Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 02 April 2022

Menggapai Takwa di Bulan Ramadhan


Dalam surah Al Baqarah 183 dijelaskan tujuan puasa Ramadhan adalah untuk meraih derajat Takwa. Sebuah tingkatan tertinggi dan kemuliaan yang membahagiakan yang hanya dapat direbut oleh orang pilihan. Sungguh, kemuliaan seseorang tidak dipandang dari harta yang melimpah, jabatan yang menjulang dan wajah yang rupawan. Namun sangat ditentukan oleh nilai takwa di dalam dada. Itu sebabnya agar kita selamat mengarungi samudera dunia, kita harus memiliki bekal yang sempurna. Sebaik-baiknya bekal adalah bekal takwa begitulah Allah mengingatkan kita semua. Makanya dalam bulan Ramadhan ini terbuka lebar kesempatan untuk meraih derajat takwa tersebut. Lalu bagaimana makna dari takwa dan implikasinya dalam kehidupan nyata?

Secara bahasa, takwa dapat diartikan dengan hati-hati. Yah, hati-hati dalam segala gerak kehidupan. Dirinya berhati-hati dalam berkeyakinan, berkata, bersikap dan berbuat. Dengan sikap ini dirinya terpelihara dari perbuatan maksiat yang menghinakan dan bersemangat untuk berfastabiqul khairat. Mereka takut melakukan kemungkaran karena berakibat langsung pada dirinya baik di dunia ini maupun di akhirat sana. Oleh sebab itu hari-harinya diisi dengan kebaikan demi kebaikan. Mereka selalu bermuhasabah dan mohon ampun pada Allah dalam mempercantik diri. Orang yang bertakwa memiliki aqidah yang lurus, ibadah yang teratur, akhlak yang mulia dan kerja yang memesona. Mereka ibarat lebah yang hanya hinggap di tempat yang baik dan memproduksi sesuatu yang baik juga. Orang yang demikian itulah berhak memasuki surga nan indah dan memesona sebagaimana yang telah dijanjikan Allah dalam Kalam-Nya.


Untuk menggapai derajat takwa, tidak lah mudah-tidak bisa hanya mengandalkan puasa yang tak bermakna atau datang ke masjid untuk sekadar menyemarakkan malam Ramadhan sebagaimana pemahaman kebanyakan orang. Namun kita dituntut untuk memiliki keyakinan yang kuat, niat yang ikhlas, ibadah yang terencana dan usaha yang maksimal. Ibadah puasa yang dilakukan adalah ibadah yang sempurna, terhindar dari cacat yang merusak pahala puasa. Sepanjang hari dirinya mampu memenej waktu untuk membersihkan qalbu dengan tilawah Quran yang menyentuh. Dia berusaha menghatamkan Alquran dan berusaha memahami maknanya sebagai pedoman dalam kehidupan nyata.


Kualitas shalatnya diperbaiki, shalat dijadikan sebagai sarana untuk menyatakan cinta pada Yang Kuasa. Maka mereka tidak hanya mengandalkan shalat fardhu semata, berbagai shalat sunat lainnya seperti shalat dhuha, tarawih, witir, tahajud, rawatib dan shalat tasbih menjadi pilihan hati dalam menambah koleksi pahala. Selama Ramadhan, mereka berusaha menambah kepahamannya terhadap agama ini dengan menghadiri majlis taklim, pengajian malam, diskusi, membaca buku-buku Islam dan mengikuti siaran Islami. Luar biasa orang yang mendambakan taqwa berusaha mendapatkan malam lailatul qadar dengan I’tikaf sepuluh malam terakhir. Mereka menunaikan zakat fitrah dan menyantuni yang papa. Pokoknya sebulan penuh selama Ramadhan dimanfaatkan dengan maksimal dalam merajut benang-benang takwa.


