengan berlalunya waktu semakin dekat pula ajal kita. Semakin dekat saatnya semakin kita kedinginan, tapi jika kita berjalan dengan berselimut “Iman”, jangan pernah khawatir dan merasa ketakutan. Sehingga nantinya kita bisa berharap untuk ditetapkannya mati dalam keadaan iman dan Islam.
Jika Iman sudah melekat pada diri dan hati kita secara alami kita akan berusaha untuk memenuhi segala efek dari Iman itu sendiri. Efek dari Iman adalah memenuhi segala yang di perintahkan oleh Allah swt. berupa amalan-amalan yang baik. Amalan-amalan yang baik inilah yang nantinya akan menjadi saksi perbuatan kita selama hidup dalam ke-Iman-an. Dan Iman dan amalan yang baik inilah yang nantinya akan memasukkan diri kita ke dalam golongan orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang di kehendaki oleh surganya Allah swt.
Dan mudah-mudahan pula Allah akan memasukkan mereka yang “istiqamah” dalam pemahaman ketauhidan kedalam golongan orang-orang yang bertaqwa yang berbalut kain “keikhlasan”. Dan akan berakhir dengan keridhaan Allah dalam menerima kembalinya diri dan jiwa kita kepadaNya.
==========================
Dari Grup WA
Image :
http://s3-media3.fl.yelpcdn.com/bphoto/5x8XiTSHzG161hsEDr9sFA/ls.jpg
Pentingnya Perlakuan Baik Pada Orang Lain
Cinta Sesama di Dunia adalah Paspor untuk Menuju Langit tanpa Rintangan
Pada masa perang Amerika di Irak, sebuah telepon bordering di sebuah rumah yang sepi di California. Rumah itu dihuni oleh sepasang suami istri yang anaknya sedang bertugas di Irak. Setiap hari mereka selalu risau memikirkan nasib anak semata wayangnya itu. Setiap kali telepon bordering, mereka berlomba mengangkatnya. Harapannya, Clark Johnson -anak mereka- yang berada di balik telepon itu.
“Haloo..siapa ini?” Johnson berkata di gagang telepon.
“Ini aku, Clark. Ayah apa kabar? Ibu bagaimana?” Jawab anaknya.
“Kami baik-baik saja, Clark. Kapan kamu kembali?”
“Aku dalam perjalanan pulang, Ayah. Tapi, aku bersama seorang kawan. Kawanku ini tidak memiliki kedua tangan lagi dan kaki kanannya juga diamputasi setengah karena terkena bom. Apa aku boleh membawanya ke rumah?”
“Kamu mau membawanya ke rumah?”
“Ya, Ayah. Dia tidak berani kembali ke rumahnya. Dia takut akan menjadi beban ataupun mempermalukan keluarganya dengan keadaannya itu.”
“Anakku, biarlah rumah sakit yang mengurusnya, tidak usah kamu bawa ke rumah. Siapa yang akan mengurusnya? Dia akan menjadi beban di rumah kita." Suara pun terputus, sang Ayah melanjutkan, "Hallo, Clark. Apa kamu masih di situ?”
“Baiklah, Ayah. Selamat tinggal.” Tiba-tiba suara Clark tidak terdengar lagi.
Beberapa hari kemudian, seorang laki-laki mengetuk pintu rumah Johnson. Laki-laki itu membawa sepucuk surat dari Departemen Pertahanan Amerika.
“Serah terima jenazah Sersan Clark Johnson.”
Johson terkejut. Dia berlari menuju ambulan. Dia berharap, itu salah alamat. Karena baru beberapa hari yang lalu dia berbicara dengan Clark.
Ternyata tidak salah alamat. Benarlah, itu jasad Clark, anaknya satu-satunya. Yang lebih mengejutkan, ternyata jasad Clark memang tidak memiliki dua tangan dan kaki kanannya tinggal setengah!
Dalam telepon itu, Clark tidak tahan mendengar jawaban ayahnya. Akhirnya, dia memutuskan untuk bunuh diri.
Johnson sadar. Yang dimaksud anaknya dengan “kawan” adalah dirinya. Ia merasa bersalah ketika mengatakan bahwa kawannya itu akan menjadi beban keluarga. Saat itu, Clark hanya membutuhkan cinta.
Terkadang kita berpikir panjang: untuk siapa kita mempersembahkan cinta? Siapakah yang harus kita cintai? Apakah orang itu pantas menerima cinta dan kebaikan kita atau sebaliknya?
