Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 02 Februari 2013

Tiga Pesan Moral dari Air

Air dihadirkan oleh Allah dalam kehidupan manusia sebagai rezeki (QS al-Baqarah [2]:22).  Namun, air tidak sekadar rezeki, ia pun menjadi ayat kauniyah, tanda kebesaran-Nya, yang perlu dibaca agar kita merengkuh pesan moral (QS adz-Dzariyat [51]: 20-21). Ada sejumlah pesan moral yang dapat dipelajari dari air.

Pertama, air itu menghidupi. Allah SWT berfirman, "Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup." (QS al-Anbiya' [21]: 30). Air menumbuhkan tanaman, menyuburkan tanah, bahkan mengalirkan oksigen dalam darah manusia. Di mana pun air berada, ia bermanfaat. Manusia pun selayaknya demikian. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain." (HR Ahmad).

Kedua, ia bergerak tanpa henti. Karena jika ia diam, pasti kotor dan keruh. Imam Syafii berkata, "Saya lihat air yang diam menyebabkan kotor. Bila dia mengalir, ia menjadi bersih. Dan bila tidak mengalir, ia tidak akan jernih. Singa bila tidak meninggalkan sarangnya, dia tidak akan pernah memakan mangsanya. Dan anak panah bila tidak terlepas dari busurnya, tidak akan pernah mengenai sasarannya."

Orang yang tidak memiliki aktivitas atau pekerjaan, pikiran dan hatinya kemungkinan besar akan  keruh dan kotor. Akibatnya, mata dan hatinya melihat secara negatif segala sesuatunya (suuzhan).

Ketiga, Air tak pernah bisa dipecah, atau dihancurkan. Bahkan, ia akan menenggelamkan benda-benda keras yang menghantamnya dan menghanyutkan. Ia hanya akan pecah saat ia mengeras, membeku. Inilah karakter dasar air, yakni mencair, mudah meresap, menguap, dan  kembali turun untuk menyejukkan.

Karakter cair ini berguna jika seseorang menghadapi masalah. Karena bila kita bersikap mengeras, membatu, maka kita mudah pecah, stres, gampang dilempar ke sana-sini, dan seterusnya dalam menghadapi samudera kehidupan.

Ketiga, air berpasrah diri (Islam) secara total pada tatanan (kosmos) alam.  Ia mengalir dari tempat tinggi ke arah yang lebih rendah. Ia menguap bila terkena panas, membeku jika tersentuh dingin, meresap di tanah, menguap ke awan, dan turun sebagai hujan. Ia kemudian menyatu di lautan raya, berpencar di sungai, kali, dan selokan.

Air mengikuti harmoni alam (sunatullah) yang digariskan Allah SWT. Harmoni alam itu tunduk dan patuh pada prinsip keseimbangan dan keadilan (QS al-Rahman [55]:7). Jika kesimbangan dirusak maka air pun protes. Air berhak atas tempat resapan. Jika tidak ada tempat resapan, air akan terus mencari tempat yang paling rendah.

Jika tak ada yang tepat sebagai resapannya maka terjadilah banjir. Banjir merupakan bentuk protes air karena tempat resapan serta jalan kembali ke lautan raya, tergusur oleh kerakusan dan keserakahan tangan manusia (QS ar-Rum [30]: 41).

Sudahkah kita seperti air, yang berpasrah, tunduk, dan patuh secara total pada Allah SWT? Sudahkah kita memelihara tatanan kehidupan secara adil? Wallahu a'lam bish shawab.


Sumber : 

image :

Image air yang lain : 

Mengobati Hati yang Galau

"Ustaz, akhir-akhir ini hati Bunda seperti terserang virus galau: tidak tenang, gelisah, makan tidak enak, bahkan tidur juga tidak bisa nyenyak. Sering marah-marah dan mudah emosi. Tolong nasihati Bunda, Ustaz ..!" keluh seorang  jamaah selepas halaqah Shubuh.

Rasanya keadaan ini lumrah terjadi terhadap siapa saja. Bahkan, boleh dibilang manusiawi. Setiap manusia pasti akan melewati fase spiritual yang fathroh (menyimpang) dari kelaziman ini. Sebenarnya banyak faktor mengapa keadaan fathroh ini bisa melekat begitu saja terhadap manusia. Salah satu di antaranya adalah ketidaksiapan hati dan tergerusnya akar tauhid.