Setelah Ramadhan amaliyah orang yang bertakwa bukannya berkurang apalagi hilang tanpa bekas. Akan tetapi justru semakin meningkat sebagai makna syawal yang dipahaminya. Orang yang bertakwa berjuang dengan susah payah untuk membuktikan ketakwaannya ba’da Ramadhan. Kebiasaan ibadah selama Ramadhan dilanjutkan di bulan Syawal sebagai bentuk kesuksesannya meraih derajat taqwa. Puasa syawal, tilawah Quran, memakmurkan masjid dan ibadah lainnya yang dibina selama Ramadhan tetap berlanjut. Demikianlah hakikat takwa yang menerangi kehidupan seseorang untuk meraih kemuliaan. Ayo mari kita gapai derajat takwa untuk menjadikan hidup bahagia dan indah.



Jalan Terjal Mempertahankan Takwa


Idul fitri merupakan hari spesial bagi umat Islam. Pasalnya pada hari itu kaum muslimin merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan amaliyah Ramadhan.. Semua kita berharap Ramadhan dapat mengantarkan kita pada derajat takwa. Derajat yang paling tinggi di sisi Allah yang memancarkan cahaya dalam menuntun hidup ini. Orang yang bertakwa akan berusaha secara maksimal dalam melaksanakan ketaatan pada Allah. Perintah Allah dilaksanakan dan larangan ditinggalkan secara konsekwen. Hidup dan kehidupannya hanya semata mencari ridho Allah sebagai bukti ikrar syahadatnya pada yang Maha Kuasa. Makanya, di bulan Syawal ini kita dituntut untuk membuktikan ketakwaan dalam bentuk peningkatan ibadah.

Agar derajat takwa selalu menghiasi diri dan mampu meneranggi hidup dalam menapaki jalan kebenaran. Apalagi di bulan Syawal yang identik dengan hari suka cita. Berbagai aktivitas silaturahmi dan mengunjungi tempat wisata menjadi pilihan banyak orang. Tak jarang justru dalam kegiatan tersebut menyebabkan seseorang lalai dan terlena. Ibadah yang telah dirasakan kelezatannya selama Ramadhan secara perlahan hilang dalam diri seseorang. Akibatnya kesholehan seseorang mulai redup dengan berlalunya Ramadhan. Sejatinya Syawal yang bermakna bulan peningkatan, harusnya ibadah kita juga semakin meningkat sebagai buah manis Ramadhan yang telah dinikmati. Di sinilah peran takwa sangat berguna dalam membuktikan kesuksesan Ramadhan kita.


Makanya ada lima jalan terjal berliku yang penuh tantangan yang kita harus lalui dalam mempertahankan derajat takwa dalam diri kita. Di katakan sebagai jalan terjal yang berliku karena jalan ini tak mudah dilewati, butuh perjuangan dan pengorbanan hebat dalam mencapai semua itu. Adapun jalan tersebut adalah. Pertama, jalan mu’ahadah yakni mengingat perjanjian dengan Allah. Sungguh, sejak dalam kandungan ibu kita, di saat ruh ditiupkan ke dalam jasad, kita telah berjanji untuk menyatakan bahwa Allah sebagai Rab dan Illah . Dalam QS. Al A’raf 172 dijelaskan, “ Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, “Betul ( Engkau Tuhan kami ), kami bersaksi”.


Begitulah perjanjian kita dengan Allah untuk menjadikan-Nya sebagai Tuhan Yang disembah. Dengan selalu mengingat perjanjian tersebut maka tentunya kita berusaha untuk selalu mematuhi segala ketentuan Allah dalam menapaki kehidupan ini. Kita berusaha melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai konsekuensi takwa dalam diri.


Kedua, jalan muraqabah yakni selalu merasa diawasi Allah. Sifat ini sangat kuat untuk dapat menghadirkan nilai takwa dalam diri seseorang. Orang yang selalu merasa diawasi Allah maka akan berhati-hati dalam hidup dan kehidupan. Mereka akan berpikir sebelum berucap, bertindak dan berbuat hingga berbagai maksiat dapat dihindarinya. Mereka merasakan keagungan Allah di setiap waktu dan keadaan dan juga merasakan kebersamaan di kala sepi atau ramai. Allah berfirman,” Yang melihat kamu ketika berdiri dan melihat pula perubahan gerak badannya di antara orang-orang yang sujud” ( Asy Syu’araa 218-219 )