Orang bijak mengatakan, “Cinta sesama di dunia adalah paspor untuk menuju langit tanpa rintangan
=========================
Dari Grup WA Ambillah Hikmah
Image :
http://kurtkoontz.com/wp-content/uploads/2013/10/helping-hand.jpg
Kisah Nyata : Wudlu Tak Pakai Air, Sholat di Kamar Mandi
Kamis Penuh Semangat !!!
Berikut sharing dr Bu Sinta Yudisia, ketua FLP & da'i LMI yg berdakwah di Hongkong. Semoga menambah rasa syukur kita.
=========================================
Diary HK
Sholat. Seberapa besar maknanya bagi kita? Kewajiban 5 waktu yg merupakan rutinitas. Sangat rutin, sampai tak membekas, tak meninggalkan makna.
Tapi tidak demikian halnya dengan BMI - Buruh Migran Indonesia. Sejak di agent tanah air, mereka mendapatkan bekal, majikan belum tentu mengizinkan pekerja sholat, baca quran, apalagi berjilbab.
Hongkong adl negara dengan peraturan ketat yg sangat
menghargai labour. Gaji UMR $4100. Jika membayar di bawah itu, majikan dapat dimejahijaukan dan masuk penjara.
Mereka harus bayar tinggi pekerja, mereka pun menuntut kedisiplinan dan kerja keras. Untuk makan, tidur, hari libur,tanggung jawab kerja, ada di kontrak kerja. Tapi tidak kehidupan beragama.
Rata2 majikan di HK manusiawi, meski tak jarang beranggapan ritual agama masuk dalam area disiplin kerja. Sholat, berarti mengambil waktu kerja.
Apa yg terbayang di benak anda, seorang pembantu yg mengendap utk wudhu di wastafel dan sholat di kamar mandi? Air mata mereka bercucuran, mengingat kamarmandi adl tempat najis utk sholat. Sebagian mereka mampu mengkomunikasikan dg majikan, dan majikan mengizin kan sholat. Sebagian mendapatkan majikan yg keras.
Kita bisa mudah berkata: keluar saja. Rizqi dari Allah. Namun apa yg ada di benak mereka adalah $4100 gaji, $3000-$3500 dikirimkan ke tanah air utk orangtua, suami, anak.
Keterbatasan pendidikan dan skill membuat mereka tak mampu berbuat banyak selain patuh. Nikmatilah sholat kita yg dapat dilakukan kapanpun.
Mau dhuha, 2-8 rakaat. Mau qiyamullail lanjut tilawah. Mau sholat di awal waktu atau tengah waktu. Mau pakai mukena model apapun. Sebab kita bukan mereka, yg bekerja dari jam 06.00 hingga 00.00. Mengendap jam 01.00 dinihari, bertayamum sebab suara air di wastafel akan mencurigakan. Lalu menggelar secuil kain sebagai sajadah di bathtub.
Causeway Bay, HK the 4th day
===================
Dari Grup WA Pengurus LMI, posting oleh Juli Susanti
Image :
https://matairislam.files.wordpress.com/2012/01/tayamum.jpg
Bantu Selamatkan Satu Nyawa
Pagi itu saya berangkat pagi ke kantor. Kecepatan motor
antara 30-40. Santai. Masih pagi, tidak tergesa sampai kantor, kerjaan kemarin
sudah kelar semua. Sama sekali tidak ngebut sambil menikmati suasana pagi Kota
Madiun.
Waktu ambil ancang-ancang belok kanan kea rah kantor, sepeda
motor saya pasang lampu sign kanan, motor mulai ke tengah jalan utama, ada
mobil corolla merah maroon mendahului dengan cepat dari sisi kiri. Saya heran,
dari mana mobil tadi kok tidak terlihat dari spion saya. Akhirnya saya anggap
tidak penting. Biasa, mungkin dari gang kecil sebelah kiri jalan tadi.
Sejurus kemudian saya meliaht kembali mobil tua itu, ada
sesuatu yang janggal dan mengganggu pandangan. Pintu di sebelah pengemudinya
belum tertutup rapat. Sontak saya tancap gas mengejar mobil itu untuk
mengingatkan pintunya belum tertutup rapat.
Start saya dari kecepatan 30-40 membuat saya kesulitan
mengejar mobil yang memang melaju dengan cepat sejak awal. Sepeda motor saya
tetap saya pacu dan semakin dekat. Sambil melihat apakah jendelanya terbuka
atau tertutup. Kalau terbuka saya mudah mengingatkan, kalau tertutup tentu saya
harus berteriak, bunyikan klakson atau mendhului baru member tanda.