Hati dengan wataknya yang labil (taqallub, seakar dengan kata qolbun, hati) seharusnya bisa ditundukkan untuk tenang atau tumakninah jika saja rangsangan di luarnya bersesuaian. Di antara rangsangan hati untuk bisa tenang, selalu diajak ingat kepada Allah, zikrullah. "Dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS ar-Ra'du [13]: 28).

Yang dimaksud akar tauhid adalah keyakinan yang sempurna kepada Allah bahwa semua keadaan terjadi atas izin dan pengetahuan Allah. Hati dan semua keadaan kita ada dalam pengawasan Allah. Tidak ada sedikit pun yang terlewatkan dari perhatian-Nya. Dia Maha Menatap dan Mahabijak. Mengapa tidak coba keluhkan di hadapan-Nya.

Pernah jamaahnya Ibnu Mas'ud RA mengeluhkan keadaan dirinya persis seperti Bunda di atas. Selepas taklim, jamaah tersebut merangsek ke hadapan sahabat Nabi yang mulia ini. Lalu Ibnu Mas'ud RA berpesan dengan tiga tempat yang harus didatangi.

Pertama, datangi majelis yang Alquran selalu diperdengarkan. Simak bacaannya dan jika mampu ikut bacaannya, niscaya kamu akan dapat rahmat ketenangan (QS al-Isra [17]: 82).

Kedua, datangi majelis ilmu yang para guru saleh menasihatimu dengan firman-firman-Nya dan sabda Nabi-Nya, niscaya ada tambahan ilmu yang mencerahkan. Al-'Ilmu nuurun, ilmu itu cahaya yang mencerahkan.

Ketiga, datangi alas sajadah di malam-malam munajatmu, niscaya keadaanmu meningkat dalam kedudukan yang semakin dekat dengan Sumber Ketenangan, Allah 'Azza wa Jalla (QS al-Isra [17]: 79).

Atas dasar itulah, "Cobalah Bunda mulai sekarang, sering mengeluh dan mengadulah kepada Allah, pemilik hati dan keadaan kita dengan belajar untuk istiqamah mendatangi ketiga tempat yang dipesankan Ibnu Mas'ud tersebut. Insya Allah ada ketenangan dan kebaikan yang dilimpahi keberkahan." Demikian pesan mengakhiri halaqah Shubuh di pagi itu. Wallahu a'lam.

Sumber : 

Image : 

image ust arifin yang lain:

Penyakit Itu Bernama Kebencian

Sebagai agama yang mengajarkan rahmatan lil alamin, Islam sangat menganjurkan bahkan mengajarkan kepada setiap pemeluknya untuk bersikap lapang dada tatkala mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan ideologinya. Hal ini penting, karenan mengingat, selam ini atau bahkan sejak beberapa ratus tahun yang lalu, berdasarkan penuturan sejarah yang perlu kita telusuri dan kaji lebih lanjut toleransi atau sikap menghargai perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah.

Islam, sebagai agama cinta damai, sangat mengecam tindakan anarkis dan represif yang akan menyebabkan ketimpangan social serta mencoreng atau merusak citra positif Islam. Tindakan agitasi dan provokatif ini telah banyak menimbulkan kegelisahan dan keresahan baik tingkat individu ataupun kelompok. Hal yang tampak nyata dari perbuatan represif ini adalah tulisan ataupun ucapan yang tidak ada acuan dan rujukan sedikitpun dari sumber aslinya. Sehingga pembaca awam- seperti saya – kadang mudah terpancing untuk melakukan tindakan serupa atas dalih agama (baca; perbaikan).