Ketiga, jalan muhasabah yakni menghitung atau instropeksi diri. Menghitung diri merupakan salah satu usaha untuk selalu menghadirkan takwa dalam diri sendiri. Kita berusaha menghitung diri dan mengevaluasi amal kebaikan atau keburukan yang telah dilakukan. Dengan evaluasi diri, kita akan dapat mengetahui sejauh mana kebaikan yang telah kita lakukan dalam persiapan menghadapi hari kebangkitan. Dalam QS. Al-Hasyr 18, Allah berfirman, “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari akhirat, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”


Keempat. Jalan mu’aqobah yakni, berani memberikan sanksi pada diri sendiri. Ketika kita melakukan sebuah kesalahan maka kita harus mampu memberi sanksi atau hukuman pada diri kita sendiri. Apabila seorang mukmin melakukan kesalahan maka tak pantas baginya membiarkannya. Sebab membiarkan diri dalam kesalahan lambat laun akan menjadi kebiaasaan sehingga semakin sulit untuk meningalkannya. Makanya dengan keberanian dalam memberi sanksi, tentu sifatnya yang mubah dapat memberikan efek jera sehingga akan membuat diri kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Kelima, jalan mujahadah yakni, bersungguh-sungguh dalam beribadah . Untuk mendapatkan takwa kita harus bersungguh-sungguh dan optimal dalam beribadah. Tujuan utama dari setiap ibadah adalah meraih takwa seperti ibadah puasa yang telah kita lakukan . Mustahil kita akan meraih derajat takwa dengan ibadah yang sederhana dan tidak berkualitas. Kesungguhan seseorang dalam melaksanakan ibadah akan berimbas pada kualitas dan mutu ibadahnya. Makanya, di bulan Syawal ini kita harus mampu mempersembahkan ibadah terbaik dalam menggapai derajat takwa sebagai jalan mudah menuju surga. Balasan yang berharga bagi orang-orang yang bertakwa atas kesungguhannya dalam beribadah pada Sang Pencipta. Semoga Allah memudahkan langkah kita sekalipun harus melewati jalan terjal yang berliku.



Menggenggam Janji Syawal


“Hey, kenapa kau melihatku seperti itu?”

‘Deg’… Aku langsung menundukkan pandanganku dan menatap ujung sepatuku. Tatapan kagumku ternyata telah terbaca olehnya.

“Ah, tidak apa-apa, hanya saja senyummu begitu indah, sungguh.” Aku menjawab dengan lirih lalu terdiam kembali. Sudah seminggu ini aku selalu menghampirinya. Sekedar menatapnya di atas balkon rumah

atau mengamatinya sembari berjalan pelan itu sudah cukup menghibur laraku. Mungkin ia merasa risih dengan tatapanku yang aneh kepadanya. Sebenarnya banyak hal yang ingin aku sampaikan. Mulai dari kerinduan hingga kegundahan yang tak berkesudahan. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mengungkapkan itu semua kepadanya? Kegundahan kini menari-nari di kepalaku. Ada kata-kata yang terbenam dalam dasar hati namun sulit untuk terbit lagi. Ya sulit. Karena aku merasa, menyampaikan segala yang kurasa kepadanya sama saja dengan menyesali hal yang sudah terlewatkan atau mungkin sudah PERGI.


“Ada yang ingin kau sampaikan padaku?”


Aku terkejut bukan kepalang saat ia bertanya, entah mengapa seolah ia mampu membaca pikiranku. Aku menghela nafas panjang dan mencoba merangkai kata. Kata-kata yang terbenam di dasar hati itu bergemuruh kuat dan memaksa agar terbit lagi!


“Mau kah kau sampaikan salam rinduku kepada Ramadhan?” ujar ku sambil tetap menatap ujung sepatuku-lagi.


“Tentu… hanya salam rindu?” Wajahnya yang ramah seketika berubah menjadi dingin.


“Dan permohonan maafku.”


“Hanya itu? Tidakkah kau ingin bertemu dengannya lagi di tahun yang akan datang?” Aku terhenyak. Mataku mulai berkaca-kaca saat mendengar pertanyaannya.