Ketika saya konsen denga gas motor saya, mata menyelidik ke
jendela pengemudi, mendadak sopirnya banting setir ke kiri, dan pintu yang tadi
belum tertutup rapat terbuka dengan cepatnya. Adegan berikutnya saya tidak
tahu, apakah si sopir terkejut atau sudah biasa dengan kejadian tersebut. Saya
tak perlu lagi mengingatkan orang itu untuk menutup rapat pintunya. Saya pelankan
motor saya, dan kembali ke jalur kantor saya.
Dalam sisa perjalanan ke kantor saya membayangkan apa yang
terjadi jika yang tidak tertutup sempurna adalah pintu belakang dan yang duduk
disana adalah anak-anak atau balita. Pasti akan terlempar keluar dan terjembab
di aspal jalan.
Sejak saat itu, setiap ada mobil yang pintunya menutup tidak
sempurna pasti saya kejar dan ingatkan, barangkali omongan kecil kita bias membantu
menyelamatkan satu nyawa di jalanan.
Himbauan :
1.
Tutup rapat mobil Anda dan kunci dari sentral
2.
Ingatkan pengemudi di jalan yang tidak sempurna
menutup pintu mobilnya
Trik Menutup Pintu. Rapat dan Tidak Berisik
Kadangkala kita mendapati rekan/teman/sodara ato siapalah menutup
pintu mobil dengan kencang2 sehingga gak enak didengar ketika kita
berada di dalam mobil ato bisa juga sampai menutup pintu 2-3 kali karena
kurang rapat. Nah kondisi2 tadi tersebut bisa terjadi karena mereka
menutup pintu dengan cara yang kurang pas. Nah yang betul itu gimana sih
???
Ketika hendak menutup pintu, berilah jarak sekitar 20-25 cm antara pintu dengan bodi mobil (lihat gambar). Jika jarak dirasa sudah cukup, tutuplah pintu seperti biasa (gak perlu sekuat tenaga). Dijamin deh dengan cara seperti itu pintu pasti tertutup rapat & enak di dengar di dalam kabin alias gak sakit di telinga :D dan yang pasti biqin pintu lebih awet :)
Pangongangan-Madiun, 23-10-2014
image dan trik :
Kisah Nyata : Hati-hati Dengan Es Teh Anda
Hari Ahad di bulan Oktober 2014 anak perempuan saya minta
makan di luar, mungkin menginginkan suasana makan yang berbeda. Bias jadi ingin
menebus kekecewaan pecan sebelumnya ketika kita muter-muter mencari sarapan
yang gagal. Sarapan yang diinginkan pecan sebelumnya sangat sederhana, Soto. Kebetulan
pekan sebelumnya semua penjual yang soto yang biasa kita lihat di jalanan
madiun tutup semua.
Jadilah Ahad pagi anak perempuan saya mengajak kembali
berburu soto. Kebetulan saya sangat mengantuk, dengan banyak alasan saya
teruskan tidur. Akhirnya anak saya
diantar istri makan soto di luar.
Setelah beberapa saat, anak istri saya kembali dan heboh
bercerita.....
“Bi.... tadi es tehnya ada jentik-jentik nyamuknya” Cerita
awal anak saya.
“Lho kok bisa, biasanya es teh kan tehnya dimasak, dan
jentik nyamuk tidak bias hidup di dalam es.”
“Kan es teh itu ada air teh, dikasih gula, ditambah air
putih, baru ditambah es”
“berarti yang bermasalahn air putihnya itu. Gitu juga kamu
minum?
“Ya enggak. Itu kan teh mbak yang makan di sebelahku, pas
mau minum sudah dekat mulut, kok kelihatan jentik-jentik.”
“Terus gimana mbaknya.”
“Mbaknya nggak jadi minum, malah marah-marah sama mas yang
jual soto.”
“Lha punyamu ada jentiknya apa tidak?”
“oh tidak. Jadi gini Bi... Masnya yang jual soto itu kan
sendirian, dia enggak jualan minum, Cuma sedia aqua gelas. Kalau ada yang minta
teh atau es teh dipesankan penjual sebelahnya. Lha mbaknya tadi dibelikan
Masnya soto di penjual bubur sebelah penjual soto. Kalau yang tak minum itu
dipesankan sama penjual pecel yang biasanya aku beli buat bekal ke sekolah.”