Islam – sekali lagi – mendidik serta menagajarkan kepada setiap pemeluknya untuk bersikap terbuka dan mau berlapang dada terhadap setiap perbedaan faham, madzhab, organisasi dan semacamnya selagi perbedaan tersebut tidak menimbulkan kekerasan dan kekasaran yang merimbas kepada ketidak-stabilan masyarakat. Perbedaan – dalam beberapa hal – merupakan ketetapan Allah azza wa jalla, sunnatullah, yang tidak mungkin dirubah sekalipun kita tidak menghendakinya. Di samping itu juga terdapat perbedaan yang memang ‘direncanakan’ oleh Allah untuk berbeda pendapat dan masih mungkin untuk disatukan dalam bingkai ukhuwah islamiyah.

Tidak jarang kita jumpai dan temui di sekitar kita – hanya karena perbedaan – bukan pembedaan, yang tidak sejalan dengan manhaj / metode yang kita anut, langsung kita nyatakan sesat, kafir, musyrik dan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan oleh insan beriman. Tidak cukup dengan dengan itu, tindakan brutal, agitasai dan konfrontasi tak dapat dihindari demi ‘menyelamatkan’ agama suci ini. Parahnya perbuatan itu kadang – bahkan sering – tanpa mendatangkan atau mengundag pihak yang diadili karena telah terbawa emosi yang meluap-luap. Sehingga yang terjadi kemudian adalah pembakaran rumah, mushalla dan bahkan menjarah setiap harta benda yang masih tersisa di dalamnya. 

Belajar kepada Musa & Harun
Sebagian kita berlaku demikian mengklaim karena al-Qur’an memerintahkan untuk ber-amar ma’ruf wan nahyu ani al-munkar. Sementara ayat dan surat yang lain seolah dikesampingkan. Tabyyun, mencari kejelasan, tak lagi diperhatikan karena untuk menyeterilkan agama ini dari kemusyrikan, kesesatan, kekafiran. Tindakan demikian malah bukan mencerminkan orang yang berpegang teguh kepada al-Qu’an dan as-Sunnah. Bahakn perbuatan demikian telah menginjak-injak nila-nilai kelembutan, keramahan, kesopanan yang sangat ditekankan oleh kedua pedoman diatas.

Bukti bahwa al-Qur’an mengajarkan berbuat lembut, sopan, santun namun tegas dan jelas adalah firman Allah jaala wa ‘ala ketika Dia memerintahkan kepada nabi Musa dan Harun untuk menyampaikan risalah-Nya kepada Fir’aun yang terkenal dengan kekejaman dan kebengisannya. Allah berfirman Pergilah kamu berdua (Musa-Harun) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Thahaa: 43-44). Ayat ini mempunyai kandungan yang sangat dalam dan tajam. Ha ini bisa dibuktikan kajian yang mendalam. Bukankah telah masyhur bahwa manusia yang paling sempurna kebengisan, kekejaman dan kesombongannya adalah Fir’aun laknatullahi alaihi? Bengis karena ketika melihat orang lak-laki yang tidak mau mengakui akan ketuhanannya ia bunuh. Kejam, karenan siksaan yang akan diterima oleh orang yang tidak mendukungnya akan sangat mengerikan. Dan sombong karena hanya ia yang telah mengaku sebagai tuhan.

Meskipun Allah azza wa jalla telah memberitahukan kepada nabi Musa dan Harun bahwa Fir’aun telah melampaui batas, Dia Yang Mahalembut dan Mahasantun tetap menghendaki agar kedua utusan-Nya itu menyampaikan risalah-Nya (mengingatkannya) dengan kata-kata dan kalimat yang lembut. Karena jika utusan-Nya tersebut berlaku kasar terhadap fir’aun yang terkanal dengan kekerasan dan kekasarannya, maka pasti ia (Fir’aun) akan semakin menentang dan tambah congkak. Meskipun kita tahu bahwa apa yang terjadi kemudian Fir’aun tetap pada pendiriannya (mengaku tuhan).
Cerita di atas juga selaras dengan perintah Allah al-A’dzam al-Akbar yang lain di yang berbunyi “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (an-Nahl: 125). Jika ayat sebelumnya mendidikan dan mengajrkan kita untuk berkata lembut, sopan dan santun, maka ayat ini justeru lebih spesifik lagi. Di dalam ayat suci ini Allah al-Karim menyuruh kita menyampaikan risalah-Nya dengan hikmah. Lalu apa hikmah itu?