“Tentu, aku ingin bertemu lagi dengannya, bercengkrama lagi seperti saat ia datang.” Tak terasa rinai dari mataku membasahi pipi. Perasaan bersalahku semakin dalam. Bagaimana tidak? Saat Ramadhan datang, aku benar-benar tidak menyambutnya dengan baik. Bahkan aku hanya sibuk sendiri dengan urusan duniawi hingga Ramadhan terlalu lama menunggu di pelataran. Bulan Ramadhan datang sebagai bulan Al Quran, bulan kebaikan, bulan pengampunan. Lantas tak banyak yang ku lakukan untuknya. Aku sungguh tidak memberikan segala yang terbaik untuknya. Aku lalai dalam menyambutnya, hingga akhirnya ia pulang dengan rasa kecewa di hatinya. Kini ia sungguh pergi, tapi aku berharap bisa bertemu dengannya lagi tanpa membuatnya merasa perih.


“Aku akan sampaikan salam mu kepada sahabatku, Ramadhan. Asalkan kau hapus air matamu dan berjanji untuk menghidupkan semangatnya di setiap bulan, tunggulah ia dengan ke istiqomahan mu hingga Rabb mu mempertemukan engkau kembali dengannya. Apakah kau bisa memegang janji ini?”


“In shaa Allah, aku akan tetap menghidupkan semangatnya di setiap bulan… In shaa Allah… aku akan berusaha. Terimakasih Syawal.”


“Berterimakasihlah kepada Rabbmu.”


“Alhamdullilah hi robbil alamin. Segala puji hanya milik Allah.”


Lalu aku kembali menatap Syawal yang kini tersenyum ramah kepadaku. Oh, andai aku bisa memeluknya. Tapi tanganku tak sampai menggapainya. Malam itu aku tersenyum di atas balkon rumahku, masih bersamanya. Menatap lengkungan indah di wajahnya. Menggenggam janji bersamanya.




Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal


“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.”
 (HR. Muslim).

Filosofi pahala puasa 6 hari di bulan Syawal setelah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan sama dengan puasa setahun, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya.


Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya:


1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.


2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.


3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Taala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.


4. Puasa Ramadhan – sebagaimana disebutkan di muka – dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ‘ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.


5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.


Sebaiknya orang yang memiliki utang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan utangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.


Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala pada bulan Ramadhan adalah disyariatkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya: ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.


Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga dan sahabatnya.



Rahasia 1 Syawal

Dengan datangnya 1 Syawal, otomatis bulan Ramadhan telah pergi. Pergi meninggalkan kita, untuk kemudian datang lagi di tahun yang akan datang. Kita tidak tahu apakah kelak akan bertemu lagi dengan Ramadhan, atau ternyata ini adalah Ramadhan yang terakhir. 


Banyak suadara kita yang sebenarnya ingin menikmati Ramadhan tahun ini, tetapi ternyata ajal segera menjemptnya beberapa detik sebelum memasukinya. Karenanya kita sangat bersyukur bahwa Allah swt. telah memberikan kesempatan kepada kita bisa bertemu dengan Ramadhan tahun ini.


Benar 1 Syawal telah tiba. Dan kita tidak serta merta gembira, karena di saat yang sama kita harus berpisah dengan Ramadhan. Perpisahan yang sangat mengharukan. Bayangkan selama Ramadhan kita telah mendapatkan suasana yang dalam, di mana kita dihantarkan kepada nuansa ketaatan yang tak terhingga. Nafsu yang selama ini diagungkan manusia, ternyata dengan Ramadhan, nafsu ini tidak berdaya. 


Setan yang selama ini sangat kuat menguasai manusia, ternyata dengan Ramadhan tersingkirkan. Kita bisa setiap saat membaca Al Qur’an selama Ramadhan, di mana di luar Ramadhan itu sangat sulit kita lakukan. Di malam hari kita selalu bangun sebelum fajar dan shalat subuh berjamaah di masjid, padahal itu sangat sedikit yang melakukannya di luar Ramadhan. 


Pun tangan kita terasa ringan berinfak selama Ramadhan, sementara di luar Ramadhan itu sangat berat dilakukan. Lebih jauh, kita bisa beri’tikaf -atau minimal selalu di masjid sepanjang malam- terutama pada 10 malam terakhir Ramadhan, dan kita tahu bahwa itu sangat jarang dapat kita lakukan di luar Ramadhan.