Memang jajanan di pinggir jalan tidak dijamin higienisnya,
tingkat kesehatan makananpun mungkin tidak begitu dipikirkan penjualnya. Tapi yakinlah
bahw tidak semua pedagang seperti itu. Pasti banyak pedagang yang peduli,
meskipun ingin keuntungan yang besar tapi masih memikirkan kesehatan makanan
yang dijual. Dan juga tidak jaminan rumah makan yang besar dan mewah pasti
terjamin kesehatannya.
Untuk itu penting mengetahui mana penjual baik yang menjual
makanan sehat berkualitas. Dan biasakan cek minuman Anda sebelum menikmatinya, bukan cuma es teh.....
Mojopurno, 23-10-2014
Mojopurno, 23-10-2014
Senin, 20 Oktober 2014
Jika Ditekan Dari Atas, Mengakarlah ke Bawah
"POHON KORMA"
Ada kata2 bijak kuno yang mengatakan bahwa " orang besar akan bertunas seperti pohon korma "
Pohon korma lazim dijumpai di Timur Tengah. Dgn kondisi tanah yg kering, gersang, tandus & kerap dihantam badai gurun yg dahsyat, hanya pohon korma yg bisa bertahan hidup. Tak berlebihan kalau pohon korma dianggap sebagai pohon yg tahan banting.
Kekuatan pohon korma ada di akar2nya. Petani di Timur Tengah menanam biji korma ke dlm lubang pasir lalu ditutup dgn batu. Mengapa biji itu hrs ditutup batu ? Ternyata, batu tsb memaksa pohon korma berjuang utk tumbuh ke atas. Justru krn pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tsb membuat pertumbuhan akar ke dlm tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon korma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yg menekan diatasnya.
"Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah."
Bukankah itu prinsip kehidupan yg luar biasa ?
Sekarang kita tahu mengapa Allah kerapkali mengijinkan tekanan hidup datang. Bukan utk melemahkan & menghancurkan kita, sebaliknya
Allah mengijinkan tekanan hidup itu utk membuat kita berakar makin kuat. Tak sekedar bertahan, tapi ada waktunya benih yg sdh mengakar kuat itu akan menjebol "batu masalah" yg selama ini menekan kita. Kita keluar menjadi pemenang kehidupan.
Allah mendesain kita seperti pohon korma. Sebab itu jadilah tangguh, kuat & tegar menghadapi beratnya kehidupan.
Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi pemenang2 kehidupan..
=======================
Dari Grup WA
Image :
http://www.mountainsoftravelphotos.com/Muscat/2006-07%20Muscat/Ruwi%20Muscat%20Mutrah/slides/Muscat%2003%20Mutrah%2003%20Date%20Palm%20Tree.jpg
Langganan:
Postingan (Atom)
Kategori Tulisan
Anak
(21)
Ceramah
(25)
Doaku
(3)
Gallery
(68)
Hadits
(20)
Herbal
(3)
Hikmah
(258)
I'tikaf
(5)
Idul Fitri
(27)
Inspirasi
(149)
Jualan
(3)
Kesehatan
(43)
Keuangan
(12)
Kisahnyata
(43)
Kultum
(147)
Lailatul Qadar
(2)
Lain-lain
(49)
management
(4)
Nisa'
(1)
ODOJ
(2)
Progress
(54)
prowakaf
(2)
Puasa
(182)
Quran
(17)
Qurban
(40)
Ramadhan
(322)
Renungan
(17)
Rumahkreatif
(6)
Rumahpintar
(8)
Rumahtahfidz
(18)
Rumahyatim
(6)
Sedekah
(47)
Share
(104)
Syawal
(5)
Tanya jawab
(2)
Tarawih
(4)
Tarbiyah
(166)
Umroh
(19)
Wakaf
(8)
Yatim
(7)
Zakat
(22)
Sering dibaca
- Obat Kanker yang 10.000X Lebih Kuat dari KemoTerapi
- Daftar Tempat Makan Di Madiun
- Apa Arti Kata "Dancuk"...
- Kisah Nyata : Hati-hati Ajarkan Motor-Mobil Pada Anak di Bawah Umur
- Sahabat Kita Yang Baik Akan Menolong Kita Di Akhirat
- 10 Amal yang Pahalanya Takkan Pernah Putus
- Kepada Donatur : Kisah Nyata - Kesalahan Kecil yang Dahsyat Akibatnya
- Kadal dan Sedekah
- Kepada Donatur : Mengintip Akheratmu Dengan Melihat Kehidupan Duniamu
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!