Sebagian ahli tafsir berpandapat bahwa ia (hikmah) adalah teladan yang baik, perkaan yang lembut dan tindakan yang santun. Ada pula yang meafsirkannya dengan perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Sebagaian yang lain menjabarkan makna hikmah dengan perumpamaan-perumpamaan yang membangkitkan seseorang untuk berbuat baik. Perbedaan penafsiran tentang makna hikmah tersebut tidaklah penting untuk kita perdebatkan. Yang jelas esensi dari beberapa penafsiran tersebut bahwa dalam menyampaikan risalah Allah al-Halim dituntut adanya kelemah lembutan, kesopanan dan kesantunan tanpa melenyapkan atau menghilangkan nilai-nilai kebenaran dari amanah tersebut.

Di samping itu ayat tersebut juga menekankan bahwa jika terdapat perbedaan pendapat atau pemahaman dalam sauatu masalah, cara penyelesaiananya adalah dengan berdialog. Kalimat dan bantahlah mereka dengan cara yang baik merupakan perintah yang meniscayakan proses dialog dalam suatu masalah. Lebih dari itu dialog ini tidak beloh mengedepankan kekuatan otot seraya mata mlotot tanpa memberikan dalil yang qath’I, pasti dan sharih, jelas. Tidak ada gunanya jika hanya mengatakan ini tidak boleh itu tidak boleh tanpa memberikan alsan yang rasional dan logis. Pun demikian, nilai-nilai epistemologis dan ontologis serta aksiologis tidak boleh dikesampingkan hanya karena takut kehilangan pendukung dan pengawal.

Selanjutnya, di ayat dan surat yang lain Rabb al-Alamin berfirman “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Meskipun ayat di atas seruannya tertuju kepada laki-laki dan juga perempuan, namun ayat ini mempunyai makna yang sangat luas tak terbatas. Maksudnya adalah jika kita sebagai orang yang mengaku beriman sangat dilarang untuk menyalahkan orang yang tidak sefaham, sealiran, seaqidah dan sependapat dengan kita. Karena bisa jadi ia atau mereka lebih baik dari kita – selama orang atau kelompok tersebut bersaksi bahwa Allah jaal wa ala adal Rabb al-alamin dan Muhammad adalah sayyidul mursalin. Adapun makna jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Sementara panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

Iqra’ (Bacalah!!!)
Namun demikian, sepertinya ketiga ayat di atas – di samping ayat-ayat yang lain – telah difahami secara leterlek dan hanya diambil kulit luarnya saja tanpa ingin membuka inti sarinya. Kita seolah merasa benar sementara yang lain salah. Padahal ketika menghakimi, kita tidak berusaha mendatangkan orang yang kita adili. Serta merta kita bersorak-sorai menang dalam menentukan benar salah meskipun tanpa menghadirkan orang yang dianggap bermasalah. Sebenarnay semua itu merupakan bentuk kepandiran, kepengecutan dan keculasan yang di tambah lagi dengan kebencian belebihan tanpa ingin membuka lembar-lembar al-Qur’an yang dimuliayakan.

Buktinya masih banyak di antara kita ketika mendengar kata ini dan itu langsung mengecapnya atau men-stigma dengan kafir, musyrik, fasik, sesat dan sebagainya karena tidak sejalan dengan pemikiran kita. Seolah kebenaran itu hanya dan pasti ada di kita. Bukan yang lain. Dan secara tidak langsung kita mengatakan “Jika kalian mau masuk surge, maka mau-tidak mau harus bersama kami. Karena Tuhan telah menyediakan surga sepererti pesanan kami.” Terlebih lagi sikap yang kurang baik ini diperparah dengan kengganan kita membuka-buka lembaran buku yang masih tersimpan rapi di balik lemari. Padahal tujuan Allah al-Alim menurunkan iqra’ agar kita mau membuka, membaca, mengkaji dan meneliti dari sekian ilmu yang tak bertepi untuk kemudian kita amalkan setiap hari. Lalu masihkan kita menyimpan penyakit yang bernama kebencian itu??? Wallahu a’lam


5 Alasan Pria Tak Lagi Cinta

Sekalipun awalnya cinta, seiring berjalannya waktu perasaan cinta bisa memudar. Ketika dia mulai cuek, dingin, dan tak perhatian lagi, bisa saja ini pertanda bahwa si dia sudah tak cinta lagi. Tetapi, jangan buru-buru menuduhnya berselingkuh, karena ada beberapa alasan lain di balik memudarnya rasa cinta si dia.