Berpisah dengan Ramadhan memang tidak dapat dibandingkan dengan perpisahan yang lain. Berpisah dengan Ramadhan adalah perpisahan dengan suasana ruhani yang sangat kental dan menguatkan iman. Itulah yang membuat airmata harus menetes. Menetes bukan karena kesedihan murahan, yang datang dari sentuhan emosional belaka. Melainkan menetes kerena kesedihan yang memancar dari gelora iman. Menetes karena takut bila setelah Ramadhan suasana keimanan itu melemah kembali tergerogoti dosa-dosa. Takut kalau lidah kita ini berat kembali bertasbih dan membaca Al Qur’an. Takut kalau malam-malam kita kembali diwarnai tawa dan hiburan yang melalaikan. Takut kalau hati ini kembali keras dan sulit menerima sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Karena itu kita berdoa, semoga kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun yang akan datang.


Tapi apapun, tanggal 1 Syawal telah datang. Kita harus menerima kenyataan. Hari Raya adalah hari kegembiraan bagi setiap yang beriman. Gembira karena telah berhasil melepaskan dosa-dosa selama Ramadhan. Gembira karena telah menang terhadap setan dan hawa nafsu. 


Karena itu kegembiraan ini jangan disambut dengan gelora nafsu belaka. Ingat bahwa setan seringkali masuk melalui nafsu makan. Karena itu, bila nafsu makan dibuka, setan selalu menang menguasai manusia. Oleh sebab itu, begitu Ramadhan pergi, pemandangan durjana seringkali begitu mudah bermunculan. 


Allah swt. dalam surah An Nashr mengingatkan, bahwa kemenangan tidak pantas disambut dengan tawa dan nafsu. Kemenangan harus disambut dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar. Benar kita harus menyebut kemenagan fitri ini dengan tasbih tahmid, tahlil dan istighfar. Dengarkan Allah berfirman: fasabbih bihamdika rabbika wastaggfir, innahuua kaana tawwabaa.


Oleh karena itu, 1 Syawal bukan hari pembebasan sebebas-bebasnya. Melainkan hari pertama kita mulai terjun ke medan pertarungan melawan hawa nafsu dan setan, seteleh sebulan penuh kita berbekal iman dan kekuatan ruhani. 


Karena itu kita harus menang. Kita harus kendalikan nafsu itu ke arah yang positif, bukan malah dikendalikan nafsu ke arah yang buruk. Kita harus bergegas dalam kebaikan-kebaikan seperti kita dalam suasana Ramadhan. Bila kita kalah berarti perbekalan kita selama Ramadhan tidak maksimal. Tidak sungguh – sungguh. Tidak sedikit dari saudara-saudara kita seiman, yang langsung KO justru pada tanggal 1 Syawal. Artinya, begitu mereka masuk bulan Syawal seketika itu mereka terperosok dalam gelimang dosa.


Nabi saw. tidak ingin kita kalah lagi. Itulah rahasia mengapa kita disunnahkan menambah puasa lagi minimal 6 hari di antara bulan Syawal. Nabi bersabda: bahwa siapa yang menambah puasa 6 hari di bulan Syawal, ia akan mendapatkan pahala puasa setahun, seperti pahala puasa yang didapat umat-umat terdahulu. 


Mengapa puasa Syawal? Ini suatau isyarat bahwa kita harus terus mempertahnkan diri seperti dalam suasana Ramadhan. Suasana di mana kita tetap dekat kepada Allah swt. Sebab seorang yang menahan nafsunya, tidak akan didekati setan. Bila setan menjauh maka malaikat mendekatinya. Bila malaikat mendekatinya otomatis ia akan semakin dekat kepada Allah. 


Ingat bahwa seorang yang dekat kepada Allah, ia akan mendapat keutamaan yang luar biasa: tidak saja doa-nya mustajab, melainkan lebih dari itu ia akan dijauhkan dari rasa sedih dan galau. Allah befirman: “alaa inna awliyaa Allahi laa khawfun ‘alaihim walaa hum yahazanuun (ketahuilah bahwa orang-orang yang dekat kepada Allah mereka tidak akan mendapatkan rasa takut atau kekhawatiran dan tidak akan pernah dirundung kesedihan).”


Terakhir, pada 1 Syawal kali ini marilah kita sama-sama membuka hati, buang jauh segala penyakit dengki dan hasud di hati, bersihkan jiwa kita dari berbagai beban penyakit, sayangi diri kita dengan meningkatkan iman bukan dengan memanjakan diri dalam dosa-dosa. 



Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook 

Keistimewaan Bulan Ramadhan


Bulan Ramadhan merupakan tamu agung yang Allah swt hadirkan bagi umatNya yang beriman. Keistimewaan ini dikarenakan hanya satu bulan di antara 12 bulan yang Allah ciptakan. Di dalamnya merupakan bulan yang penuh dengan sarana pembelajaran dan seruannya pun dikhususkan bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang tercantum dalam Alquran Surat Al-Baqarah: 183 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”


Tentunya Allah swt memiliki maksud tersendiri, mengkhususkan seruan untuk berpuasa hanya kepada orang-orang yang beriman. Agar kita mampu meraih gelar sarjana taqwa dan menjalaninya dengan penuh kekhusukan, maka kita perlu mengetahui keistimewaan bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Keistimewaan tersebut di antaranya:


  1. Syahrul Shiyam (Bulan Puasa)

Tidak ada bulan lain yang dicreate Allah swt secara utuh untuk berpuasa, selain di bulan Ramadhan. Bagi orang-orang beriman, tentu tidak akan melewatkan kesempatan emas yang satu ini. Karena semua amal ibadah sudah ditentukan pahalanya sesuai dengan apa yang ia kerjakan, tapi ibadah puasa Ramadhan pahalanya akan terus mengalir apabila puasanya untuk Allah swt.


Di bulan ini pula, apabila melaksanakan satu kebaikan pahalanya akan dilipatgandakan, barangsiapa yang melakukan ibadah sunnah pahalanya setara dengan ibadah wajib, barangsiapa melakukan ibadah fardhu maka pahalanya 70 kali lipat.


  1. Syahrul ‘Adzim (Bulan yang Agung)

Disebut bulan yang agung karena di Bulan Ramadhan ini berlangsung beberapa peristiwa agung, antara lain:

  1. Diturunkannya Alquran
  2. Terdapat malam Lailatul Qadr
  3. Berlangsungnya perang Badr
  4. Puncak dari peristiwa Fathul Makkah
  5. Terbukanya pintu surga dan dibelenggunya syeitan

  1. Syahrul Mubarak (Bulan Penuh Berkah)

Waktu-waktu sepanjang bulan Ramadhan bagaikan permata, yang begitu berharga. Doa orang yang berpuasa, langsung tertuju pada Allah swt tanpa perantara (apalagi di waktu berbuka puasa).


  1. Syahrul Nuzulul Quran (Bulan Diturunkannya Alquran)

Meskipun masih terdapat perselisihan mengenai tanggal diturunkannya Alquran, namun secara jelas dalam surat Al-Baqarah ayat 185 Allah swt menyatakan bahwa Alquran diturunkan pada Bulan Ramadhan.


  1. Syahrul Musawwah (Bulan Berbagi)

Rasulullah saw dikenal sebagai seorang yang dermawan. Bahkan lebih dermawan di saat bulan Ramadhan. Pada bulan ini pula, kesempatan berbagi kebahagiaan kepada sesama terbuka lebar, sehingga mampu meningkatkan tali persaudaraan antar sesama muslim.


  1. Syahrul Shabr (Bulan Kesabaran)

Pada bulan ini, manusia mendapatkan kesempatan pendidikan yang sangat berharga. Pembelajaran untuk mampu mengendalikan diri. Bukan hanya dari lapar dan dahaga, tapi juga menahan diri dari hawa nafsu dan perbuatan buruk. Karena balasan bagi orang-orang yang bersabar adalah Surga-Nya.



Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook 

Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, sepuluh hari terakhir Ramadhan.