1. Anda tak lagi ada dalam "zona-nya"
Pria punya penilaian yang sangat tinggi terhadap loyalitas. Ini membuat ia harus benar-benar merasakan bahwa Anda ada di sisinya, dan bisa menjadi tempat perlindungannya. Ketika menghadapi masalah pria membutuhkan seorang perempuan yang bisa membuatnya merasa nyaman. Jika ia mulai menarik diri dan kehilangan rasa cinta, bisa jadi karena ia merasa Anda tak lagi ada dalam zona-nya. Anda dirasa tidak mampu berempati atau tidak cukup memahami dirinya.

2. Merasa tidak cocok
Dalam hubungan, kecocokan dan kompatibilitas sangat dibutuhkan. Beberapa masalah yang dihadapi berdua saat berpacaran sebenarnya bisa menunjukkan apakah Anda berdua dapat saling mengisi. Pria bisa menilai ketidakcocokan dari berbagai hal, seperti topik-topik yang Anda bicarakan, aktivitas yang Anda berdua lakukan, atau sifat-sifat buruk yang Anda sembunyikan.

Mungkin si dia akan mengikuti saja semua hal yang Anda rencanakan, tapi diam-diam dia pun membuat penilaian mengenai diri Anda. Di mata orang lain pun, Anda berdua mungkin akan terlihat sebagai pasangan yang serasi. Namun pada akhirnya realita akan mulai terlihat. Semua perbedaan yang ada akan mulai terungkap, dan si dia mulai mundur perlahan.

3. Terlalu diatur
Sikap perempuan yang terlalu mengatur bisa membuat para pria muak. Hal itu akan membuat pria merasa dikekang, tidak bisa melakukan sesuatu sesuai kehendaknya, dan tentunya tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Apalagi, bila apa yang Anda kehendaki dari dirinya justru merupakan ekspresi kepribadiannya. Misalnya, mengenai cara berpakaiannya, atau potongan rambutnya. Belum lagi jika kemudian Anda juga mengatur segala tingkah lakunya. Bila hal ini tidak segera Anda sadari, si dia bisa kehilangan perasaan cintanya.

4. Dia tak lagi merasa dikagumi
Banyak terapis dan psikolog mengungkapkan tentang keinginan dan kebutuhan perempuan untuk dihargai, dan laki-laki untuk dikagumi. Seorang pria yang merasa bahwa dirinya tidak lagi menarik, atau dibutuhkan, perlahan-lahan akan mulai kehilangan minat dalam hubungan. Sebaiknya jangan terlalu memberi banyak tekanan pada pasangan. Jangan pelit memberikan pujian, misalnya ketika ia meraih pencapaian tertentu di tempat kerjanya. Atau, jangan terlalu merasa sebagai perempuan mandiri. Sesekali mintalah agar ia membantu Anda melakukan sesuatu, agar ia tetap merasa dibutuhkan.

5. Selalu pasang muka cemberut
Ini sering terjadi tiap waktu, dan Anda pasti sadar saat melakukannya. Tak salah jika Anda merasa kurang setuju dengan apa yang dilakukannya, tetapi bukan berarti Anda harus menunjukkan wajah sedih dan cemberut tiap kali bertemu dengannya. Misalnya, hanya karena salah perhitungan dengan waktu ia jadi terlambat menjemput Anda. Pria tidak bisa membaca pikiran Anda. Sampaikan saja apa yang mengganggu pikiran Anda. Kalau Anda tidak menyampaikannya, dan hanya memasang wajah masam setiap menyambut kehadirannya, ia pasti malas menemui Anda.


Sumber : http://female.kompas.com/read/2013/02/02/11000912/5.Alasan.Pria.Tak.Lagi.Cinta?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp

image : http://assets.kompas.com/data/photo/2008/10/06/113123p.jpg 


Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com