Sebagian ulama kita membagi bulan ini dengan tiga fase: fase pertama sepuluh hari awal Ramadhan sebagai fase rahmat, sepuluh di tengahnya sebagai fase maghfirah dan sepuluh akhirnya sebagai fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”


Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”


Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama:


Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:

“اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك”

“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”


Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia meangakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Karena boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan.


Sepuluh akhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang sepuluh hari akhir Ramadhan ini.


Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan di duga turunnya lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadhan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah swt.

إنا أنزلناه في ليلة القدر

Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam kemulyaan.”

Allah swt. juga berfirman:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

“Bulan Ramadhan,adalah bulan diturunkan di dalamnya Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda -antara yang hak dan yang batil-.”


Dalam hadits disebutkan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan di dalamnya ada lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan seluruhnya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali ia benar-benar terhalang -mahrum-.”


Al qur’an dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan. Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadhan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi saw.:

“التمسوها في العشر الأواخر من رمضان“.

“Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”


Pertanyaan berikutnya, apakah lailatul qadar di seluruh sepuluh akhir Ramadhan atau di bilangan ganjilnya saja? Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

“التمسوها في العشر الأواخر وفي الأوتار”

“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”

“إن الله وتر يحب الوتر”

“Sesungguhnya Allah ganjil, menyukai bilangan ganjil.”


Oleh karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik di bilangan ganjilnya atau di bilangan genapnya. Karena tidak ada konsensus atau ijma’ tentang kapan turunya lailatul qadar.


Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Akan tetapi sekali lagi tidak ada konsensus pastinya.


Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” menyebutkan, “Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar.”


Ada yang berpendapat ia turun di malam dua puluh satu, ada yang berpendapat malam dua puluh tiga, dua puluh lima, bahkan ada yang berpendapat tidak tertentu. Ada yang berpendapat lailatul qadar pindah-pindah atau ganti-ganti, pendapat lain lailatul qadar ada di sepanjang tahun. Dan pendapat lainnya yang berbeda-beda.


Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan.

Apa yang disunnahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari akhir Ramadhan?


Adalah qiyamullail, sebelumnya didahului dengan shalat tarawih dengan khusyu’. Qira’atul qur’an, dzikir kepada Allah, seperti tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, istighfar, do’a, shalawat atas nabi dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Lebih khusus memperbanyak do’a yang ma’tsur:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْت إنْ عَلِمْت أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa beliau berkata: “Saya berkata: Wahai Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah lailatul qadar, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ‘anni.” (Ya Allah, Engkau Dzat Pengampun, Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya.” (Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani)


Patut kita renungkan, wahai saudaraku muslim-muslimah: “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.

Kami katakan kepadanya: “Barangsiapa menyembah Ramadhan, maka Ramadhan telah mati. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan pernah mati.”


Allah cinta agar manusia ta’at sepanjang zaman, sebagaimana Allah murka terhadap orang yang bermaksiat di sepanjang waktu.

Dan karena kita ingin mengambil bekalan sebanyak mungkin di satu bulan ini, untuk mengarungi sebelas bulan selainnya.

Semoga Allah swt. menerima amal kebaikan kita. Amin

تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال.



Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook 



Kategori Tulisan

Anak (21) Ceramah (25) Doaku (3) Gallery (68) Hadits (20) Herbal (3) Hikmah (258) I'tikaf (5) Idul Fitri (27) Inspirasi (149) Jualan (3) Kesehatan (43) Keuangan (12) Kisahnyata (43) Kultum (147) Lailatul Qadar (2) Lain-lain (49) management (4) Nisa' (1) ODOJ (2) Progress (54) prowakaf (2) Puasa (182) Quran (17) Qurban (40) Ramadhan (322) Renungan (17) Rumahkreatif (6) Rumahpintar (8) Rumahtahfidz (18) Rumahyatim (6) Sedekah (47) Share (104) Syawal (5) Tanya jawab (2) Tarawih (4) Tarbiyah (166) Umroh (19) Wakaf (8) Yatim (7) Zakat (22)
390552
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari Blog Miftah madiun langsung ke email anda!
 

Info Kesehatan

More on this category »

Tarbiyah dan Pendidikan

More on this category »

Inspirasi Hidup

More on this category »

Lain-lain

Image by ageecomputer.com